Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

ANTARA LONTONG BALAP DAN MASJID SUNAN AMPEL

Pada hari rabu, 7 desember 2016, kembali saya kunjungan ke kota surabaya. Kunjungan kali ini dikarenakan dinas dari kantor mengunjungi cabang surabaya.

Makanan Khas Surabaya Lontong Balap

Makanan Khas Surabaya Lontong Balap

Beberapa kali ke surabaya, biasanya mencari tempat makan yg menunya khas surabaya. Kali ini mencoba menu lontong balap rajawali yang posisi rumah makannya di jalan rajawali surabaya.
Lontong balap yang isinya selain lontongdicampur tahu goreng yg dipotong agak tipis lalu letho goreng serta sayur tauge dan dilengkapi dengan kecap manis
==================
Shalat di masjid sunan ampel yang bersejarah. Sepanjang jalan masuk masjid banyak pedagang yang menjual berbagai ragam dagangan.

Masjid Sunan Ampel

Masjid Sunan Ampel

Bangunan masjid yang megah dengan menara menjulang tinggi. Ornamen dan tiang kayu terdapat didalam masjid. Disetiap sudut terdapat rak khusus alquran diperuntukkan para jamaah yang ingin membaca alquran.
Dibelakang masjid terdapat tempat pemakaman sunan ampel dan para tokoh yang berjasa. Banyak pengunjung yang datang khusus mendoakan ahli kubur yang diziarahi.
Jakarta, 26 Desember 2016
Fadly Rahman
Iklan

Desember 28, 2016 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

PERJALANAN ASIK KE KOTA BENGKULU

Sudah sejak lama ada keinginan mengunjungi kota bengkulu. Kesempatan tersebut datang pada hari jumat, 2 september 2016. Kebetulan ada kerabat dari kakak ipar saya yang menikahkan putranya. Kakak ipar mengajak keluarga saya untuk ikutserta menemani. Gayung bersambut, kami pun menyetujuinya.

Bandara Fatmawati Soekarno

Bandara Fatmawati Soekarno

Berangkat pagi jam 7:30 wib dari soekarno hatta menuju bandara fatmawati soekarno bengkulu dan tiba sekitar jam 9 pagi.

Dari bandara bengkulu, kami menuju kantor servis PT Gobel Dharma Nusantara cabang Bengkulu. Dari awal memang sudah ada niat untuk silaturahim ke cabang ini. Kebetulan juga saya mengenal kepala cabang nya.

Setelah silaturahim, kami melanjutkan kegiatan yang sudah direncanakan. Kami menuju rumah yang punya hajat pernikahan. Setelah shalat jumat berangkat menuju rumah calon pengantin wanita. Hari itu adalah hari akad nikah keduanya.

Pasca akad nikah, kami menuju hotel tempat kami menginap, lalu berangkat lagi untuk tidak menghabiskan waktu hanya untuk dihotel saja. Tujuan berikutnya Masjid Jamik Bengkulu yang bangunannya yang sekarang adalah hasil rancangan Ir Soekarno Presiden RI pertama yang saat itu dibuang ke Bengkulu. Ciri khas masjid Jamik Bengkulu berbentuk segitiga kecurut dan terdapat beduk panjang dekat tempat wudhu pria serta mihrab yang kiri dan kanannya bertulis hiasan kaligrafi.

Masjid Jamik Bengkulu

Masjid Jamik Bengkulu

Sore itu hujan membasahi kota Bengkulu. Rencana awal kami ingin menikmati suasana pantai panjang sampai terbenamnya matahari. Berhubung hujan semakin lama semakin deras, kami memutuskan untuk menundanya. Dan selanjutnya kami ke tempat penjualan batik khas bengkulu, batik basurek yang terdapat di jalan Soekarno Hatta yang tidak jauh dari rumah pengasingan Soekarno. Kegiatan wisata hari pertama tidak begitu banyak tempat-tempat wisata yang kami kunjungi. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel untuk istirahat mempersiapkan kondisi badan untuk acara besok.

===================

Hari kedua kami mulai dengan mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno. Jam 8 pagi kami sudah tiba disana. Dan kami menjadi tamu pertama hari itu. Rumah bergaya kolonial itu seakan-akan membuat saya kembali ke masa lalu. Halaman yang luas dan terawat rapi melengkapi keindahannya. Masuk ke ruang tamu rumah disambut dengan Photo Bung Karno. Ruang tamu yang dikelilingi rak-rak buku kuno dan disamping kanan terdapat sepeda tua yang langsung mengingatkan saya dengan satu photo bung karno bersama ibu fatmawati berboncengan sepeda.

Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno

Ada dua ruangan kamar didalamnya. Ada kamar Bung Karno bersama Ibu Inggit yang berhadapan dengan kamar putra putri mereka dan sebelah depan ada ruang kerja Bung Karno. Walau punya halaman yang luas, rumah tersebut tidak terlalu besar, dibelakang rumah kami menemukan ruang makan yang disebelah kanan terdapat penjualan souvenir dan buku mengenai Bung Karno dan Bengkulu. Paling belakang rumah terpisah dari ruang utama, terdapat empat ruang lagi yang sedang tahap renovasi. Ada kamar pembantu, dapur, kamar mandi dan WC.

Rasanya ingin berlama-lama di rumah ini namun karena pengunjung sudah mulai ramai, mau tidak mau kami pun merelakan untuk meninggalkan rumah bersejarah itu dan berbagi kenangan Bung Karno dengan pengunjung yang lain.

Kami melanjutkan kunjungan ke rumah ibu fatmawati yang tidak jauh dari rumah pengasingan bung karno. Rumah panggung dari kayu bercat coklat kayu menjadi khas. Dihalaman rumah terdapat patung wajah bu fatmawati tersebut tidak ada petugas atau orang yang menjaga. Kami masuk ke dalam rumah dan mencatatkan nama kami dibuku tamu. Dari catatan tersebut kelihatannya jarang yang datang ke rumah ini.
Terdapat beberapa photo tua terpajang di dinding. Selain photo bu fatmawati dan bung karno, ada juga photo bu fatmawati bersama kedua orang tuanya. Terdapat puisi karangan bu fatmawati yang dipajang didinding. Dan disalah satu kamar, terdapat mesin jahit bersejarah, dengan mesin jahit tersebut bu fatmawati menjahit bendara pusaka merah putih.

Setelah mengunjungi rumah bu fatmawati, kami kembali ke hotel untuk persiapan ke pesta perkawinan puput dan rhendi dan melanjutkan wisata keliling kota bengkulu setelahnya.

Benteng Fort Marlborough

Benteng Fort Marlborough

Melewati gerbang benteng Fort marlborough, disisi kiri dan kanan terdapat prasasti tulisan berbahasa inggris dan tidak jauh dari situ ada tiga kuburan inggris. Kita memasuki kawasan benteng dengan melewati jembatan untuk memasuki gerbang kedua yang diatas gerbang ada tulisan fort marlborough.

Memasuki pintu disebelah kanan, ada beberapa keterangan sejarah singkat bengkulu dan benteng. Dalam lingkungan benteng yang mempunyai halaman luas itu terdapat deretan meriam kuno.

Mengelilingi benteng yg sisi ujungnya ditempatkan meriam meriam yang disiapkan untuk menembak musuh yang mencoba memasuki benteng.

Setelah puas mengelilingi benteng, rehat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya sambil menikmati air tebu.

Sore itu ada beberapa tempat lagi yang kita kunjungi. Ada monumen thomas parr yang berhadapan dengan kantor pos lama dan pasar baru kuto. Tidak jauh dari situ dapat dijumpai alun-alun kota bengkulu yang berhadapan dengan rumah dinas gubernur bengkulu yang terdapat menara pemantau.

Monumen Thomas Parr

Monumen Thomas Parr

Kunjungan terakhir hari itu kembali lagi ke pantai panjang yang kemarin sore tidak sempat berlama-lama disitu. Hanya sesaat kami disitu. Sore itu ombak cukup kuat hingga mencapai bibir pantai. Disepanjang pantai dibuat jalan supaya pengunjung dapat beraktifitas termasuk berolahraga disana. Bahkan kita juga bisa bersepeda.

===================

Hampir semua tujuan wisata kota bengkulu sudah kami kunjungi. Pada hari ketiga, hari terakhir kami di kota bengkulu. Jam 10 kami check out dari hotel. Berburu oleh oleh khas bengkulu menjadi hal yang wajib. Makanan khas bengkulu manisan buah dan kue bay tat menjadi pilihan.

Pantai Panjang

Pantai Panjang

Waktu keberangkatan Pesawat yang cukup lama, membuat kami mencari-cari tempat wisata mana lagi yang belum dikunjungi. Museum bengkulu menjadi pilihan, tapi sayang museumnya tutup, hanya bisa melihat meriam dan katel uap kuno yang ada disamping museum.

Akhirnya kami memutuskan ke sebuah danau yang ada di bengkulu, yang namanya cukup unik, danau dendam tak sudah. Menikmati keindahan danau dengan duduk menghadap ke danau sambil minum air kelapa muda.

Makan siang di rumah makan kampung pesisir merupakan wisata penutup kami di kota  bengkulu. Makanan laut mengakhiri perjalanan asik kami di kota pesisir barat sumatera itu.

Fadly Rahman
Jakarta, 04 September 2016

September 7, 2016 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

MENGENANG MASA KECIL DI KOTA LANGSA

Lebaran tahun ini saya dan keluarga berkesempatan lebaran di Kota Langsa. Kota ini sangat istimewa untuk saya. Kota tempat ibu saya dilahirkan dan dikota ini saya menghabiskan masa-masa kecil saya sampai saya lulus sekolah dasar.
Kami menginap di rumah abang saya (Fauzan Yusuf), yang kebetulan menetap di kota ini. Saat kedua orang tua saya pindah kembali ke kota Medan, abang saya ini tidak ikutserta karena memang bekerja sebagai PNS Aceh Timur. Beberapa kenangan dari kota ini saya curahkan ke beberapa cerita, salah satunya mengenai legenda kota langsa.
Berangkat ke kota langsa dari kota Medan pada tanggal 5 Juli dan Tiba menjelang maghrib, bertepatan hari terakhir bulan puasa. Turun dipersimpangan tiga sebelum masjid raya kota langsa. Mobil travel yang membawa kami tidak bisa melewati jalan kota, mobil harus belok ke kanan.

Masjid Raya Darul Falah, Masjid Raya Kota Langsa

Masjid Raya Darul Falah, Masjid Raya Kota Langsa

Setelah kami berjalan santai dari simpang tiga ke masjid raya, kami tiba dimasjid bertepatan azan maghrib. Siapa menyangka saya ketemu dengan teman kantor dulu yang memang orang langsa. Pasca shalat maghrib kami cukup lama mengobrol masa lalu.

=======================

Sudah beberapa hari ini cuaca Kota langsa hampir sama dengan kota medan, siang terik tapi malam harinya hujan. Alhamdulillah, pagi ini menjelang shalat idul fitri, cuaca cukup cerah. Warga sekitar Berbondong bondong menuju masjid, menuju hari kemenangan.

Lapangan Merdeka Kota Langsa

Lapangan Merdeka Kota Langsa

Pesan khatib shalat idul fitri, saling bermaaf maafkan didalam keluarga, suami memaafkan istri begitu juga sebaliknya, orang tua memaafkan anak anaknya, begitu juga sebaliknya.

==================

Setelah berkunjung ke beberapa sanak keluarga, kesempatan saya, istri dan anak saya keliling kota langsa. Melihat suasana kota dan tempat yang menjadi kenangan masa kecil saya.

Gedung Balee Juang

Gedung Balee Juang

Melewati lapangan Merdeka yang punya kenangan. Saya dan orang tua saya pernah shalat idul fitri disini. Ingat juga waktu masih kecil dibawa okeh saudara saya, waktu itu ayah saya sebagai komandan upacara 17 agustusan, saya yang berada dipinggir lapangan berteriak memanggil nama ayah saya yang sedang melaksanakan tugasnya.

Agak kedepan sedikit ketemu balee juang, saat saya masih SD dulu saya sering melewatinya. Disisi kanannya menjadi tempat saya turun dari bis tumpangan menuju sekolah saya. Tidak lupa pula melewati SD Negeri 11 Langsa yang pada masa saya berbagi tempat dengan SD Negeri 15. SDN 11 masuk pagi hari sedangkan SDN 15 masuk siang hari.

Kunjungan tidak hanya ditengah kota, pinggiran kota langsa juga kami datangi. Persis di belakang SMP 3 Langsa ada sungai kecil yang kami sebut alur. Sungai kecil ini menginspirasi satu cerita pendek yang saya tulis.

Jakarta, 16 Juli 2016

Fadly Rahman

Juli 18, 2016 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

BIG RAC FAMILY GATHERING 2016

Departement AC Big RAC melakukan acara Big RAC Family Gathering yang dilaksanakan di kota Yogyakarta selama dua hari, 6 dan 7 april 2016. Saya ambil penerbangan yang pagi-pagi berhubung ingin mampir terlebih dahulu di kantor cabang Yogyakarta, sedangkan yang lain mengambil penerbangan jam 11.

Wisata ke Candi Prambanan

Wisata ke Candi Prambanan

Setelah semua peserta tiba dan lengkap, kami menuju kota gede untuk makan siang di Omah Duwur Restaurant. Menurut informasi bahwa kota gede adalah kota pertama kesultanan mataram. Banyak terdapat bangunan tua didaerah ini. Pemerintah Yogyakarta melarang meruntuhkan bangunan-bangunan didaerah ini sama halnya kota tua di Jakarta.

Kebanyakan masyarakat setempat berprofesi pengrajin perak dan pengrajin tangan lainnya. Restoran-restoran di kota gede menjadi tujuan wisatawan untuk menikmati wisata kuliner. Selain hari pertama menikmati kuliner di Omar Duwur Restaurant, pada hari berikutnya kami juga menikmati kuliner di Sekar Kedhaton diwilayah yang sama.

Sebelum para peserta diantar ke Hotel untuk istirahat dan persiapan gala dinner pada malamnya, mereka diantar terlebih dahulu ke Taman Sari Sheraton untuk SPA. Setelahnya baru diantar ke Hotel Tentrem sebagai tempat acara yang akan berlangsung.

 ===================

 Keesokan paginya, para Peserta berkumpul di ruang lobby hotel untuk persiapan acara menikmati Yogya. Masing-masing perserta mendapatkan oleh-oleh dari pihak panitia yakni Gudeg Yu Jum dan saya sering mendengar gudeg ini.

Untuk ketiga kalinya saya ke candi prambanan dengan suasana berbeda. Sebelumnya saya pergi ke prambanan dengan keluarga saya, untuk kali ini ramai-ramai dengan para peserta yang istimewa.

Setelah makan siang di Restoran Sekar Kedhaton, Kota Gede, kami mampir ke pusat kaos DAGADU asli yang menjadi salah satu ikon kota Yogya, dan terakhir mampir dipusat oleh-oleh Bakpia.

Jakarta, 17 April 2016

Fadly Rahman

April 29, 2016 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

PESONA NEGERI SUNDA

WADUK JATILUHUR

Pasca libur tahun baru Hijriyah (15/10/2015) sekalian ambil cuti dua hari. Beberapa hari sebelumnya sempat memikirkan kalau ambil cuti, kira-kira mau jalan kemana. Pilihan pun jatuh ke Waduk Jatiluhur. Perjalanan dari Jakarta menuju Jatiluhur tidak terlalu sudah menggapainya. Jatiluhur yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Purwakarta menjadi agak special karena ada waduk yang menjadi bagian dari kota kecamatan tersebut.

Suasana pagi hari Waduk Jatiluhur

Suasana pagi hari Waduk Jatiluhur

Turun tol Jatiluhur lalu belok kiri. Menuju Danau jatiluhur tinggal mengikuti petunjuk arah yang memang diperjelas untuk menuju arah waduk. Memasuki di kawasan Jatiluhur melalui pintu utama tidak membayar uang masuk kawasan kecuali akhir pekan. Berhubung kami berkunjung pada hari kamis, tiket masuk kawasan gratis.

Kami tiba di Jatiluhur menjelang senja. Matahari sudah mulai tenggelam dan maghrib pun akan tiba. Didalam kawasan terdapat penginapan juga. Kami memutuskan untuk menginap di Jatiluhur Hotel and Resort. Kami beruntung mendapatkan kamar berhadapan langsung dengan Waduk Jatiluhur. Dari kamar hotel langsung terlihat pemandangan waduk yang mulai ditutupi kegelapan.

Malam itu setelah shalat Maghrib tidak banyak yang kami lakukan. Makan malam di restoran hotel dengan memesan nasi goreng kampung dan teh poci sambil menikmati lagu-lagu yang terdengar dari ruangan karaoke yang menyanyikan lagu era tahun 90an.

===================

Pagi di waduk Jatiluhur. Berhubung berlibur kali ini saat bukan akhir pekan, hotel tidak banyak penghuninya. Hotel yang sepi justru kami merasa sangat bebas keliling hotel yang berhadapan langsung dengan waduk Jatiluhur. Hotel sengaja menyediakan banyak tempat untuk tamunya bersantai. Tinggal kita memilih mau melihat pemandangan dari sudut mana saja. Kami menikmati semuanya dari berbagai sudut.

Rumput yang berwarna coklat terbakar panasnya sinar matahari

Rumput yang berwarna coklat terbakar panasnya sinar matahari

Perlahan-lahan sinar matahari menyinari waduk, terlihat disisi sebelah kanan terlihat sedikit demi sedikit mulai terang. Dari kejauhan terlihat atlet kano mulai latihan. Pada pagi ini sudah ada yang memancing dipinggir waduk. Dipinggir waduk juga ada restoran terapung yang kebetulan pagi itu tidak operasional. Burung camar terbang menikmati pagi di waduk jatiluhur.

Keliling hotel yang tidak terlalu luas itu diakhiri dibelakang hotel yang berhadapan dengan bendungan waduk. Kami memperhatikan ada yang berlari pagi diatas bendungan dan ada juga naik sepeda motor. Darimana mereka masuk area bendungan.

Sebelum memenuhi rasa penasaran, kami sarapan pagi yang tempatnya dilain tempat walau nama hotelnya sama yang jaraknya cukup jauh dari hotel kami inap. Rasa penasaran terjawab saat melihat gerbang memasuki area bendungan. Coba menanyakan kepada petugas hotel untuk masuk ke area bendungan. Petugas hotel mengatakan bisa masuk dengan izin khusus yang diberikan oleh pihak hotel tapi sudah beberapa hari, area bendungan belum bisa dikunjungi dikarenakan adanya perbaikan. Ada rasa kecewa karena nggak bisa masuk area bendungan.

Setelah selesai makan, kami mampir terlebih dahulu digerbang depan waduk. meminta izin berphoto didepan gerbang yang ada tulisan Waduk Jatiluhur. Siapa yang menduga, satpam mengatakan bahwa kami bisa masuk ke area bendungan dengan mendapatkan secarik kertas izin dari hotel tempat kami menginap. Saya pun kembali ke Hotel dan memintanya ke receptionist. Alhamdulillah setelah kami menjelaskan, akhirnya kami mendapatkan surat izin tersebut.

Memasuki gerbang Waduk Jatiluhur, berpas-pasan dengan beberapa petugas waduk. Bendungan yang sebelah kanannya terlihat rumput yang berwarna coklat terbakar panasnya sinar matahari. Membayangkan rumput-rumput tumbuh hijau, pasti sangat indah pemandangan dipinggir bendungan. Sebelah kiri terlihat bangunan bendungan bulat yang terlihat megah dari dekat. Bangunan yang bisa kami lihat dari hotel tempat kami menginap. Ada tulisan dilarang masuk, pengunjung hanya bisa melihat-lihat didepan pintu masuk yang terkunci.

Tidak terlalu lama berada di bendungan, walau masih pagi tapi terik matahari sudah terasa menghangati kulit. Apalagi saat itu hari jumat, ada baiknya kami kembali ke Hotel dan siap-siap berbenah dan saya bersiap-siap shalat Jumat.

Masjid Agung Purwakarta

Masjid Agung Purwakarta

Keinginan shalat jumat di masjid bersejarah kota Purwakarta, Masjid Baing Yusuf. Namun sayang tidak kesampaian, baru keluar dari wilayah waduk Jatiluhur, azan sudah terdengar sayup-sayup. Tidak berpikir panjang lagi, mobil dibelokkan ke masjid terdekat.

Setelah shalat jumat, perjalanan tetap dilanjutkan ke Masjid Agung Purwakarta. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Jatiluhur dan tidak begitu susah juga menemukannya. Menurut sumber sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1826 oleh Syekh Baing Yusuf. Lokasi Masjid persis didepan taman alun-alun Purwakarta. Keberadaan Masjid tidak jauh dari Penjara Purwakarta. Dan tidak jauh dari sekitaran Masjid terdapat pula toko-toko menjual oleh-oleh khas Purwakarta.

Setiap hari jumat, sekitar masjid sangat ramai. Selain shalat jumat di masjid agung, dibagian depan taman, disediakan oleh pemerintah daerah, tempa berjualan berbagai makanan disana. Sehingga banyak warga yang sekalian makan siang. Walau demikian kami bukan salah satu yang makan disana. Kami memilih makan ditempat lain. Menuju jalan pemuda, ada beberapa rumah makan khas sunda. Kami memilih salah satunya untuk makan siang pada hari itu. Pilihan jatuh pada rumah makan Ciganea.

Rumah Makan Ciganea

Rumah Makan Ciganea

Tidak perlu waktu lama menunggu, rumah makan langsung menyediakan segala macam makanan khas sunda dimeja makan, cara penyajian persis seperti rumah makan padang yang menyajikan segala jenis makanan dan yang dibayar hanya lauk atau makanan yang dimakan saja.

===================

Perjalanan dilanjutkan menuju Bandung. Sebelum ke Bandung, sudah ada tujuan lain yang mau disinggahi. Tujuannya adalah terompong bintang bosscha di Lembang. Sudah lama rasanya ada keinginan untuk mampir.

Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha

Perjalanan terasa jauh karena perjalanan kali ini selain tidak lewat tol juga tidak lewat Subang atau Ciater. Perjalanan melalui jalan bawah Padalarang yang baru pertama kali saya melewati jalan ini. Jalan tidak terlalu ramai tapi terkadang membuat ragu. Akhirnya tiba di jalan Kolonel Matsuri, Lembang yang beberapa kali saya sudah melewati jalan ini, akhir jalan ini adalah persimpangan jalan raya lembang. Belok ke kanan menuju kearah bandung, yang tidak begitu jauh sudah mendapatkan jalan terompong bintang.

Tiba di Observatorium Bosscha sudah sore. Ada beberapa orang pengunjung yang berada disana. Kami menanyakan dengan petugas setempat, apakah masih bisa masuk ke area terompong bintang? Petugas mengatakan sudah tidak bisa. Mereka hanya bisa memberi ijin kepada kami hanya untuk sekedar berphoto saja. Itupun KTP tetap diminta sebagai jaminan kami untuk masuk mengeliling area Observatorium.

Walau menyayangkan tidak bisa melihat bintang melalui teropong, kami tetap bersyukur masih bisa menikmati suasana keliling Observatorium. Bangunan-bangunan tua bersejarah yang menjadi objek kamera photo kami pada sore itu.

Fadly Rahman

Jakarta, 01 November 2015

November 1, 2015 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

INILAH TANAH DELI

BANGUNAN BERSEJARAH YANG HARUS DIKETAHUI DI TANAH DELI

Masjid bersejarah di sumatera utara khususnya sumatera bagian timur yang berumur lebih 1 abad tidak hanya masjid raya Medan atau dikenal dengan nama Masjid Al-Mashun yang dibangun oleh sultan Deli, sultan Ma’mun Al-Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906. Ada beberapa masjid yang mempunyai sejarah yang panjang melibatkan tokoh tokoh sumatera timur.
Ada masjid Al-Osmani yang dibangun oleh sultan Osman Perkasa Alam pada tahun 1854 yang awalnya bangunan masjid ini dibangun dengan bahan kayu. Lalu pada tahun 1870 dibangun dengan menggunakan bahan bangunan semen seperti saat ini. Masjid ini berada di jalan Yos Sudarso, medan labuhan.
Ada juga masjid bersejarah lainnya di kota medan yang dikalah menariknya. Masjid Gang Bengkok Kesawan yang dibangun pada tahun 1890. Selain sultan Deli saat itu, masjid ini juga dibangun atas sumbangan konglomerat Hindia Belanda zaman itu yang berasal dari kota Medan Tjhong A Fie dan tanah diwakafkan oleh Datuk Haji Muhammad Ali.

Masjid Sulaimaniyah Perbaungan

Masjid Sulaimaniyah Perbaungan

Masjid lain yang perlu diketahui adalah Masjid Sulaimaniyah. Masjid ini terletak di wilayah perbaungan. Masjid peninggalan kesultanan Serdang ini dibangun pada tahun 1894 yang dibangun oleh sultan Syariful Alamsyah. Masjid yang terletak persis dipinggir jalan raya lintas sumatera sangat mudah ditemui. Dari kota medan hanya berjarak 1 jam perjalanan.
Masjid yang khas bercorak melayu dan bercat warna kuning ini mempunyai mimbar yang berukiran indah. Langit-langit yang bertuliskan kaligrafi dan tergantung lampu hias. Pada dinding depan masjid terdapat tulisan yang menceritakan sejarah masjid Sulaimaniyah.

==================

Lebaran tahun lalu, saya dan keluarga bersilaturahmi ke Lubuk Pakam. Biasanya kami pergi ke Lubuk Pakan melalui Tanjung Morawa. Pada saat itu seorang teman menamani kami bersilaturahmi ke Pakam tapi melalui Batang Kuis. Ada yang menarik hati kami saat melewati kota kecil itu. Kami melelui sebuah bangunan panggung besar yang masih terawat baik.

Rumah Panggung peninggalan Zaman Belanda di Komplek PTP Nusantara II Batang Kuis

Rumah Panggung peninggalan Zaman Belanda di Komplek PTP Nusantara II Batang Kuis

Pada saat itu kami hanya bisa mengagumi saja. Pada lebaran tahun ini, kami kembali bersilaturahmi ke Pakam. Untuk kali ini kami tidak menyianyiakan kesempatan. Kami mampir dan meminta ijin untuk menikmati bangunan tua dan mengabadikan dengan berphoto. Informasi yang kami dapat bahwa rumah panggung itu adalah rumah peninggalan zaman Hindia Belanda yang perkiraan umurnya ratusan tahun. Rumah tersebut digunakan untuk tempat tingga kepala perkebunan zaman dahulu dan sekarang digunakan oleh Manager perkebunan PTP Nusantara II.
Masih banyak lagi bangunan bersejarah yang belum dikunjungi. Semoga dimasa yang akan datang dapat menikmati dengan waktu yang lebih panjang.

Jakarta, 26 Juli 2015

Fadly Rahman

Juli 26, 2015 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

JALAN-JALAN KE BALI

DARI TANJUNG BENOA MENUJU UBUD

Berangkat dari rumah Jam 5 sore menuju Bandara Soekarno Hatta yang rencananya akan terbang menuju Bali jam 8 malam. Sebelumnya sudah berusaha mencari tiket pesawat pagi atau siang tapi sudah habis. Perjalanan ke Bali selama 3 hari dari tanggal 9 April sampai dengan 10 April 2015 yang bertepatan pula dengan kongres pemenang pemilu 2014 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ada beberapa kerabat mengira saya akan ikut kongres partai tersebut. Tiba di Bandara Ngurah Rai Bali jam 11 malam.

Pantai di belakang Conrad Hotel

Pantai di belakang Conrad Hotel

Menginap di Conrad Hotel sebuah resort yang bertarap internasional yang lokasinya di Tanjung Benoa. Hotel yang areanya cukup luas dan seperti mayoritas hotel bertarap internasional di Bali yang biasanya mempunyai pantai sendiri dan mempunyai fasilitas yang lengkap. Setelah sarapan pagi, keliling sebentar dan menelusuri pantai di belakang hotel. Beberapa pengunjung hotel melakukan aktifitas olahraga pagi. Sesaat setelah puas potret sana potret sini, kembali ke kamar untuk persiapan jalan-jalan hari ini.

Perjalanan ke Bali ini menuju Ubud. Desa yang dikenal sebagai desanya para seniman. Banyak seniman yang menghabiskan hari-harinya disini termasuk pelukis terkenal Antonio Blanco, pelukis keturunan Spanyol dan Amerika Serikat yang mempunyai museum khusus untuk lukisan-lukisannya.

Pengalaman yang mengesankan perjalanan menuju Ubud menggunakan VW klasik

Pengalaman yang mengesankan perjalanan menuju Ubud menggunakan VW klasik

Hal yang menarik dari perjalanan kali ini dari Hotel menuju Ubud menggunakan VW tua yang masih terawat. VW yang atapnya bisa dilipat namun berhubung cuaca Bali yang sedang panas atap mobil tetap menempel ditempatnya. Pengalaman yang mengesankan perjalanan menuju Ubud menggunakan VW klasik.

Perjalanan menuju Ubud tidak melalui jalan biasa disebabkan jalan yang biasa dilalui menuju Ubud dalam keadaan macet karena ada kongres PDIP. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan 1 jam perjalanan menuju Ubud berhubung menggunakan jalan alternative lain yang memutar perjalanan jadi memakan waktu 2 jam. Jalan jam 09:30 dan tiba di Ubud atau persisnya tiba di Hutan Monyet atau Monkey Forest pada jam 11:30 .

Kita bisa menemui kolam dan bangunan Pura yang mengesankan seperti film petualangan

Kita bisa menemui kolam dan bangunan Pura yang mengesankan seperti film petualangan

Masuk ke kawasan parkiran hutan monyet sudah disambut dengan monyet ekor panjang yang sudah terbiasa dengan orang-orang disekitarnya. Pintu masuk hutan monyet juga sudah disambut segerombolan monyet yang berharap pengunjung memberikan makanan. Beberapa turis membeli buah-buahan walau ada larangan untuk memberikan makanan kepada monyet-monyet disitu.

Hutan monyet tidak hanya ada monyet-monyet saja, terdapat juga 2 buah pura didalamnya. Lokasi satu pura agak keatas dan satu lagi berada dibawah yang lokasinya bisa dilalui menuruni anak tangga. Setelah menuruni anak tangga kita bisa menemui kolam dan bangunan Pura yang mengesankan seperti film petualangan. Hutan lebat dengan pohon-pohon raksasanya melengkapi suasana petualangan. Lembah dan dibawahnya aliran sungai yang airnya jernih menambah pesona hutan monyet.

Fadly Rahman

Jakarta, 11 April 2015

April 11, 2015 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

MISTERI KAMAR 308

MISTERI KAMAR 308

Liburan panjang bulan April 2015, ada 3 hari libur dari tanggal 2 April sampai dengan 5 April dimanfaatkan warga Jakarta dan sekitarnya berlibur besama keluarga. Sehingga perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi yang hari itu cukup ramai. Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Pelabuhan ratu.

Menginap di Hotel Inna Samudera Beach yang bersejarah. Hotel yang dibangun dan diprakasai oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama Ir.Soekarno. Sekeliling hotel masih terawat rapi walau bangunan hotel sudah terlihat tua. Sebelum menginap di hotel ini seorang teman bercerita tentang kamar khusus yang bernomor 308. Kamar tersebut adalah kamar khusus Nyi Roro Kidul, Ratu Laut Selatan.

Keindahan Pantai Laut Selatan terlihat dari lantai 3 hotel

Keindahan Pantai Laut Selatan terlihat dari lantai 3 kamar hotel

Pertama kali saya menerima kamar hotel, tertera tulisan no 320. Mmmm….ternyata kamar saya satu lantai dengan kamar sang ratu. Tiba di hotel lewat tengah malam dan masuk ke kamar hotel terlihat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Beberapa jam lagi waktu shubuh tiba. Walau tidak nyenyak tidur di Bis, saat ini tidak membuat mata mengantuk.

Setelah selesai shalat shubuh juga tidak membuat ingin tidur. Pagi-pagi sudah keluar hotel menuju pantai ingin menikmati pagi di pantai. Selama berjalan di pasir pantai yang coklat, menemukan bunga-bunga yang sengaja ditaruh di tempat itu. Ada apa gerangannya ya? Rasa penasaran terjawab setelah seorang teman mengatakan bahwa tadi malam adalah malam jumat, ada ritual khusus untuk menghormati Nyi Roro Kidul.

Bunga di tepi pantai

Bunga di tepi pantai

Sebelumnya saya penasaran dengan kamar 308 dan sekarang semakin bertambah. Rasa ingin tau memuncak, mau mengetahui seperti apa kamar 308 itu. Naik ke lantai 3, langsung menuju kamar 308, dipintu kamar tidak ada tulisan hurup 308 tapi tertulis private.

Pintu kamar tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya. Ada yang bilang kalau beruntung kita akan bisa melihat ruangan didalam kamar itu apabila ada orang yang masuk tapi saat itu Lorong jalan lantai 3 terlihat masih sepi.

Pintu Kamar tidak ada tulisan hurup 308 tapi tertulis Private

Pintu Kamar tidak ada tulisan hurup 308 tapi tertulis Private

Rasa penasaran membuat saya bertanya pada seorang petugas hotel dan bertanya apakah bisa melihat kamar 308. Petugas hotel mengatakan bisa, silahkan menghubungi receptionist hotel dan akan diantar oleh petugas hotel. Berhubung siang itu cukup sibuk membuat keinginan ke kamar 308 ditunda dulu.

Kesempatan itu datang juga. Malam jam 8:30 wib saya dan 2 orang teman berkesempatan masuk ke kamar 308 diantar seorang petugas hotel. Pintu kamar dibuka, tercium Aroma wewangian khas menusuk hidung. Terlihat didalam kamar berwarna hijau, warna kesukaan sang ratu. Tampak lukisan wanita cantik yang dipercaya sebagai gambaran Nyi Roro Kidul. Dilantai terdapat tempat dupa dan kemenyan. Terlihat juga beberapa mahkota, tempat tidur dengan seprei berwarna unggu terlihat rapi. Bendera merah putih dan payung kerajaan juga terlihat berdiri gagah. Dan ketinggalan Photo presiden Soekarno didinding sebelah kiri menempel. Kamar ini terasa mistis dan informasi yang didapat banyak orang-orang ke kamar ini melakukan ritual khusus dan meminta sesuatu dari sang ratu.

Saat itu saya teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca bahwa *salah satu Tempat yang banyak ditemukan para syaitan di setiap tempat yang di dalamnya manusia melakukan kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan. Tidaklah dilakukan kebid’ahan dan penyembahan kepada selain Allah Subhaanahu wat’ala, kecuali syaitan memiliki andil yang cukup besar di dalamnya dan terhadap para pelakunya.

Dan riwayat hadist Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan karena sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Surat Al Baqarah.” (HR. Muslim (780), Ahmad (2/337), Tirmidzi (2877) dan selainnya).

”Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas lautan dalam riwayat lain di atar air dan kemudian dia pun mengutus pasukannya (HR. Muslim: 2813).

Fadly Rahman
Jakarta, 8 April 2015

Sumber :
1. http://www.darussalaf.or.id/aqidah/tempat-tempat-yang-banyak-ditemukan-para-syaitan/

April 11, 2015 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

BERKUNJUNG KE KOTA MAKASSAR

DARI STADION MATTOANGIN SAMPAI MONUMEN MANDALA

Stadion Mattoangin atau disebut juga stadion Andi Mattalata

Stadion Mattoangin atau disebut juga stadion Andi Mattalata

Untuk kedua kalinya melakukan perjalanan ke Makassar. Sebelumnya sudah pernah ke Makassar pada oktober 2013. Kesempatan kali ini, memanfatkan ke tempat-tempat yang belum saya singgahi pada perjalanan sebelumnya. Kunjungan pertama kali ini adalah stadion Mattoangin atau Mattoa Angging atau disebut juga stadion Andi Mattalata. Stadion tidak jauh letaknya dari hotel. Hanya berjalan kaki, tidak sampai 10 menit sudah sampai di stadion.

Stadion ini pernah dipakai untuk Pekan Olahraga Nasional yang ke IV pada tahun 1957. Stadion juga merupakan markas tim sepakbola kebanggaan warga Makassar, PSM Makassar. Stadion yang pernah dipakai untuk kempetisi sepakbola Asia atau Liga Champion Asia terlihat tua walau masih kelihatan kokoh.

Tidak begitu banyak orang yang berolahraga disitu. Mungkin hari itu adalah hari Sabtu dan masih banyak yang masih bekerja atau sekolah. Keliling stadion lima kali, dua kali keliling di luar stadion dan tiga kali didalam stadion. Senang rasanya bisa menikmati stadion Mattoangin, terlihat beberapa atlet lari Makassar yang sedang latihan dan atlet-atlet muda basket Makassar yang sedang berlari naik turun di atas tribun VIP.

Kantor Pusat Informasi Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Kantor Pusat Informasi Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Selatan

Selepas dari stadion, melanjutkan jalan-jalan menuju kantor pusat informasi pariwisata dan kebudayaan Sulawesi Selatan. Ketertarikan dengan kantor ini dikarenakan bangunannya cukup menarik. Masuk kedalam bangunan ini hanya beberapa orang saja yang kelihatan di aula kantor, kebetulan pula kantor hari itu sedang libur membuat saya bebas mengambil photo. Gedung ini membuat saya teringat dengan museum Keraton Solo yang bentuk bangunan mirip. Mungkin saat itu gaya bangunan bergaya kolonial.

Monumen Mandala

Monumen Mandala

Setelah puas mengambil photo dan beristirahat sebentar di kantor pusat informasi dam kebudayaan Sulawesi Selatan, melanjutkan jalan menuju monumen mandala yang tidak jauh dari situ. Monumen yang dibangun untuk memperingati pembebasan Irian Barat menjulang tinggi. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa presiden RI ke 2 yang sebelumnya menjadi panglima atau komandan pembebasan Irian Barat.

Pallu Kaloa, Sup Ikan khas Makassar

Pallu Kaloa, Sup Ikan khas Makassar

Walau waktu yang singkat, namun saya tetap menikmati perjalanan ke Makassar walau masih ada beberapa tempat yang masih belum dikunjungi. Jangan lupa nikmati juga kuliner kota Makassar. Dalam perjalanan sebelumnya merasakan Coto Makassar yang asli dari kota kelahirannya, untuk kali ini merasakan kuliner Makassar lainnya Pallu Kaloa yakni sup ikan khas Makassar.

Jakarta, 09 November 2014

Fadly Rahman

November 9, 2014 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan komentar

WISATA SINGKAT DI KOTA SURABAYA

KELILING KOTA PAHLAWAN

Perjalanan ke kota Surabaya kali ini (Jum’at, 15 agustus 2014) merupakan perjalan ketiga kalinya bagi saya. Perjalanan pertama ke Surabaya hanya sekedar persinggahan untuk istirahat di malam hari. Saat itu saya pergi dengan keluarga. Kami lebih banyak jalan-jalan ke luar dari kota Surabaya diantaranya ke kota Batu,  Malang, Pasuruan dan Mojokerto. Perjalanan ke dua kalinya ke kota Surabaya, saya mengikuti training dari Kantor. Saat itu tidak sempat untuk keliling kota Surabaya menikmati tempat-tempat wisata dan bersejarah di kota pahlawan itu.

Perjalanan ke tiga kali ini, walau dengan waktu yang singkat, saya masih bisa menyempatkan diri menikmati wisata sejarah Surabaya. Seakan semuanya terasa sudah diatur sehingga saya bisa melakukannya.

Tiba dibandara international Ir. Juanda jam 11an siang. Waktu shalat jum’at Surabaya lebih cepat daripada Jakarta. Seorang teman, mas Sulhadi yang menjemput kami di Bandara dan tanpa berlama-lama membawa langsung keluar dari Bandara memutuskan shalat di Masjid luar bandara. Masih ada waktu 30 menit untuk mencapai Masjid yang dituju.

Masjid Al Akbar Surabaya

Masjid Al Akbar Surabaya

Saya sangat beruntung, ternyata dibawa untuk shalat jum’at di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya yang merupakan masjid terbesar di Surabaya bahkan di Jawa timur. Sebelum berangkat ke Surabaya, terlebih dahulu mencari informasi tentang kota Surabaya dan mendapatkan info mengenai masjid Ampel dan Masjid Al Akbar.  Siapa menyangka hasrat shalat disalah satu masjid ini terpenuhi.

Dibelakang taman Bungkul terdapat pusat kuliner kaki lima Surabaya

Taman Bungkul

Setelah shalat jum’at, saatnya mencari makanan untuk makan siang. Kami dibawa ke Taman Bungkul, taman yang saya kenal setelah kejadiaan ibu Risma walikota Surabaya marah-marah saat taman itu rusak dipakai kegiatan promosi. Dibelakang taman Bungkul terdapat pusat kuliner kaki lima Surabaya. Pilihan jatuh pada  nasi rawon.

===================

Silaturahmi dengan teman-teman yang ada di  Surabaya sangat menyenangkan. Bercerita masa lalu dan masalah kini tiada habisnya. Keberuntungan jum’at ini bertambah. Sepertinya hari itu adalah hari nasi bebek. Fauzi dan Adi mengajak kami makan nasi bebek di dekat kantornya. Setelah makan nasi bebek, teman-teman saya yang lain, Widi, Hengki dan Joko mengajak  kembali makan nasi bebek, katanya belum lengkap ke Surabaya kalau tidak makan nasi bebek di depan tugu Pahlawan.

Dan di warung nasi bebek ini pula kami bertemu teman yang lain Fendi yang sedang beli nasi bebek yang katanya makanan kesukaan keluarganya. Sambil makan nasi bebek, sekali-sekali saya melirik tugu pahlawan dari sela-sela rimbunnya perpohonan. Tugu pahlawan yang diterangi lampu warna warni memperjelas kegagahan tugu di malam ini.

Tugu Pahlawan saat malam hari

Tugu Pahlawan saat malam hari

===================

Menginap di Hotel sekitar jalan Basuki Rahmat melanjuti keberuntungan saya. Pagi hari yang cerah di kota Surabaya membuat hasrat keliling berjalan kaki sambil berolahraga jalan kaki. Jalan sejurusan Basuki Rahmat adalah jalan Tunjungan, jalan yang terdapat dapat bangunan-bangunan bersejarah diantaranya Hotel Majapahit yang dulu Hotel Yamato. Bermula sekelompok orang belanda mengibarkan bendera Belanda yang berwarna merah putih biru. Para Pejuang merobek warna biru bendera menjadi bendera merah putih.

Hotel Majapahit dulu bernama Hotel Yamato

Hotel Majapahit dulu bernama Hotel Yamato

Saat sedang menikmati suasana jalan Tunjungan, sebuah pesan masuk dari seorang teman yang mengatakan ada makanan enak khas jawa timur yang namanya soto ambengan. Sebenarnya saya sudah sarapan pagi di Hotel namun karena penasaran saya kembali lagi warung soto ambengan yang sebelumnya sudah saya lewati. Kalau soal rasa, seperti makanan lainnya, tidak ada makanan yang tidak enak dengan saya, semua makan halal pastinya enak dengan saya.

Soto Ambengan Jln Tunjungan

Soto Ambengan Jln Tunjungan

Melanjutkan jalan kaki pagi ini menuju jalan pemuda, melewati kantor gubernur Jawa Timur. Gedung yang berhalaman luas itu sedang dimanfaati pasukan paskibra berlatih baris berbaris yang akan melaksanakan tugasnya 2 hari lagi. Tidak jauh dari situ terdapat gedung Negara grahadi atau balai pemuda yang berfungsi sebagai pusat informasi wisata kota Surabaya.

Jakarta, 17 Agustus 2014

Fadly Rahman

Agustus 21, 2014 Posted by | Sejarah dan Arkeologis, Uncategorized | 2 Komentar