Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

Lebaran pertama ini aku berziarah ke kuburan Mamakku. Aku pergi bersama istriku, serta kedua adik perempuanku. Aku teringat peristiwa dua tahun yang lalu.
“razak, sekali-kali kau ziarahi kubur mamakmu” suruh ayah kepadaku.
“Nantilah yah, aku tak sempat, kerjaanku banyak” alasanku sambil mengetik pekerjaan kantor yang ku bawa pulang.
Setelah mendengar penjelasanku, ayahpun berlalu kembali ke ruang TV. Disana sudah ada kedua adikku dan ibu tiriku yang sedang menikmati acara TV. Ayah menikah lagi setelah mamak meninggal dunia 1 tahun yang lalu. Sebelum menikah Ayah sangat rajin ke kuburan Mamak. Namun setelah menikah 3 bulan yang lalu, Ayah tidak pernah ziarah ke makam Mamak lagi. Apa mungkin karena sudah menikah lagi dan mengurus istri barunya atau karena menjaga perasaan istri barunya saja. Entahlah! Tapi sudah beberapa hari ini Ayah memintaku untuk berziarah ke makam Mamak. Selama ini aku belu pernah lagi ke makam Mamak, mungkin karena aku terlalu sibuk mengurus pekerjaanku. Aku baru dua kali saja ke makam Mamakku. Pertama saat pemakamannya, kedua kali saat mengurus pembayaran penjaga kuburan yang menambahkan tanah diatas kuburan Mamak yang tanahnya turun.
Suatu hari aku lewat perkuburan dimana Mamakku dikuburkan. Sebenarnya tidak ada niat untuk lewat diarea itu. Berhubung jalan yang seharusnya aku lewati macet sekali dan ditutup karena ada mobil terbakar, sedangkan aku ada perlu dengan klienku.
Tiba-tiba aku ingin singgah ke kuburan ibuku. Aku membelokkan mobilku dan memakirkan didepan penjual bunga kuburan. Keluar dari mobil langsung disambut seorang gadis penjual bunga kuburan. Sejak saat itu, setiap hari aku mampir dan berziarah ke kuburan Mamakku.

==============

Suatu hari aku ketemu dengan Ayahku di kuburan. Entah kenapa Ayahku ziarah ke kuburan Mamak hari ini, mungkin dia rindu. Ayah sedang berdoa ditemani seorang wanita tapi bukan Ibu tiriku dan juga bukan adikku tapi aku mengenal baik ciri-ciri wanita itu, sepertinya aku mengenalnya. Seorang gadis cantik dan berjilbab jingga. Aku mendekati mereka.
“Assalamualaikum Ayah. Assalamualaikum Aisyah” ucapku lirih.
“Waalaikumsalam” jawab mereka serentak.
Ayah memandangku dan juga gadis yang kupanggil Aisyah. Aku hanya tersenyum sedikit malu dan salah tingkah.
Razak….razak….mengapa kau tidak bercerita tentang Aisyah?
Ayah berdiri dan memandang Aku dan Aisyah.
“Ayah tidak akan mengenal Aisyah kalau dia tidak mendatangi Ayah” kata Ayah lagi.
Aku pun memandang Aisyah.
“Maaf bang! Sebelumnya Ayahmu membeli bunga denganku tapi aku tidak mengetahui kalau bapak yang membeli bunga itu adalah Ayahmu. Aku baru sadar saat Ayahmu menziarahi kuburan ibumu bang” cerita Aisyah
Begitulah aku mengenang masa-masa bertemu dengan istriku. Terkadang aku merasa durhaka kepada Mamak. Justru aku mengunjungi kuburan Mamak setelah aku tertarik dengan gadis penjual bunga kuburan yang menarik hatiku. Hampir setiap hari aku menziarahi kuburan Mamak hanya ingin membeli bunga dari si gadis penjual bunga kuburan dan mengenalnya lebih dekat. Gadis itu yang akhirnya menjadi pacarku dan sekarang menjadi istriku.

Jakarta, 10 Agustus 2014
Fadly Rahman

Iklan

Agustus 20, 2014 Posted by | CERPEN, Uncategorized | Tinggalkan komentar

DIEGO

DIEGO

Namaku Diego dari Amerika Latin. Orangtuaku memberikan nama Diego karena mereka adalah penggemar Diego Maradona. Mereka berharap aku menjadi atlet sepakbola yang sukses seperti idolanya. Aku mencoba menggapai keinginan kedua orangtuaku menjadi pesepakbola profesional. Setelah lama dipesawat, akhirnya aku tiba juga dinegara yang kuanggap Negara kedua bagiku yang sudah kutinggal 2 tahun yang lalu.  Aku tak menyangka akhirnya aku kembali ke sini, kembali sebagai seorang turis.

Aku kembali terkenang peristiwa 4 tahun yang lalu, saat aku berangkat ke negeri yang penduduknya penggila bola. Betapa bahagianya diriku saat aku tiba dan disambut hangat pengurus Klub dan penggemar. Aku pun menandatangani kontrak yang pendapatannya cukup besar bagi aku dibandingkan yang aku dapat dari klub sebelumnya.

Sebulan dua bulan aku menikmati permainan ini. Gajiku dibayar tepat waktu oleh klub. Bulan ketiga gajiku mulai dibayar terlambat, begitu juga dengan bulan keempat. Alasannya uang sponsor terlambat cair. Aku mencoba memakluminya. Namun gaji bulan kelima sama sekali belum dibayar walau sebagai pemain professional, aku tetap bermain sampai liga selesai. Namun sangat disayangkan gajiku selama 6 bulan bermain masih belum cair. Akhirnya aku memutuskan tidak bermain dimusim berikutnya.

Sebulan pertama aku menunggu gaji cair tapi masih belum ada. Bulan kedua juga masih menunggu masih belum ada. Lama kelamaan uang tabunganku menipis. Sudah dua bulan ini aku menyewa apartemen untuk tinggalku, akhirnya aku memutuskan pindah ke rumah kost-kostan untuk lebih berhemat.

Aku terus berjuang hasil keringatku cair, aku dibantu teman-teman sesama pemain yang tergabung pada organisasi pemain sepakbola namun perjuangan kami belum mendapatkan hasil. Sampai suatu saat aku merasa lelah. Klub yang bermasalah denganku berganti pengurus. Pengurus yang lama sudah tidak memegang kendali klub. Aku pun berharap pengurus baru bisa menyelesaikan masalahku tapi sayang pengurus baru member pernyataan bahwa masalahku adalah masalah pengurus lama.

Uang tabunganku habis. Hampir setahun berjuang terasa sia-sia. Untung saja pak Ibnu pemilik rumah kostku mendukung perjuanganku. Dia mempersilahkan aku tinggal di kost-kostan gratis sampai masalahku selesai. Ada masalah lain yang aku hadapi, aku harus mencari uang untuk kehidupanku sehari-hari.

Teman-teman yang selalu mendukung, sekali-sekali mereka memberiku uang. Lama kelamaan aku tidak enak juga. Sedikit keberuntungan berpihak padaku. Lingkungan ditempatku tinggal ,membutuhkan petugas keamanan. Dibantu Pak Ibnu, akhirnya aku bisa menjadi satpam disitu. Mungkin aku adalah satpam bule pertama dinegeri ini.

Bermula dari satpam bule, masalahku yang sudah mulai hilang kembali muncul. Aku jadi selebritis mendadak. Media-media berebutan minta wawancara denganku. Kehebohan terjadi di negeri ini. Imbasnya, Klub yang bermasalah denganku kena sanksi keras tidak boleh berkompetisi selama 2 tahun dan aku pun dideportasi kembali ke negeriku. Uang yang menjadi hak ku terbayarkan dan aku pulang dengan gratis.

Jakarta, 26 Juli 2014

Fadly Rahman

Juli 26, 2014 Posted by | CERPEN | Tinggalkan komentar

AKU TERLAMBAT MELAMARMU

AKU TERLAMBAT MELAMARMU

Aku bernama Rasyid, sudah lama aku meninggalkan kampung halaman. Aku merantau ke ibukota Negara. Penyebabnya aku merantau karena masalah cinta. Sejak masa kecil, aku berteman dengan anak tetangga sebelah rumah.  Namanya Zainal dan mempunyai saudari yang bernama Zainab. Zainal setahun lebih tua dari ku sedangkan Zainab setahun lebih muda. Disekolah Zainal 1 kelas diatasku sedangkan Zainab satu kelas denganku. Sejak SD kami selalu bersama. Hampir setiap hari aku selalu bersama dengan mereka berdua.

Setamat SD, Zainal disekolahkan orang tuanya di Pesantren. Sedangkan Aku dan Zainab kembali bersama disekolah  dan kelas yang sama setamat SD dan SMP. Karena Zainal tidak sekolah bersama dengan kami, Aku pun menjadi penjaga setia Zainab. Keseharianku juga bersama Zainab. Kami selalu berdua setiap pergi ke Mal atau Plaza, kemana saja kami suka semasa remaja. Kebersamaanku dengan Zainab terus berlanjut sampai duduk dibangku kuliah.

Suatu hari Zainab tiba-tiba menelpon ke rumahku. Ibuku yang menerima teleponnya. Saat itu aku tidak ada di rumah, sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Zainab memintaku datang ke rumahnya. Setelah mendengar info tersebut, Aku langsung ke tancap gas ke rumahnya. Aku diminta untuk menunggu dihalaman rumahnya, tidak di ruang tamu, tempat biasa aku duduk santai dengan Zainab. Sepertinya Zainab ingin membicarakan hal yang sangan penting.

Sesaat suasana hening. Jantungku terasa berdegup kencang menunggu yang akan disampaikan Zainab. Tidak seperti biasanya seperti ini. Rasa kaget seperti bagikan disambar petir mendengar pernyataan Zainab. Pernyataan dia mengenai seseorang yang masih ada hubungan keluarga dengannya datang melamar langsung kepada kedua orang tuanya. Seorang pengusaha muda namun sudah duda. Istrinya meninggal dunia setelah melahirkan bayi kembar. Badan ini terasa lunglai tanpa tulang mendengarnya. Aku terduduk lemas direrumputan halaman. Zainab pun turut duduk bersamaku dengan tertunduk sedih.

Permintaan Zainab semakin membuat badanku bergetar dan keringat dingin. Aku tidak menyangka akan mengalami hal ini. Zainab memintaku untuk melamar dia hari itu juga. Dia tidak mau menikah muda dan tidak mau menikah dengan saudaranya itu tapi dia ingin aku yang menjadi suaminya kelak.

Apa mau dikata, walau selama ini aku tidak pernah mengungkapkan cinta dengan Zainab begitu juga sebaliknya, kedekatan kami sudah cukup meyakinkan keluarga dan teman bahwa kami sepasang kekasih. Demi cinta kepada Zainab, aku harus melakukan permintaan Zainab yakni melamar Zainab langsung dengan orang tuanya.

Kedua orang tua Zainab sudah duduk dihadapanku. Ruang tamu hening sesaat. Hanya Aku, Bapak Zainab dan ibunya saja yang ada diruangan itu sedangkan Zainab masuk ke kamarnya. Lamunanku buyar setelah Aku dikagetkan dengan teguran bapak Zainab. Perlahan-lahan ku sampaikan niatku

“Pak, Saya ingin melamar Zainab” kata ku sambil tertunduk menatap taplak meja bermotif bunga di meja rumah Zainab.

Raungan kembali hening.

“Rasyid, saya ingin bertanya denganmu” tanya Bapaknya Zainab memecah keheningan.

“Apakah kamu sudah tamat kuliah?” tanyanya lagi.

“Apakah kamu sudah ada pekerjaan untuk menghidupi anak saya” lanjutnya lagi.

Tidak ada pertanyaan lagi dari Bapaknya Zainab. Kedua pertanyaan itu sudah membuatku berpikir panjang. Aku permisi pulang dengan kedua orang tua Zainab tapi tidak permisi dengan Zainab. Tekadku sudah bulat, kerja sambil kuliah. Aku pindah waktu kuliah menjadi kuliah malam sedangkan pagi sampai sore aku kerja. Aku mendapatkan pekerjaan sebagai salesman motoris. Penghasilan yang kudapat sebagian bisa aku tabung dan dikumpulkan ,kelak bisa meyakinkan orang tua Zainab.

Empat tahun tiada terasa. Aku merasa sudah mampan. Sudah saatnya kembali ke rumah Zainab untuk melamarnya. Sesaat aku tersadar bahwa aku sudah 4 tahun pula tidak menghubunginya atau berkunjung ke rumahnya. Setiap ada telepon dari  Zainab selalu tidak aku terima dengan berbagai alasan. Alasanku saat itu aku bertekad membuat kejutan untuk dia dan keluarganya bahwa aku akan berhasil sesuai keinginan orang tuanya.

Siang itu aku sudah tiba di depan rumah Zainab. Ku ketuk pintu rumahnya perlahan-lahan. Ketukan ku pertama tidak ada respon walau aku sudah mengucapkan salam. Ketukan kedua sedikit ku keraskan, pintu perlahan dibuka.

“Rasyid?” seorang pria muda seumuran ku membuka pintu rumah. Dari wajahnya aku mengenalnya.

“Zainal” teriakku langsung memeluknya. Kami pun tertawa bersama, tertawa kebahagian akhirnya kami ketemu setelah begitu lama berpisah.

Pertemuan aku dan Zainal melepas rindu membuat aku lupa tujuan awalku. Tiada terasa sudah 2 jam aku ngobrol dengan Zainal. Obrolan kami terputus saat ucapan salam dari luar. Masuk anak perempuan kecil yang berlari-lari mendekati Zainal, dengan suara masih kurang jelas mencoba ngajak ngobrol Zainal yang hanya tersenyum lucu melihat anak perempuan itu.

“Nadia, Salam dulu om Rasyid” kata Zainal sambil menunjuk tangannya ke  arah ku. Anak perempuan kecil yang bernama Nadia itu pun melihatku dan tersenyum lucu. Langsung dia berlari kearahku dan mencium tanganku.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” Jawab ku dan Zainal serentak.

“Zainab!” Aku kaget melihat kedatangan Zainab.

“Rasyid!” Zainab juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihatku ada dihadapannya.

Lalu muncul seorang pria masuk ke dalam dengan dua anak laki-laki kembar.

“eh, ada tamu” sambil mengulurkan tangannya kearahku, Aku pun menyambut tangan itu dan menyalaminya.

“Rasyid, ini suamiku. Bang, ini Rasyid teman ku juga teman bang Zainal juga” ucap Zainab sambil memperkenalkan.

“Salam kenal Rasyid. Nama saya Arif. Zainab banyak cerita dengan saya tentang kamu, senang berkenalan dengan kamu” ujar Arif kembali mengulurkan tangannya tanda perkenalan.

Mendengar semua itu, aku terkejut setengah mati, ternyata kau sudah terlambat.

“Bang, salam dengan om Rasyid” Zainab menyuruh kedua anak kembar itu untuk bersalaman denganku.

“adik sudah salam dengan om Rasyid?”tanya Zainab dengan Nadia, yang ditanya mengangguk pelan.

Arif permisi masuk kedalam rumah, begitu juga dengan Zainal. Sepertinya mereka mengetahui hubungan ku dengan Zainab dimasa lalu.

“Ini anakku” kata Zainab sambil memeluk dan mencium Nadia.

“Kedua anak laki-laki kembar itu anak tiriku, namanya Hanif dan Hafiz” lanjut Zainab.

“Kemana aja kamu Rasyid? Aku mencarimu selama ini, tidak pernah ada beritanya, kamu pun tidak datang saat pernikahanku” tanya Zainab gencar. Aku hanya diam tapi hatiku tak diam, hatiku sudah kacau saat dia memperkenalkan suami dan keluarganya.

“Zainab, aku tidak pernah mendapatkan undanganmu” jawabku pelan.

“Aku selama ini mencari uang untuk melamar dirimu sebagai persyaratan bapakmu. Aku kerja pagi, kuliah malam hari. Sekarang aku sudah tamat kuliah dan uang yang aku kumpulkan sudah cukup melamarmu, dan pekerjaanku juga cukup menjanjikan untuk masa depan. Makanya hari ini aku datang kemari. Tapi  sayang aku sudah terlambat” lanjutku pelan.

Zainab terdiam mendengar penjelasanku. Suasana menjadi hening. Aku dan Zainab lama terdiam. Aku tatap wajah Zainab, aku lihat diwajahnya ada buliran airmata jatuh dipipinya.

“Zainab, aku pulang, mohon maaf kamu terlalu lama menunggu kabar dari ku”

Jakarta, 02 Maret 2014

Fadly Rahman

Maret 3, 2014 Posted by | CERPEN | Tinggalkan komentar

KETIKA CINTA BERSEMI DIUSIA SENJA

KETIKA CINTA BERSEMI DIUSIA SENJA

Syamsul berpidato dengan lantang, suaranya terdengar parau. Sudah berjam-jam dia berteriak memberi semangat para simpatisan kampanye partainya. Sebagai Politisi yang sudah makan asam garam perpolitikan Indonesia, dia sudah tau apa saja yang harus dilakukan selama kampanye.
Dia sudah mewakili partainya ke seluruh penjuru daerah di provinsinya termasuk sebagai juru kampanye Pemilihan Kepala Daerah.
Kali ini dia menjadi juru kampanye di daerah pemilihannya sendiri. Dia yang sudah tiga kali duduk sebagai anggota dewan. Persisnya dua kali duduk sebagai anggota Dewan tingkat kota dan saat ini dia duduk sebagai anggota Dewan provinsi. Namun kali ini, dia sedang berjuang untuk meningkatkan kedudukan dengan merebut kursi anggota dewan ditingkat Nasional.
Pada saat asik berorasi, tiba-tiba matanya tertuju kearah sosok wanita berjilbab yang dari tadi mendengar orasinya. Sepertinya dia pernah mengenal wanita itu. Syamsul terus melanjutkan orasinya, namun dia sudah mulai tidak kosentrasi, ada kalimat yang hilang dalam pikirannya. Syamsul kembali menatap wanita berjilbab itu. Iya, dia mengenalnya.
Wanita yang pernah singgah dihatinya beberapa puluh tahun yang lalu.
Wanita itu sadar bahwa Syamsul memperhatikannya terus. Wanita itu pun meninggalkan area kampanye. Syamsul terus menatap kepergian wanita itu. Tepukan dibahu dari salah satu tim suksesnya menyadarkan Syamsul.
Syamsul memberikan pengeras suara kepada yang lain. Lalu duduk dibangku yang memang sengaja disediakan untuk beristirahat.
Dia teringat saat duduk di Sekolah Menengah Atas. Pernah jatuh cinta dengan seorang gadis teman sekelasnya yang bernama Siti Nurtina atau sering dipanggil dengan sebutan Tina, putri dari seorang Hakim yang disegani karena ketegasan dan kejujurannya. Karena melihat latar keluarga keluarganya itu, semua keluarga Syamsul termasuk ayah dan ibunya setuju apabila Syamsul punya hubungan khusus dengan Tina.
Setiap pulang sekolah, Syamsul sering mengantar Tina pulang ke rumahnya. Teman-teman mereka mengetahui kalau Syamsul dan Tina punya hubungan khusus, tapi sepertinya Syamsul merasa mereka hanya berteman saja. Belum ada tanda-tanda bahwa Tina menyukainya. Seperti Tina perñah ungkapkan ke Syamsul bahwa dia hanya bersahabat.
Karena pernyataan itu, siapapun Laki-laki yang mendekati Tina dan mengharapkan cintanya, Syamsul tidak bisa melarangnya. Namun bagaimanapun juga dia tetap berusaha mendapatkan Cinta Tina.
Setelah Merka menamatkan sekolah menengah, Syamsul pun melanjutkan kebangku kuliah, sedangkan Tina tidak. Walau demikian Mereka masih terus berkomunikasi. Pernah suatu waktu Tina bertanya kepada Syamsul dan pertanyaan itu untuk pertama kalinya. Saat itu Syamsul sedang berkunjung ke rumah Tina dan saat itu Syamsul juga mengetahui dari kakak Tina bahwa Tina sudah dilamar orang tapi Tina minta waktu untuk berpikir. ‘Syam, aku ingin menanyakan sesuatu denganmu?”
Syamsul hanya mengangguk dan mendengarkan dengan seksama. “Menurutmu bagaimana dengan hubungan kita yang sebenarnya saat ini?”
Menurut Syamsul itu adalah pertanyaan yang sulit. Syamsul terdiam sesaat Lalu menjawab “Seperti hubungan yang kita jalani selama ini bahwa kita hanya bersahabat”. Setelah jawaban itu, Tina masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Sejak saat itu Syamsul tidak pernah bertemu lagi denga Tina. Pada saat perkawinan Tina, hanya Syamsul saja yang tidak diundang sedangkan teman-temannya lain yang satu sekolah dan sekelas diundang semuanya.
Namun kini, mereka ketemu kembali. Sudah lama dia mendengar cerita tentang Tina yang diusia pernikahannya sudah ditinggal suaminya selamanya. Suaminya yang Kepala Sekolah Madrasah Negeri dan juga seorang ustad meninggalkan Tina dengan dua orang anaknya. Sedangkan dia kini juga telah ditinggal Istrinya selamanya. Benih-benih cinta mulai bersemi kembali dihati Syamsul. Benih cinta yang bersemi kembali diusia senja.

Fadly Rahman

Jakarta, 17 November 2013

November 17, 2013 Posted by | CERPEN | Tinggalkan komentar

EYANG BUBUR

EYANG BUBUR

“Bubur….bubur…” seorang pria tua berteriak sambil mendorong gerobak buburnya. Dengan semangat pagi, teriakan itu membuat warga kampung keluar rumah. Warga sudah terbiasa dengan teriakan itu. Bubur ayam pria tua itu membantu ibu-ibu yang tidak sempat memasak sarapan untuk suami dan anak-anaknya yang akan berangkat kerja dan sekolah. Suami dan anak-anak mereka suka dengan bubur ayam eyang bubur. Warga selalu memanggilnya Eyang Bubur. Perawakan kurus giginya tinggal 2 di depan, kalau tertawa kelihatan kosong disisinya.

Nama eyang bubur sebenarnya adalah Mamat, karena dia penjual bubur, warga selalu memanggilnya Eyang Bubur. Sekarang Eyang bubur sudah mudah ditemui setiap saat. Warga kampung sudah bisa melihat secara langsung cara pembuatan bubur Eyang bubur yang enak itu.  Setahun yang lalu Eyang Bubur pindah ke kampung ini. Eyang Bubur beli rumah dari hasil jerih payahnya jualan bubur.

Setahun yang lalu sempat terjadi keributan karena Eyang Bubur mau pindah dan menetap. Pro Kontra terjadi disebabkan provokasi seorang preman kampung. Preman kampung tidak setuju kepindahan Eyang bubur dan menjadi warga kampung. Penyebab preman tersebut memimpin provokasi dikarenakan Eyang Bubur merebut pacarnya yang seorang pembantu di rumah jutawan kampung sebelah menjadi istri ke tiganya. Preman kampung didukung ibu-ibu yang selama ini membeli bubur Eyang Bubur. Mereka tidak menyetujui kelakuan Eyang Bubur yang beristri tiga.

Apa mau dikata, para bapak-bapak kampung tersebut mendukung Eyang Bubur dengan alasan bubur Eyang Bubur enak dan mereka menyukainya. Padahal alasan bapak-bapak membela Eyang Bubur karena mereka sangat ingin seperti Eyang Bubur, beristri banyak. Lurah kampung juga membela Eyang Bubur karena Lurah kampung memiliki istri dua.
Akhirnya Lurah Kampung membuat refrendum. Membuat pemilihan untuk menentukan nasib Eyang Bubur, apakah Eyang Bubur bisa tinggal di kampung itu atau tidak. Pemilihan berlangsung alot. Pemilih hanya dibatasi, hanya bapak-bapak dan ibu-ibu saja. Anak-anak hanya melihat saja pesta demokrasi di kampung itu.

Akhirnya Eyang Bubur menang tipis. Eyang Bubur berhak tinggal di Kampung itu. Eyang bubur membuat rumah empat petak. Masing-masing istri mendapat jatahnya. Eyang bubur menikah lagi dengan seorang janda di kampung ini dan menjadi istrinya yang ke empat.
Eyang Bubur masih tetap keliling kampung dengan gerobak buburnya. Ibu-ibu yang tadi menentang Eyang Bubur, tetap membeli bubur Eyang Bubur. Mau tidak mau mereka harus membeli Bubur Eyang Bubur karena Suami dan anak-anak mereka suka bubur Eyang Bubur.

Jakarta, 16 Juni 2013
Fadly Rahman

Juli 11, 2013 Posted by | CERPEN | | 1 Komentar

MENCARI TOILET

MENCARI TOILET

“Waduhhhh….sudah merasa tidak enak nih” Aku mencoba menekan perut yang sudah mulai terasa sakit. Setelah itu kutekan stir mobil dengan kuatnya. Ku coba alihkan pikiran ke hal-hal lain dengan harapan tidak ingat dengan sakit perut ini.

“Aku harus ke Toilet, tapi aku harus buru-buru. Berangkat ke Bandara setelah shubuh, pesawat terbang 90 menit lagi, harus segera check in tiket dan harus segera sampai ke bandara kalau tidak mau ketinggalan pesawat. Tapi urusan perut tidak mau kompromi. Aku harus buang hajat segera. Padahal sebelum berangkat aku sudah buang air besar mungkin karena kemarin aku makan banyak walau sudah dikeluarin masih ada sisa yang ingin dikeluarkan.

“Ada pom Bensin” Aku langsung mengalihkan kendaraan masuk ke areal pom Bensin. Aku langsung ke Toilet. Aku buru-buru membuka kancing celana, aku hidupkan air kran di toliet. “Ampunnnnn, airnya mati” Aku kancingkan celanaku lagi, terpaksa kutahan sesakku. Keluar dari toilet kebetulan bertemu karyawan pom bensin.

“Dik, kenapa airnya mati?” tanyaku gusar.

“Iya pak, pompa airnya sedang rusak” jawabnya

Tanpa basa basi aku langsung pergi dari Pom Bensin kembali melanjutkan perjalanan ke Bandara sambil menahan sakit perut yang tidak bisa kompromi. Perjalanan yang tidak biasa ini membuatku terburu-buru untuk tiba di bandara, hanya membutuhkan waktu 30 menit. Masuk area parkir bandara dan langsung ke parkiran menginap. Setelah memastikan mobil telah aman, segera menuju gedung bandara, yang pertama sekali yang dilakukan mencari toilet. Rasa ragu menghinggap dalam pikiranku. Aku tatap jam tanganku waduh waktu tinggal 45 menit lagi untuk terbang, saatnya check in. Kembali menahan sakit perut dan sedikit menari-nari dihadapan petugas tiket.

====================

Aku berlari-lari kecil setelah melewati pemeriksaan dari petugas bandara. Pastinya mencari terminal pesawat yang dituju dan khususnya toilet.

“Maaf mbak, pesawatnya masih lama terbang?” tanyaku pada petugas Airlines

“Sebentar lagi Boarding pak, kira-kira 10 menit lagi” jawabnya singkat

“Masih sempat saya ke toilet mbak?” tanyaku lagi. Petugas Airlines hanya mengangguk dan tersenyum

Tanpa ragu aku menuju toilet yang berada dibawah ruang tunggu dan langkahku terhenti saat membaca tulisan dibawah anak tangga “out of order” mohon maaf atas ketidaknyamanan anda, Toilet sedang dalam perbaikan.

Aku terdiam sesaat dan tersadar saat sakit perut kembali memaksa aku harus ke toilet. Tanpa pikir panjang, akupun keluar dari terminal ruang tunggu mencari toilet diterminal lainnnya. Akhirnya sampai juga ke toilet yang dicari dan tidak rusak. Namun kembali aku tidak percaya apa yang aku lihat. Antrian beberapa orang-orang untuk buang air besar cukup membuatku tidak mempercayainya. Aku mencoba bersabar menunggu giliran dan aku sudah tidak sabar lagi untuk menyelesaikan keperluan yang sangat mendesak ini.

“Tinggal 1 orang lagi” pikirku. Keperluan ku sepertinya harus ditunda lagi, terdengar pengumuman bahwa penumpang pesawat yang kodenya sama dengan pesawat yang akan menerbangkanku harus masuk ke dalam pesawat.

“Aku harus segera menuju ke pesawat” Kali ini aku berlari terburu-buru, kuatir ketinggalan pesawat.

Satu persatu penumpang naik kedalam pesawat, aku menatap toilet pesawat dengan mata sendu, dan aku harus kembali menunggu.

 

Fadly Rahman

Jakarta, 15 November 2012

November 16, 2012 Posted by | CERPEN | , , | Tinggalkan komentar

PENYESALAN MITA

PENYESALAN MITA

“Kakek sudah katakan jangan kamu pulang malam-malam terus” teriak Mahmud kepada Mita cucunya.

“Setiap hari kamu pulang larut malam, kemana saja kamu pergi?” lanjut Mahmud sambil mengacung-ngacungkan telunjuk tangannya ke Mita. Mahmud tidak habis pikir dengan Mita cucu satu-satunya itu, sejak masuk Sekolah Menengan Tingkat Atas bukannya semakin tinggi etikanya tapi semakin rendah etikanya. Setelah selesai pulang sekolah bukannya langsung pulang ke rumah tapi entah pergi kemana saja tanpa tujuan. Mita sejak lama ditinggal orangtuanya yang pergi menjadi Tenaga Kerja Indonesia di negeri Timur Tengah. Mahmud merawatnya sejak bayi bersama almarhum istrinya. Sejak Istrinya meninggal 3 tahun yang lalu, figur Ibu hilang dari diri Mita.

“Kek, kakek nggak usah melarang aku lagi, aku bukan anak kecil lagi” Mita yang dari tadi diam tiba-tiba menjawab omelan kakeknya. Mahmud cukup terkejut dengan jawaban cucunya itu.

“Kamu sudah berani kurang ajar dengan orangtua ya?” hardik Mahmud geram.

“Ayo…. ayo….ikut kakek” Mahmud menarik tangan Mita.

“Tidak mau…..Aku tidak mau, Aku tidak mau ikut” Mita menarik kuat-kuat dan berusaha melepas tangannya dari tangan kakeknya.

“Ikut kakek…..” Karena kalah kuat dengan kakeknya, akhirnya Mita tidak bisa melawan lagi. Mahmud menarik tangan Mita keluar rumah dan terus menarik tangan cucunya sepanjang tangan. Tanpa diduga Mita, Mahmud membawa Mita ke Kantor Polisi.

=====================

Media massa heboh dengan kabar menggemparkan yang menyayat hati. Media massa dari koran, majalah, infotaiment, radio dan televisi membahas masalah ini. Seorang kakek memperkosa cucu kandungnya sendiri berkali-kali. Visum telah membuktikan bahwa selaput dara cucu yang naas tersebut telah sobek. Karena sang cucu masih dibawah umur, masih 16 tahun, sang cucu yang naas disamarkan namanya. Sebutannya diberi media bernama mawar, ada juga yang memberikan nama melati dan juga memberi sebutan bunga.

Kakek yang cabul itu berinisal M, yang bernama lengkap Mahmud. Selain media massa, yang memberi perhatian penuh adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pemerhati perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Demo LSM meminta menghukum seberat-beratnya pelaku pencabulan dan pemerkosaan.

Mahmud tidak menyangka, keinginannya untuk memberi pelajaran dengan Mita dengan membawa dan menitipkan ke kantor polisi justru berujung pelaporan Mita terhadap dirinya. Mita melapor bahwa dia telah memperkosa cucunya, yang sialnya lagi ada bukti dari dokter dan laboratorium bahwa selaput dara Mita telah sobek.

Mahmud hanya termenung di balik jeruji besi yang penuh sesak dengan kriminal, dia tidak menyangka akan berurusan dengan hukum. Ada sesal dalam dirinya karena terlalu emosi kepada Mita akhirnya berurusan dengan polisi. Kasihan Mita pikir Mahmud. Pasti Mita dalam keadaan terguncang saat ini.

=====================

Sementara itu, Mita diwawancarai banyak wartawan dan didampingi LSM Peduli Perempuan dan Anak. Mereka kasihan dengan Mita yang telah menjadi korban kakeknya sendiri. Mita banyak bercerita tentang kehidupannya, ditinggal orangtua menjadi TKI, hidup dengan kakek dan juga neneknya yang telah meninggal dunia. Rasa sepi kakeknya yang ditinggal mati neneknya itu membuat nasibnya seperti ini.

Rasa simpati mengalir deras, untuk menghilangkan trauma Mita, banyak yang memberi bantuan. Menginap di Hotel berbintang, uang bantuan untuk masa depannya juga diterima. Simpati juga datang dari Politisi dan pejabat pemerintahan. Tetangga juga datang menghibur hati Mita. Mereka tidak menyangka bahwa Mahmud kakek Mita yang rajin ke Masjid dan sering menjadi pengurus Masjid melakukan hal yang dilaknat Agama.

“Mita….Mita….Mita….” merasa ada yang memanggil namanya, Mita mencari sumber suara itu. Ternyata yang memanggil pak RT yang juga tetangganya.

“Ehhh Pak RT, ada apa pak? Tanya Mita melihat pak RT berjalan tergesa-gesa sambil berlari kecil mendekati dirinya. Bu Sundari ketua LSM yang sedang bersama Mita dan sedang diwawancarai wartawati media Infotaiment menghentikan wawancaranya.

“Ada apa pak RT? Sepertinya ada kabar yang mau disampaikan ke saya?” tanya Mita yang perasaan mulai tidak enak.

“Ada kabar buruk Mita” ujar Pak RT

“Kabar apa pak?” Tanya Mita yang makin kuatir

“Kakekmu meninggal dunia!” Kata Pak RT lagi

“Apa?” Mita terkejut setengah berteriak, Mita mulai menangis kencang. Bu Sundari langsung menghampiri Mita dan mencoba menghibur Mita yang masih menangis kencang. Kamera Infotaiment yang tadi mati kembali dihidupkan menyorot suasana ruangan itu.

“Apa yang terjadi dengan kakeknya Mita pak?” tanya Bu Sundari

“Info dari Polisi, Pak Mahmud meninggal dunia karena ditendang dan disiksa oleh Napi lain yang tidak senang dengan Pak Mahmud yang memperkosa cucunya sendiri” jelas pak RT

“Sebelumnya Sel Pak Mahmud sudah dipisahkan dengan tahanan yang lain, sudah ada tanda-tanda penghuni tahanan tidak senang dengan Pak Mahmud, kejadian Naas itu terjadi saat Pak Mahmud diluar sel saat selesai berolahraga pagi, Pak Mahmud hendak menuju ke kamar mandi” lanjut Pak RT

“Ternyata pak Mahmud dibalas Tuhan melalui tangan orang lain” Kata Bu Sundari menghela nafas

“Kakek tidak bersalah……kakek tidak bersalah…..Akulah yang bersalah” tiba-tiba Mita berteriak. Bu Sundari dan Pak RT menatap Mita tidak mengerti maksud Mita. Sorotan kamera Infotaiment langsung menyorot ke Mita

“Aku memfitnah kakek….Kakek tidak pernah memperkosa diriku….Aku saja yang sudah tidak benar. Aku melakukan hubungan seks bebas dengan pacarku. Setiap hari Aku pulang malam, kakek sudah melarangku jangan pulang larut malam tapi aku tetap melakukannya. Kakek membawa ke kantor polisi agar aku diberi pelajaran tapi justru aku menfitnah kakek yang telah memperkosa aku” Mita tertunduk menangis semakin keras. Bu Sudarti, Wartawati dan Pak RT hanya saling memandang. Tukang Kamera yang menyoroti Mita mulai menurunkan kameranya perlahan-lahan dan menghebuskan nafas beratnya. Mereka tidak pernah menyangka kalau mereka sudah keliru.

Fadly Rahman

Jakarta, 09 Oktober 2012

Oktober 9, 2012 Posted by | CERPEN | , | 1 Komentar

GOOD BYE MARIA

GOOD BYE MARIA

Hari ini aku terpaksa tidak masuk kerja. Hari ini hari penting dalam hidupku. Pria pujaan hatiku akan kembali ke kampung halamannya, Negara Kota Singapura. Ingat dua tahun yang lalu ketika aku menjadi receiptionist. Masih dibenakku, waktu itu beberapa siswa yang baru lulus dites untuk kerja padahal aku belum punya ijazah, dan aku salah satu yang terpilih dari 3 siswa dan aku terpilih jadi receiptionist.

Baru beberapa hari bertugas menerima tamu kantor, suatu hari ada dua orang asing yang datang ingin bertemu dengan pak Edi manager personalia yang juga atasanku. Ternyata kedua orang tersebut adalah mahasiswa yang akan magang di perusahaan ini, kebetulan dosen mahasiswa tersebut adalah teman baik pak Edi.

Keduanya adalah mahasiswa dari Singapura. Salah satu bernama Arafat berkulit hitam keturunan India, melayu dan Jawa, sedangkan yang satunya lagi berkulit putih, mata sipit yang bernama Jimmi Chan yang ingin dipanggil Chan bukan jimmi.  Aku perkenalkan namaku Maryam tapi dia setelah itu dia lebih sering memanggilku dengan nama Maria. Mungkin dia salah dengar atau aku yang salah ucap sehingga Chan salah memanggil nama. Chan sangat menyenangkan menurutku. Janjiku dalam hati, aku akan mengenal Chan lebih dekat, bercerita pengalaman dan jalan-jalan bersama menyusuri kota Jakarta yang belum Chan ketahui.

Tanpa diduga, keinginanku itu tercapai. Bermula saat istirahat aku sedang mendengarkan lagu Fall Out Boys yang berjudul Thank’s for the Memories. Kebetulan Chan lewat didepanku, dia mendengar lagu itu, lalu diam sesaat dan menikmatinya. Aku bertanya pada Chan, “do you like this song mr Chan? Chan menjawab “Yes, I Like That” dan menjelaskan makna lagu itu, lagu yang berisikan kerinduan Cowok dengan ceweknya. Setelah kejadian itu, Aku dan Chan selalu bersama.

===================

“Gus, please bantu gue, abseni gue, hari ini sedang nemani sidia, minggu ini gue nggak ikut kuliah” tulisan bbm ku meluncur ke BB Agus.

“Memangnya Nape die? Sampe Loe nggak kuliahi?” tanya Agus

“Chan akan pulang ke Singapura, minggu ini adalah minggu terakhir dia” jawabku

“Sudah selesai masa magangnya” sambungku

“Nape ditemanin? Biarin aje” kata Agus lagi

“Dia itu temanku Gus” Jelasku tegas

“Teman tapi seperti Pacar” kata Agus

Setelah itu tidak ada lagi BBMan antara Aku dan Agus. Aku lebih sibuk dengan persiapan kepulangan Chan. Dan Aku berharap Agus memenuhi permintaanku. Agus sebagai teman sekelasku dan juga sahabat baikku. Aku sering curhat dengannya mengenai Chan. Agus yang tau agama, selalu menasehatiku agar aku berhati-hati berhubungan dengan Chan. Katanya Aku dan Chan berbeda agama. Kalau diseriusin pasti tidak mungkin, harus salah satu yang mengalah. Setiap Curhat yang terkadang menjadi perdebatan, selalu Aku akhiri dengan kata-kata bahwa Chan adalah teman kantor saja.

===================

Hari ini, Pria pujaan hatiku akan pergi meninggalkanku. Kemacetan lalu lintas Jakarta, tidak akan menunda keberangkatannya ke Singapura. Rasanya cepat sekali waktu berlalu. Satu setengah jam perjalanan menembus kemacetan, taksi yang membawa kami akhirmya sampai juga di Bandara Soekarno Hatta.

Aku terpaku menatap Chan. Ku lihat punggungnya yang akan ku rindukan. Cukup banyak Chan membawa barang-barang pribadinya, Chan terlihat sedikit kerepotan.

“Maria” panggil Chan membuyarkan lamunanku. Aku menghampiri Chan yang sedang menatapku sendu. Chan memelukku dengan erat dan kemudian mencium keningku seakan menandakan bahwa dia akan pergi lama.

“Good Bye Maria” bisik Chan perlahan. Bulir-bulir air mata jatuh perlahan dipipiku. Kubiarkan jatuh begitu saja, seakan air mata ini ingin ikut bersama Chan. Alunan lagu Thank’s for the Memories yang dinyayikan hatiku menutup kisah kasihku.

Jakarta, Minggu, 03 Juni 2012

Juni 3, 2012 Posted by | CERPEN | Tinggalkan komentar

CEWEK YANG MIRIP AMELIA

CEWEK YANG MIRIP AMELIA

“Gila! Benar-benar gila! “ teriak Arman

“Siapa yang gila?” tanya Jimi

“Amelia, siapa lagi “jawab Arman masih berteriak

“Memangnya ada apa?” tanya Jimi penasaran

“Amelia jalan dengan cowok lain”jawab Arman gusar

“terus hubungannya dengan kamu apa?”tanya Jimi lagi

“tidak ada hubungannya dengan ku tapi selama ini dia selalu curha kalau dia cinta dengan cowoknya” jawab Arman sedikit kikuk. Wajar Arman sdikit membela cowok Amelia karena cowoknya Amelia adalah teman satu kuliahnya dulu.

“kalau tidak ada hubungannya, jangan kamu pikirkan” ujar Jimi sambil melirik ke arah Arman

“Jangan-jangan kamu cemburu ya?”kata Jimi dengan tersenyum  kecil

“ehhh…bukan…bukan begitu, maksudku….” Arman tidak bisa berkata apa-apa lagi

“sudahlah, bisa saja cowok itu adalah saudaranya yang baru pulang dari luar neger atau baru datang dari kampungnya “jelas Jimi menenangkan temannya itu.

==================

Pagi ini Arman datang lebih cepat ke kantor. Kebetulan Arman ketemu Amelia di ruang absensi. Seperti biasa Amelia dan Arman saling sapa. Kejadian kemarin yang membuat Arman kesal melihat amelia jalan bersama dengan seorang cowok,  sudah dilupakannya. Arman meyakinkan diri kalau cowok itu adalah saudaranya Amelia seperti yang dijelaskan Jimi kemarin.

“Mel, kemarin aku melihat kamu di Mall” ujar Arman sambil mengejar Amelia yang sudah berjalan lebih dahulu setelah mengisi Absensi.

“benarkah?” Amelia tetap berjalan sedikit cepat

“Kemarin aku tidak merasa ke Mall” ujar Amelia melirik Arman sambil tersenyum

Arman berhenti dan hanya berdiri tak percaya dengan jawaban Amelia, dan dia yakin Amelia sudah berbohong.

====================

Hari ini kembali Arman melihat Amelia jalan dengan cowok yang sama. Perlakuan Amelia dengan cowok itu tidak seperti perlakuan terhadap saudara tapi sebagai seorang kekasih. Kali ini Arman tidak diam begitu saja, Arman mengejar Amelia namun keburu masuk ke dalam lift.

“Sial” maki Arman

====================

Rasa penasaran Arman memuncak. Dia merasa dipermainkan dengan keadaan ini. Sudah dua kali dia ketemu dengan Amelia bersama cowok itu. Sore ini, Arman mengajak Amelia makan malam bersama, ikut juga Jimi. Arman akan membuktikan bahwa cewek yang dia lihat di Mall adalah Amelia.

Mereka makan malam di Restoran Sunda, dari rumah makan ini Arman bisa melihat ke berbagai penjuru Mall. Dia yakin malam ini, cowok yang bersama Amelia dua malam terakhir akan datang ke Mall ini menemui Amelia.

Baru duduk di restoran tersebut, Arman kaget dan dia melihat sosok cowok yang bersama Amelia kemarin. Cowok itu sedang duduk  bersama teman wanitanya yang membelakangi mereka. Arman pura-pura tidak mengetahuinya. Paling sebentar lagi cowok itu menghampiri Amelia dan dia dapat membuktikan ucapannya kepada Jimi. Namun begitu kaget Arman saat cewek yang bersama cowok tersebut sekilas melihat arah ke belakang.

“cewek itu mirip kamu Amelia” ujar Arman sedikit berteriak. Amelia dan Jimi langsung menoleh ke belakang.

“yang mana man?” tanya Jimi.

“itu yang bersama cowok yang pakai kaos hitam” tunjuk Arman. Karena sedikit teriakan dan tunjukan dari Arman, cowok yang ditunjuk mengadahkan kepalanya begitu juga cewek yang bersamanya melihat ke belakang. Amelia kaget, begitu juga dengan cewek itu. Mereka semua kembali duduk ke tempa mereka semula karena menjadi perhatian pengunjung yang lain.

“Nah itu Amelia, saya kira cewek itu kamu” jelas Arman nyengir.

“itu menurutmu, harusnya bisa membedakan aku dan dia. Perhatikan saja penampilannya berbeda. Aku lebih suka menggunakan celana panjang sedangkan dia pakai rok mini, dia senang pakai make up sedangkan aku dengan penampilan biasa saja” terang Amelia sedikit kesal karena disamakan dengan cewek itu. Jimi yang mendengar hanya tertawa kecil sedangkan Arman bengong, seharusnya dia dari kemarin memperhatikan perbedaan mencolok dari cewek yang mirip Amelia dan Amelia sendiri.

Mei 6, 2012 Posted by | CERPEN | Tinggalkan komentar

PERTEMUAN

PERTEMUAN

Bandara Polonia terlihat ramai hari ini. Sepertinya banyak orang-orang Medan dan sekitarnya pergi berlibur diluar Sumatra Utara. Harap maklum bulan ini bulannya anak-anak sekolah liburan. Jayadi tergesa-gesa berjalan menuju pesawat yang akan menerbangkannya ke Jakarta. Sampai didepan pintu pesawat, dia disambut seorang pramugari cantik yang mengucapkan salam selamat datang dan menanyakan nomor tempat duduknya.

Pramugari itu mempersilahkan Jayadi untuk masuk kebagian tengah pesawat. Ada yang aneh dari pramugari itu. Dia sedikit canggung terhadap Jayadi. Memang sekilas Jayadi merasa mengenal wanita itu walaupun wajahnya di polesi make up yang tebal dan gincu  yang menghiasi bibirnya yang tipis.

Pintu pesawat mulai ditutup. Pramugari lalu lalang memeriksa kesiapan penumpang satu persatu. Rasa penasaran Jayadi makin memuncak. saat Pramugari itu lewat di sampingnya, tatapan mereka saling beradu. Pramugari itu berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat seorang pramugari malu-malu melihat penumpangnya.

Saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Pembagian makanan dan minuman kepada penumpang. Ini adalah kesempatannya untuk menanyakan nama pramugari itu. Sepertinya Jayadi harus memendam keinginannya itu. Pramugari yang diincarnya tidak melayaninya tapi melayani di kelas Bisnis saja.

=========================

Pesawat mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Pramugari itu belum menampakkan wajahnya yang cantik. Terakhir Jayadi melihatnya, dia berada dibagian depan. Jayadi mempersiapkan segala perlengkapannya untuk turun dari pesawat ini. Perasaannya mengatakan, dia harus mengetahui pramugari yang sepertinya Jayadi mengenalnya. Ia memutuskan berjalan keluar melalui pintu depan walaupun seharusnya dia lebih dekat keluar melalui pintu belakang.

”Terima kasih pak! Selamat jalan ” dua orang pramugari mengucapkan salam kepada penumpang.

”Terima kasih Kembali!” Jayadi membalas salam mereka sambil menghentikan jalannya dan memandang salah satu pramugari. Wajah pramugari yang dipandanginya langsung tertunduk sedangkan temannya hanya tersenyum sambil melihat Jayadi yang sedang menatap tak berkedip. Jayadi meminggirkan tubuhnya agar tidak mengganggu penumpang lain yang mau lewat.

”Maaf! Boleh saya bertanya! Jayadi membuka perbicaraan.

”Iya Bang Jaya! Jawab pramugari itu dengan lembut. Jayadi terkejut dan perasaan gembira dirinya dipanggil dengan sebutan Abang bukan bapak.

”Apa kita pernah saling kenal?” tanya Jayadi dengan penasaran

”Iya. Saya Adik kelas bang Jaya saat kuliah dulu” pramugari itu menjelaskan dan wajahnya sudah tidak tertunduk lagi

”Ooo… makanya saya merasa kenal dengan kamu. Tapi saya lupa namamu”

”Nama saya Dewi”

”Dewi? Jayadi diam dan mencoba memikirkan nama itu.

”Saya tidak bisa mengingatnya!” Jayadi memadang pramugari itu, suasana didalam pesawat sudah tidak ada penumpang.

”Iya. Hanya saya mengingatnya! Dewi  menggapit tangan Jayadi dan mengajaknya duduk dikursi pesawat.

”Waktu saya diplonco, abang sebagai Koordinatornya” Jayadi mengangguk, dulu dia memang aktif diorganisasi kampus.

”Waktu itu abang membela saya, saat kakak senior berlebihan memplonco saya” Dewi  menjelaskan panjang lebar.

”Saya tetap tidak mengingatnya, karena banyak mahasiswi yang saya plonco.” Jayadi memegang kepalanya yang pusing memikirkan masa lalu saat kuliah dulu.

”Kamu sudah menikah? Tanya Jayadi

”Belum!” Jawab Dewi cepat. Wanita cantik itu tidak menyangka mendapatkan pertanyaan seperti itu.

”Abang sudah menikah? Dewi balik bertanya sambil menundukkan wajahnya.

”Belum juga” Mendengar jawaban itu. Ada kelegaan di perasaan Dewi.

”Kenapa belum bang? Tanya Dewi 

”Kalau kamu kenapa? Jayadi kembali bertanya. Dewi merasa tersudut dia pun tidak bisa menjawab dan hanya bisa tersenyum.

”Nanti sore kamu ada waktu?”

”Saya harus kembali ke Medan sebentar lagi”

”Saya mengajak kamu untuk makan malam bersama” ajak Jayadi kembalii.

”Aku belum bisa meninggalkan tugasku bang” Ujar Dewi menyesali.

”Kamu permisi dengan pimpinanmu”

Dewi  berdiri kemudian dia masuk kedalam kokpit. Beberapa saat kemudian dia keluar.

”Ok bang, boleh! Aku sudah dapat izin dari pilot”

”Kita jalan sekarang yuk!” Ajak Jayadi tidak sabar

”Nanti saja bang! Saya harus membuat laporan terlebih dahulu. Nanti saya susul, ini kartu nama saya disitu ada nomor hpnya” Jayadi menerimanya dan memperhatikan ada beberapa nomor tertulis disitu.

”Baiklah! Saya duluan ya. Nanti saya hubungi kamu”

Jayadi tersenyum kemenangan dan mulai menuruni anak tangga pesawat. Sementara itu Dewi  bahagia sekali, sekian lama dia mendambakan pria ini. Dia sangat mengagumi Jayadi. Sekaranglah kesempatannya untuk mendapatkan cinta Jayadi. 

===================

Dewi keluar dari terminal II, Bandara Soekarno Hatta. Dewi melihat sekelilingnya. Dewi mencari Jayadi, harapannya Jayadi menunggunya. Dari kejauhan terlihat sosok pria mirip Jayadi, dan Dewi ingat pula, pakaian yang dikenakan Jayadi tadi persis sama dengan yang dipakai pria mirip Jayadi.

”Jay….” Dewi menahan panggilannya. Tampak olehnya Pria mirip Jayadi berdiri menyambut seorang wanita yang sedang menggendong balita perempuan. Wanita tersebut berkerudung cantik dan pria itu pun mencium balita perempuan yang ada digendongan wanita tersebut. Pria yang mirip Jayadi itu berlalu. Tanpa terasa, air mata berlinang dipipi Dewi.  

Fadly Rahman

Jakarta, 5 Desember 2010

Desember 5, 2010 Posted by | CERPEN | 1 Komentar