Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PENYESALAN MITA

PENYESALAN MITA

“Kakek sudah katakan jangan kamu pulang malam-malam terus” teriak Mahmud kepada Mita cucunya.

“Setiap hari kamu pulang larut malam, kemana saja kamu pergi?” lanjut Mahmud sambil mengacung-ngacungkan telunjuk tangannya ke Mita. Mahmud tidak habis pikir dengan Mita cucu satu-satunya itu, sejak masuk Sekolah Menengan Tingkat Atas bukannya semakin tinggi etikanya tapi semakin rendah etikanya. Setelah selesai pulang sekolah bukannya langsung pulang ke rumah tapi entah pergi kemana saja tanpa tujuan. Mita sejak lama ditinggal orangtuanya yang pergi menjadi Tenaga Kerja Indonesia di negeri Timur Tengah. Mahmud merawatnya sejak bayi bersama almarhum istrinya. Sejak Istrinya meninggal 3 tahun yang lalu, figur Ibu hilang dari diri Mita.

“Kek, kakek nggak usah melarang aku lagi, aku bukan anak kecil lagi” Mita yang dari tadi diam tiba-tiba menjawab omelan kakeknya. Mahmud cukup terkejut dengan jawaban cucunya itu.

“Kamu sudah berani kurang ajar dengan orangtua ya?” hardik Mahmud geram.

“Ayo…. ayo….ikut kakek” Mahmud menarik tangan Mita.

“Tidak mau…..Aku tidak mau, Aku tidak mau ikut” Mita menarik kuat-kuat dan berusaha melepas tangannya dari tangan kakeknya.

“Ikut kakek…..” Karena kalah kuat dengan kakeknya, akhirnya Mita tidak bisa melawan lagi. Mahmud menarik tangan Mita keluar rumah dan terus menarik tangan cucunya sepanjang tangan. Tanpa diduga Mita, Mahmud membawa Mita ke Kantor Polisi.

=====================

Media massa heboh dengan kabar menggemparkan yang menyayat hati. Media massa dari koran, majalah, infotaiment, radio dan televisi membahas masalah ini. Seorang kakek memperkosa cucu kandungnya sendiri berkali-kali. Visum telah membuktikan bahwa selaput dara cucu yang naas tersebut telah sobek. Karena sang cucu masih dibawah umur, masih 16 tahun, sang cucu yang naas disamarkan namanya. Sebutannya diberi media bernama mawar, ada juga yang memberikan nama melati dan juga memberi sebutan bunga.

Kakek yang cabul itu berinisal M, yang bernama lengkap Mahmud. Selain media massa, yang memberi perhatian penuh adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pemerhati perempuan dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Demo LSM meminta menghukum seberat-beratnya pelaku pencabulan dan pemerkosaan.

Mahmud tidak menyangka, keinginannya untuk memberi pelajaran dengan Mita dengan membawa dan menitipkan ke kantor polisi justru berujung pelaporan Mita terhadap dirinya. Mita melapor bahwa dia telah memperkosa cucunya, yang sialnya lagi ada bukti dari dokter dan laboratorium bahwa selaput dara Mita telah sobek.

Mahmud hanya termenung di balik jeruji besi yang penuh sesak dengan kriminal, dia tidak menyangka akan berurusan dengan hukum. Ada sesal dalam dirinya karena terlalu emosi kepada Mita akhirnya berurusan dengan polisi. Kasihan Mita pikir Mahmud. Pasti Mita dalam keadaan terguncang saat ini.

=====================

Sementara itu, Mita diwawancarai banyak wartawan dan didampingi LSM Peduli Perempuan dan Anak. Mereka kasihan dengan Mita yang telah menjadi korban kakeknya sendiri. Mita banyak bercerita tentang kehidupannya, ditinggal orangtua menjadi TKI, hidup dengan kakek dan juga neneknya yang telah meninggal dunia. Rasa sepi kakeknya yang ditinggal mati neneknya itu membuat nasibnya seperti ini.

Rasa simpati mengalir deras, untuk menghilangkan trauma Mita, banyak yang memberi bantuan. Menginap di Hotel berbintang, uang bantuan untuk masa depannya juga diterima. Simpati juga datang dari Politisi dan pejabat pemerintahan. Tetangga juga datang menghibur hati Mita. Mereka tidak menyangka bahwa Mahmud kakek Mita yang rajin ke Masjid dan sering menjadi pengurus Masjid melakukan hal yang dilaknat Agama.

“Mita….Mita….Mita….” merasa ada yang memanggil namanya, Mita mencari sumber suara itu. Ternyata yang memanggil pak RT yang juga tetangganya.

“Ehhh Pak RT, ada apa pak? Tanya Mita melihat pak RT berjalan tergesa-gesa sambil berlari kecil mendekati dirinya. Bu Sundari ketua LSM yang sedang bersama Mita dan sedang diwawancarai wartawati media Infotaiment menghentikan wawancaranya.

“Ada apa pak RT? Sepertinya ada kabar yang mau disampaikan ke saya?” tanya Mita yang perasaan mulai tidak enak.

“Ada kabar buruk Mita” ujar Pak RT

“Kabar apa pak?” Tanya Mita yang makin kuatir

“Kakekmu meninggal dunia!” Kata Pak RT lagi

“Apa?” Mita terkejut setengah berteriak, Mita mulai menangis kencang. Bu Sundari langsung menghampiri Mita dan mencoba menghibur Mita yang masih menangis kencang. Kamera Infotaiment yang tadi mati kembali dihidupkan menyorot suasana ruangan itu.

“Apa yang terjadi dengan kakeknya Mita pak?” tanya Bu Sundari

“Info dari Polisi, Pak Mahmud meninggal dunia karena ditendang dan disiksa oleh Napi lain yang tidak senang dengan Pak Mahmud yang memperkosa cucunya sendiri” jelas pak RT

“Sebelumnya Sel Pak Mahmud sudah dipisahkan dengan tahanan yang lain, sudah ada tanda-tanda penghuni tahanan tidak senang dengan Pak Mahmud, kejadian Naas itu terjadi saat Pak Mahmud diluar sel saat selesai berolahraga pagi, Pak Mahmud hendak menuju ke kamar mandi” lanjut Pak RT

“Ternyata pak Mahmud dibalas Tuhan melalui tangan orang lain” Kata Bu Sundari menghela nafas

“Kakek tidak bersalah……kakek tidak bersalah…..Akulah yang bersalah” tiba-tiba Mita berteriak. Bu Sundari dan Pak RT menatap Mita tidak mengerti maksud Mita. Sorotan kamera Infotaiment langsung menyorot ke Mita

“Aku memfitnah kakek….Kakek tidak pernah memperkosa diriku….Aku saja yang sudah tidak benar. Aku melakukan hubungan seks bebas dengan pacarku. Setiap hari Aku pulang malam, kakek sudah melarangku jangan pulang larut malam tapi aku tetap melakukannya. Kakek membawa ke kantor polisi agar aku diberi pelajaran tapi justru aku menfitnah kakek yang telah memperkosa aku” Mita tertunduk menangis semakin keras. Bu Sudarti, Wartawati dan Pak RT hanya saling memandang. Tukang Kamera yang menyoroti Mita mulai menurunkan kameranya perlahan-lahan dan menghebuskan nafas beratnya. Mereka tidak pernah menyangka kalau mereka sudah keliru.

Fadly Rahman

Jakarta, 09 Oktober 2012

Oktober 9, 2012 - Posted by | CERPEN | ,

1 Komentar »

  1. ternyata punya bakat terpendam juga ya Pak.

    Komentar oleh dian | Oktober 12, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: