Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PERTEMUAN

PERTEMUAN

Bandara Polonia terlihat ramai hari ini. Sepertinya banyak orang-orang Medan dan sekitarnya pergi berlibur diluar Sumatra Utara. Harap maklum bulan ini bulannya anak-anak sekolah liburan. Jayadi tergesa-gesa berjalan menuju pesawat yang akan menerbangkannya ke Jakarta. Sampai didepan pintu pesawat, dia disambut seorang pramugari cantik yang mengucapkan salam selamat datang dan menanyakan nomor tempat duduknya.

Pramugari itu mempersilahkan Jayadi untuk masuk kebagian tengah pesawat. Ada yang aneh dari pramugari itu. Dia sedikit canggung terhadap Jayadi. Memang sekilas Jayadi merasa mengenal wanita itu walaupun wajahnya di polesi make up yang tebal dan gincu  yang menghiasi bibirnya yang tipis.

Pintu pesawat mulai ditutup. Pramugari lalu lalang memeriksa kesiapan penumpang satu persatu. Rasa penasaran Jayadi makin memuncak. saat Pramugari itu lewat di sampingnya, tatapan mereka saling beradu. Pramugari itu berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat seorang pramugari malu-malu melihat penumpangnya.

Saat yang ditunggu-tunggu pun datang. Pembagian makanan dan minuman kepada penumpang. Ini adalah kesempatannya untuk menanyakan nama pramugari itu. Sepertinya Jayadi harus memendam keinginannya itu. Pramugari yang diincarnya tidak melayaninya tapi melayani di kelas Bisnis saja.

=========================

Pesawat mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Pramugari itu belum menampakkan wajahnya yang cantik. Terakhir Jayadi melihatnya, dia berada dibagian depan. Jayadi mempersiapkan segala perlengkapannya untuk turun dari pesawat ini. Perasaannya mengatakan, dia harus mengetahui pramugari yang sepertinya Jayadi mengenalnya. Ia memutuskan berjalan keluar melalui pintu depan walaupun seharusnya dia lebih dekat keluar melalui pintu belakang.

”Terima kasih pak! Selamat jalan ” dua orang pramugari mengucapkan salam kepada penumpang.

”Terima kasih Kembali!” Jayadi membalas salam mereka sambil menghentikan jalannya dan memandang salah satu pramugari. Wajah pramugari yang dipandanginya langsung tertunduk sedangkan temannya hanya tersenyum sambil melihat Jayadi yang sedang menatap tak berkedip. Jayadi meminggirkan tubuhnya agar tidak mengganggu penumpang lain yang mau lewat.

”Maaf! Boleh saya bertanya! Jayadi membuka perbicaraan.

”Iya Bang Jaya! Jawab pramugari itu dengan lembut. Jayadi terkejut dan perasaan gembira dirinya dipanggil dengan sebutan Abang bukan bapak.

”Apa kita pernah saling kenal?” tanya Jayadi dengan penasaran

”Iya. Saya Adik kelas bang Jaya saat kuliah dulu” pramugari itu menjelaskan dan wajahnya sudah tidak tertunduk lagi

”Ooo… makanya saya merasa kenal dengan kamu. Tapi saya lupa namamu”

”Nama saya Dewi”

”Dewi? Jayadi diam dan mencoba memikirkan nama itu.

”Saya tidak bisa mengingatnya!” Jayadi memadang pramugari itu, suasana didalam pesawat sudah tidak ada penumpang.

”Iya. Hanya saya mengingatnya! Dewi  menggapit tangan Jayadi dan mengajaknya duduk dikursi pesawat.

”Waktu saya diplonco, abang sebagai Koordinatornya” Jayadi mengangguk, dulu dia memang aktif diorganisasi kampus.

”Waktu itu abang membela saya, saat kakak senior berlebihan memplonco saya” Dewi  menjelaskan panjang lebar.

”Saya tetap tidak mengingatnya, karena banyak mahasiswi yang saya plonco.” Jayadi memegang kepalanya yang pusing memikirkan masa lalu saat kuliah dulu.

”Kamu sudah menikah? Tanya Jayadi

”Belum!” Jawab Dewi cepat. Wanita cantik itu tidak menyangka mendapatkan pertanyaan seperti itu.

”Abang sudah menikah? Dewi balik bertanya sambil menundukkan wajahnya.

”Belum juga” Mendengar jawaban itu. Ada kelegaan di perasaan Dewi.

”Kenapa belum bang? Tanya Dewi 

”Kalau kamu kenapa? Jayadi kembali bertanya. Dewi merasa tersudut dia pun tidak bisa menjawab dan hanya bisa tersenyum.

”Nanti sore kamu ada waktu?”

”Saya harus kembali ke Medan sebentar lagi”

”Saya mengajak kamu untuk makan malam bersama” ajak Jayadi kembalii.

”Aku belum bisa meninggalkan tugasku bang” Ujar Dewi menyesali.

”Kamu permisi dengan pimpinanmu”

Dewi  berdiri kemudian dia masuk kedalam kokpit. Beberapa saat kemudian dia keluar.

”Ok bang, boleh! Aku sudah dapat izin dari pilot”

”Kita jalan sekarang yuk!” Ajak Jayadi tidak sabar

”Nanti saja bang! Saya harus membuat laporan terlebih dahulu. Nanti saya susul, ini kartu nama saya disitu ada nomor hpnya” Jayadi menerimanya dan memperhatikan ada beberapa nomor tertulis disitu.

”Baiklah! Saya duluan ya. Nanti saya hubungi kamu”

Jayadi tersenyum kemenangan dan mulai menuruni anak tangga pesawat. Sementara itu Dewi  bahagia sekali, sekian lama dia mendambakan pria ini. Dia sangat mengagumi Jayadi. Sekaranglah kesempatannya untuk mendapatkan cinta Jayadi. 

===================

Dewi keluar dari terminal II, Bandara Soekarno Hatta. Dewi melihat sekelilingnya. Dewi mencari Jayadi, harapannya Jayadi menunggunya. Dari kejauhan terlihat sosok pria mirip Jayadi, dan Dewi ingat pula, pakaian yang dikenakan Jayadi tadi persis sama dengan yang dipakai pria mirip Jayadi.

”Jay….” Dewi menahan panggilannya. Tampak olehnya Pria mirip Jayadi berdiri menyambut seorang wanita yang sedang menggendong balita perempuan. Wanita tersebut berkerudung cantik dan pria itu pun mencium balita perempuan yang ada digendongan wanita tersebut. Pria yang mirip Jayadi itu berlalu. Tanpa terasa, air mata berlinang dipipi Dewi.  

Fadly Rahman

Jakarta, 5 Desember 2010

Desember 5, 2010 - Posted by | CERPEN

1 Komentar »

  1. Wau……….

    Komentar oleh Herizal Alwi | Desember 9, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: