Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

GADIS PENJUAL BUNGA KUBURAN

Lebaran pertama ini aku berziarah ke kuburan Mamakku. Aku pergi bersama istriku, serta kedua adik perempuanku. Aku teringat peristiwa dua tahun yang lalu.
“razak, sekali-kali kau ziarahi kubur mamakmu” suruh ayah kepadaku.
“Nantilah yah, aku tak sempat, kerjaanku banyak” alasanku sambil mengetik pekerjaan kantor yang ku bawa pulang.
Setelah mendengar penjelasanku, ayahpun berlalu kembali ke ruang TV. Disana sudah ada kedua adikku dan ibu tiriku yang sedang menikmati acara TV. Ayah menikah lagi setelah mamak meninggal dunia 1 tahun yang lalu. Sebelum menikah Ayah sangat rajin ke kuburan Mamak. Namun setelah menikah 3 bulan yang lalu, Ayah tidak pernah ziarah ke makam Mamak lagi. Apa mungkin karena sudah menikah lagi dan mengurus istri barunya atau karena menjaga perasaan istri barunya saja. Entahlah! Tapi sudah beberapa hari ini Ayah memintaku untuk berziarah ke makam Mamak. Selama ini aku belu pernah lagi ke makam Mamak, mungkin karena aku terlalu sibuk mengurus pekerjaanku. Aku baru dua kali saja ke makam Mamakku. Pertama saat pemakamannya, kedua kali saat mengurus pembayaran penjaga kuburan yang menambahkan tanah diatas kuburan Mamak yang tanahnya turun.
Suatu hari aku lewat perkuburan dimana Mamakku dikuburkan. Sebenarnya tidak ada niat untuk lewat diarea itu. Berhubung jalan yang seharusnya aku lewati macet sekali dan ditutup karena ada mobil terbakar, sedangkan aku ada perlu dengan klienku.
Tiba-tiba aku ingin singgah ke kuburan ibuku. Aku membelokkan mobilku dan memakirkan didepan penjual bunga kuburan. Keluar dari mobil langsung disambut seorang gadis penjual bunga kuburan. Sejak saat itu, setiap hari aku mampir dan berziarah ke kuburan Mamakku.

==============

Suatu hari aku ketemu dengan Ayahku di kuburan. Entah kenapa Ayahku ziarah ke kuburan Mamak hari ini, mungkin dia rindu. Ayah sedang berdoa ditemani seorang wanita tapi bukan Ibu tiriku dan juga bukan adikku tapi aku mengenal baik ciri-ciri wanita itu, sepertinya aku mengenalnya. Seorang gadis cantik dan berjilbab jingga. Aku mendekati mereka.
“Assalamualaikum Ayah. Assalamualaikum Aisyah” ucapku lirih.
“Waalaikumsalam” jawab mereka serentak.
Ayah memandangku dan juga gadis yang kupanggil Aisyah. Aku hanya tersenyum sedikit malu dan salah tingkah.
Razak….razak….mengapa kau tidak bercerita tentang Aisyah?
Ayah berdiri dan memandang Aku dan Aisyah.
“Ayah tidak akan mengenal Aisyah kalau dia tidak mendatangi Ayah” kata Ayah lagi.
Aku pun memandang Aisyah.
“Maaf bang! Sebelumnya Ayahmu membeli bunga denganku tapi aku tidak mengetahui kalau bapak yang membeli bunga itu adalah Ayahmu. Aku baru sadar saat Ayahmu menziarahi kuburan ibumu bang” cerita Aisyah
Begitulah aku mengenang masa-masa bertemu dengan istriku. Terkadang aku merasa durhaka kepada Mamak. Justru aku mengunjungi kuburan Mamak setelah aku tertarik dengan gadis penjual bunga kuburan yang menarik hatiku. Hampir setiap hari aku menziarahi kuburan Mamak hanya ingin membeli bunga dari si gadis penjual bunga kuburan dan mengenalnya lebih dekat. Gadis itu yang akhirnya menjadi pacarku dan sekarang menjadi istriku.

Jakarta, 10 Agustus 2014
Fadly Rahman

Agustus 20, 2014 - Posted by | CERPEN, Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: