SITUS TROWULAN, PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT
SITUS TROWULAN
PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT
Ditempuh hanya 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan Mobil dari Surabaya ibukota Jawa Timur. Sebuah lokasi peninggalan bersejarah yakni bekas peninggalan kerajaan Majapahit. Kerajaan yang di dirikan oleh Raden Wijaya ini ditemukan reruntuhannya di kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur.
Menurut Ying-Yai Sheng-Lan yang ditulis seorang Petualang Tiongkok yang bernama Mahuan, menggambarkan tentang kota Majapahit atau Man-Che-Po-i. Majapahit digambarkan sebagai tempat tinggal raja yang dikelilingi tembok bata. Istana seperti rumah bertingkat dan atapnya terbuat dari kayu tipis disusun seperti ubin keramik. Lantainya terbuat dari papan yang ditutupi anyaman tikar pandan dan rotan.
Berdasarkan berbagai sumber tertulis didapatkan pula gambaran mengenai tata ruang perkotaan Majapahit. Kota Majapahit berorientasi ke Utara. Semua bagian penting berada di sebelah selatan. Pola kota terbagi menjadi 9 zona yang dibatasi oleh jalan-jalan yang berpotongan. Tempat tinggal raja terletak di tengah, sedangkan bagunan suci berada di sebelah barat daya kota.
Banyak ditemukan situs-situs penting disekitar situs Trowulan. Sampai saat ini telah ditemukan 14 situs bersejarah kerajaan Majapahit. Majapahit yang menguasai beberapa kota pelabuhan seperti Tuban, Gresik dan Surabaya, sehingga Majapahit telah dikunjungi banyak pedagang dari luar Majapahit. Bukti-bukti banyaknya kunjungan pedagang-pedagang asing telah ditemukan berbagai macam benda-benda arkeologis seperti keramik porselin Cina yang berasal dari Dinasti Song, keramik Vietnam dan Thailand. Koin-koin sebagai alat tukar masa Majapahit juga banyak ditemukan uang Gobog dan uang Ma dari perak atau emas. Terdapat juga kepeng Cina yang berasal dari Dinasti Tang, Song, Ming dan Qing yang berlaku di Majapahit.
Fadly Rahman
Jakarta, 02 Februari 2010
Sumber : Drs, I.Made Kusumajaya M.Si, Drs. Aris Soviyani, M.Hum, Wicaksono Dwi Nugroho, M.Hum, Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan
PERADABAN MELAYU KUNO (KOMPLEK CANDI MUARO JAMBI)
PERADABAN MELAYU KUNO
KOMPLEK CANDI MUARO JAMBI
Komplek candi Muaro Jambi terletak di tepi sungai Batanghari kurang lebih 22 kilometer arah timur kota Jambi. Berada di wilayah Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Komplek candi Muaro Jambi merupakan komplek candi terluas di Asia Tenggara. Dua puluh kali lebih luas dari komplek Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari komplek Candi Angkor Wat di Kamboja. Komplek ini mempunyai luas 12 kilometer persegi (sekitar 2.062).
Pada tahun 1954, situs-situs ahli-ahli purbakala Indonesia dibawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dipimpin oleh R. Soekomo menyimpulkan ada hubungan situs ini dan kerajaan Sriwijaya. Dan banyak yang meyakini bahwa komplek candi Muaro Jambi merupakan ibukota kerajaan Sriwijaya atau Melayu Kuno masa lalu. Awal tahun 2010, ada terdapat 11 candi yang telah dipugar dan masih 82 candi yang masih terkubur di dalam tanah yang disebut Menapo oleh masyarakat sekitar candi.
Telah ditemukan juga keramik-keramik yang sebagian besar berasal dari cina Abad IX hingga XIV. Dalam jumlah lebih sedikit ditemukan pula keramik-keramik asal Asia Tenggara seperti Thailand, Khmer (Kamboja), dan Myanmar (Burma) yang terbuat dari porselen atau bahan batuan. Keramik-keramik Asia Tenggara berusia lebih muda sekitar abad XIII dan setelahnya.
Selain keramik ditemukan juga sejumlah kecil manik-manik kaca dan batu. Juga ditemukan mata uang emas, cincin emas dan potongan-potongan perhiasan emas. Termasuk artefak yang ditemukan di Situs Muaro Jambi. Benda-benda logam emas ini berbentuk lempengan-lempengan tipis. Dan hanya sedikit benda perunggu yang ditemukan disitus Muaro Jambi.
Letak bangunan-bangunan purbakala di Muaro Jambi yang berdekatan dan penemuan banyaknya benda-benda kuno lainnya, meyakinkan para ahli-ahli purbakala menghubungkan Situs Muaro Jambi dengan kerajaan Melayu Kuno (Sriwijaya). Keyakinan itu sangat beralasan bahwa tidak ada situs lain yang memiliki kepadatan purbakala selain komplek Candi Muaro Jambi.
Fadly Rahman
Jakarta, 02 Februari 2010
Sumber :
- Kompas, Candi Muaro Jambi, Desa Wisata Pelengkap Warisan Budaya, Nusantara, Sabtu, 16 Januari 2010, Hal 24
- Kompas, Pusara Keabadian ”Menopo” Muaro Jambi, Tanah Air, Sabtu, 16 Januari 2010, Hal 1, 11
- Perhimpunan Pelestarian Muara Jambi, Titik Temu Jejak Peradaban di Tepi Batang Hari, Pameran Foto, Artefak, film Dokumenter dan diskusi situs Muara Jambi, Bentara Budaya, Jakarta 9-11 November 2006
JAPAN AIRLINES BANGKRUT
JAPAN AIRLINES BANGKRUT
Gaya pemasaran Jepang dengan praktek Murah, berteknologi tinggi dan punya Rasale Value. Pada era 1980an, Philip Kotler mengeluarkan sebuah artket yang berjudul ”the World’s Champions Marketers : The Japanese”. Dan Peter Drucker seorang ahli Manajemen juga menyatakan “Pada saat sebagian besar Negara di Dunia berbicara soal marketing, orang-orang Jepang sudah melakukannya”. Semangat Kaizen yang ingin selalu melakukan perbaikan dan genchi genbutsu (pergi dan lihatlah sendiri) untuk memahami situasi merupakan salah satu kunci sukses Jepang memasarkan produknya di berbagai negara.
Gaya pemasaran Jepang dan semangat Kaizen sepertinya tidak berlaku bagi manajemen Japan Airlines (JAL). Manajemen yang amburadul bertahun-tahun, biaya-biaya yang terus meningkat dan anjloknya penumpang menambah derita JAL. Persaingan keras dari maskapai penerbangan dunia, baik Asia dan Amerika Serikat (AS) juga terus menghantam JAL yang terkenal aman dan mahal.
JAL memiliki utang 25 miliar dolar AS. Kebangkrutan ini juga merupakan kebangkuratan terbesar dalam sejarah perusahaan Jepang diluar perusahaan keuangan. JAL menyatakan diri bangkrut dan meminta perlindungan hukum. Dukungan besar pemerintah besar tidak mampu menyelamatkan JAL dari kebangkrutan.
Fadly Rahman
Jakarta, 24 Januari 2010
Sumber :
- Marketing, Gaya Marketing Asia Timur : Pergi dan Lihat Sendiri, Segmen Utama, 01/X/Januari 2010.
- Kompas, JAL, Akhir Keemasan Ekonomi Jepang, Internasional, Minggu 24 Januari 2010, Hal 10
DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP (BAGIAN TERAKHIR)
DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
Rasa lapar mulai menggrogoti perut mereka. Suara keroncongan terasa mulai terdengar ditelinga. Jayadi dan Dewi sudah berjalan menyelusuri sungai dari jembatan sekitar dua jam lalu. Tanpa terasa mereka tiba disebuah perkebunan kelapa sawit dan menjumpai pekerja-pekerja kebun di sekitar sungai. Salah satu pekerja, pria setengah baya sedang berjalan menuju sungai. Pekerja itu menghusap wajahnya dengan air sungai persis tidak jauh dari persembunyian Jayadi dan Dewi. Tiba-tiba Jayadi bergerak cepat mendekati. Dewi terkejut sehingga Ia mengeluarkan suara. Suara Dewi mengejutkan pekerja itu tapi Jayadi dengan sigap menerkam si pekerja dan menutup mulutnya supaya jangan berteriak
”Tolong kami, Pakcik!” bisik Jayadi kepada sipekerja
”Tolong jangan berteriak” lanjut Jayadi sambil menggangkat telapak tangannya dari mulut sipekerja lalu menarik tangannya mendekati tempat Dewi berada.
”Kalian berdue siape?” tanya si pekerja dengan logat melayunya
”Kami pelancong dari Indonesia!, kami tersesat Pakcik” jawab Jayadi. Sipekerja memperhatikan mereka berdua, ditatapnya dari atas kebawah. Tampak dia mulai tersenyum meyakinkan dirinya bahwa dua orang yang didepannya memang pelancong sedang tersesat.
“Ya, Saye yakin kalau kalian berdue pelancong. Saye lihat dari penampilan kalian berdue tidak mungkin pendatang haram!” Jayadi dan Dewi menghela nafas tanda kelegaan.
“Kenalkan name saye Burhan, Saye juge dari Indonesie tepatnya dari Tanjung Balai, Sumatera Utara!” katanya lagi sambil mengulurkan tangannya kepada Jayadi dan Dewi.
“Saya Jayadi pak, ini Dewi!” Jayadi dan Dewi menyambut tangan pak Burhan. Senang rasanya ternyata mereka berdua bertemu dengan sesama orang Indonesia.
============================
”Mari makan, hanya ini yang kami punye!” pak Burhan membawa mereka ke Gubuk tempat dia dan ke tiga temannya tidur dan Dia pun menghidang beberapa buah-buahan jatahnya untuk Jayadi dan Dewi.
”Awak berdue disini saje, nanti saye belikan nasi lemak!, istirahatlah dulu!” pak Burhan meninggalkan mereka lalu menutup pintu gubuk.
”Wi, kamu tidur dulu dibalai-balai itu! Aku disini berjaga-jaga” Dewi pun merebahkan tubuhnya ke balai-balai kayu yang dibuat seadanya itu. Sesaat kemudian Dewi pun tertidur lelap. Jayadi duduk di kursi melipatkan kakinya untuk menopang dagunya. Hembusan angin yang masuk dari sela-sela kayu gubuk perlahan-lahan membuat dirinya tertidur juga.
”cieettt,” Jayadi terbangun dan melompat dari kursi, bunyi pintu terbuka membangunkan dirinya dari tidur
”Tenang, tak ade ape-ape, saye yang tibe” Pak Burhan masuk tapi kali ini dia masuk dengan tiga temannya.
Satu persatu memperkenalkan diri. Teman-teman pak Burhan semuanya orang Indonesia, yang gemuk pendek namanya Amin dari Cirebon, yang tinggi kurus namanya namanya Asep dan yang gempal namanya Ujang dari Sukabumi. Perbincangan diantara mereka pun terjadi sambil menyuap nasi yang dibawa pak Burhan. Mereka bercerita bahwa mereka bertiga sudah dua tahun bekerja disini dan hanya pak Burhan yang cukup lama, sudah 7 tahun, sebelumnya Pak Burhan bekerja di perkebunan lain walaupun pemiliknya sama. Mereka semua bekerja disini secara syah atau legal, jadi nggak perlu takut dikejar-kejar. Merekapun menanyakan apa yang terjadi dengan Jayadi dan Dewi, Akhirnya Jayadi pun bercerita bagaimana mereka sampai ditempat ini.
’Tolong…tolong!”tiba-tiba Dewi berteriak dan mereka menghentikan perbincangan
”Wi…wi…bangun, ada apa?” Jayadi menguncang-guncang tubuh Dewi. Keringat dingin membasahi baju dan wajahnya. Dewi langsung terbangun dan duduk bersandar didinding kayu gubuk.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya mimpi buruk” lalu Dewi melihat disekelilingnya dan melihat tiga wajah asing didepanya. Lalu Jayadi pun memperkenalkan mereka.
=========================
Setelah shalat Shubuh, Jayadi dan Dewi memutuskan pergi dan perkebunan ini. Mereka kuatir kedatangan mereka akan berdampak buruk ke teman-teman barunya itu. Di perkebunan itu tidak hanya mereka berempat saja. Ada beberapa gubuk yang ditinggali masing-masing 4 orang penghuninya. Dengan ditemani pak Burhan, mereka diam-diam menuju jalan perkebunan yang disana sudah menunggu Asril keponakan pak Burhan yang tugas sehari-hari membawa tandan-tandan kelapa sawit ke pabrik pengolahan. Asril hanya bisa mengantarkannya ke perkampungan.
”Ini wang 50 Ringgit dari kami, untuk diperjalanan!” Pak Burhan menyelipkan uang ringgit ke tangan Jayadi
”Terima kasih pakcik” Jayadi menerima dengan berat hati, apa boleh buat mereka memerlukan uang Ringgit ini.
Merekapun berangkat dengan tetap waspada. Selama perjalanan Asril memberi petunjuk bagaimana mereka dapat pulang ke Indonesia. Satu-satunya jalan mereka harus ikut kapal Tongkang masuk ke Indonesia.
”Namanye Zulashar, Awak berdue harus tibe di Kukup sore hari. Tongkang berlayar malam hari!” Asril memberikan sebuah nama dan alamat orang yang bisa dapat membantu mereka. Dia orang Indonesia yang bekerja di kapal Tongkang dan biasa keluar masuk Malaysia menyeludupkan pekerja-pekerja Ilegal.
”Katakan nama saye pada Si Zul, ceritakan segalanya. Dia sahabatku dikampung!”
Setelah sampai di pertigaan kampung, mereka berpisah dan Asril menitipkan mereka berdua kepada petani sayur-sayuran yang mau berangkat ke Johor Bahru untuk menjual hasil pertanian mereka. Sebelum berpisah, Asril memberikan tambahan uang 30 Ringgit.
====================
Setelah beberapa jam di perjalanan, Jayadi dan Dewi tiba di Johor Bahru. Mereka diturunkan dipinggir kota setelah menumpang dengan mobil petani sayur.
”Bang, lapar nih!” Dewi mulai merasakan lapar. Memang mereka berdua belum sarapan pagi dari tadi shubuh. Tidak jauh dari mereka berdiri terlihat minimarket yang bertuliskan SevenEleven yang buka. Mereka membeli beberapa potong roti dan air mineral.
Perjalanan mereka lanjutkan, masalahnya sekarang mereka harus mencari kendaraan menuju Kukup. Seperti yang dikatakan Asril mereka harus sampai disore hari. Mereka menghindari Station Kereta api dan Bis antar kota, juga menghindari keramaian yang mencolok dikuatirkan ada yang mengenal mereka atau Polis Diraja Malaysia yang mungkin saja sedang mencari mereka. Melewati jalan di pinggir kota Johare Bahru tidak beda jauh dengan pinggiran kota Jakarta pagi hari. Wajah-wajah Melayu mendominasi pemandangan pekarangan rumah-rumah, hanya beberapa yang Tionghoa dan India. Kesamaan paras wajah membuat mereka berdua leluasa berjalan di pinggir kota yang tidak begitu ramai. Hanya logat bahasa saja yang berbeda. Apabila berbicara, Jayadi berusaha menggunakan logak Melayu Semenanjung.
Setengah jam berjalan, mereka memasuki daerah industri dan perdagangan. Mereka juga akhirnya menemukan tempat pemberhentian atau peristirahatan untuk para supir dan kendaraannya. Pusat peristirahatan yang dilengkapi parkir luas, kedai-kedai (warung) makanan, Surau, dua merk pom bensin yang bersaing satu Petronas yang lain Shell.
=====================
”Pakcik ke Kukup?”Jayadi menanyakan satu persatu tujuan supir-supir truk yang keluar dari kedai
”Tak, saye ke Kuala Lumpur!” begitulah jawaban supir-supir, ada juga yang ke Malaka dan Singapura, jarang yang Kukup. Jaya tidak putus asa, dia terus bertanya dan mengejar waktu sampai ke Kukup harus sore hari. Perjuangannya tidak sia-sia, ada satu Mobil Box pengantar Ikan yang ke arah sana. Mobil tersebut baru selesai mengantar ikan-ikan segar hasil penangkapan nelayan-nelayan Kukup ke beberapa restoran di Johor Bahru.
Tidak ada tempat lagi didepan mobil, mau tidak mau mereka harus duduk di belakang dalam box mobil yang dipakai untuk mendinginkan ikan. Box mobilnya masih dingin dan bau amis.
”wuekkk”sekali-sekali Dewi muntah karena tidak tahan baunya
”Sabar ya wi, sebentar lagi kita sampai” Jayadi berusaha menghibur Dewi. Sekali-sekali Dewi menangis apabila Ia mengingat kejadian-kejadian yang tidak mengenakannya beberapa hari ini. Sudah itu dinegeri orang yang sanak saudaranya tidak ada untuk tempat mengadu dan membela.
Perjalanan yang melelahkan ini ingin rasanya mereka akhiri tapi apadaya mereka saat ini sedang mengalamina, mereka hanya berusaha dan berdoa semoga masalah-masalah yang timbul dinegeri orang segera berakhir dan mereka pun bisa hidup normal kembali.
=====================
Tiba-tiba laju mobil berhenti. Terdengar sayup-sayup suara diluar orang berbicara. Terdengar juga suara sirene polisi.
”Bangun wi! Gawat, kita harus sembunyi!” Jayadi membangunkan Dewi
”Ada apa bang?” tanya Dewi terkejut
”Kamu masuk kedalam kotak es itu”
”Masuk kedalam kotak ini?”
”Iya! Cepat nanti kita tertangkap” mendengar kata-kata tertangkap, Dewi mulai panik dan langsung masuk kedalam kotak dan berbarik didalamnya
”Bang, dingin sekali”
”Tenang wi, hanya sebentar”
”Bruk” lalu Jayadi menutup pintu peti dan dia pun melakukan hal yang sama dengan dirinya.
”Cieettt, Bruk” tidak beberapa lama pintu mobil box dibuka orang dari luar.
”Cobe pakcik tengok, tak ade ape-ape kan! Jayadi mendengar suara supir Box meyakinkan polisi
”Oke lah,!”
”Bruk” pintu mobil kembali ditutup. Mobil mulai berjalan. Jayadi secepat kilat keluar dan membuka pintu peti.
”Arghhhhh….dingin bang!” Jayadi mengangkat Dewi yang mengigiil kedinginan
”Maafkan aku” Jayadi memeluk Dewi dan memegang tangannya untuk mengurangi rasa dingin Dewi.
====================
”Bruk, Hai! Awak bedue masih ade?” Jayadi dan Dewi terkejut, suara pintu mobil box dibuka dengan kencang dan membuat mereka terjaga.
”Saye kire sudah aka de”
“Kite sudah tibe di Kukup!” Jayadi dan Dewi bersamaan berdiri, senyum mengembang di bibir mereka
“Terima kasih pakcik! Jayadi dan Dewi menyalami satu persatu penolong mereka.
”Kami minta maaf telah merepotkan, kami terburu-buru. Kami permisi!” Jayadi dan Dewi pamit, mereka harus segera bertemu Zulashar dan terlebih dahulu mereka harus mencarinya.
”Pakcik, saya mau bertanya? Mengapa Pakcik menolong kami saat Polis memeriksa dalam box mobil?”tanya Jayadi penasaran.
”Iyelah! Bahaye untuk kita!” Supir mobil box pengantar ikan berlalu dan Jayadi menatap dari kejauhan pahlawan mereka hari ini. Tapi ada yang disesali Jayadi, dia lupa menanyakan nama mereka.
Jayadi dan Dewi berjalan menuju pelabuhan. Mereka diberi petunjuk Asril kalau Zulashar ada dipelabuhan tersebut. Alamatnya hanya terdapat disebuah hotel kecil yang bernama Hotel Menanti persis di depan pelabuhan Kukup. Biasanya dia tinggal dihotel hanya beberapa hari saja untuk menemui beberapa klien atau pelanggannya selebihnya lebih banyak di kapal tongkang. Zulashar seorang Nahkoda kapal tongkang itu. Sedangkan kapal tongkang kepunyaan seorang toke dari Tanjung Balai.
Tidak terlalu lama mereka mencari Hotel Menanti. Mereka langsung menuju resepsionis hotel.
”Pakcik, kami mencari orang yang bernama Zulashar” Lalu resepsionis mencari nama dibuku daftar tamu.
”Mr Zulashar tidak ade ditempat, boleh tuan-puan menunggu sebentar, mungkin sebentar lagi balik” Jayadi dan Dewi dipersilahkan menunggu di lobi Hotel yang ruangnya tidak terlalu besar. Tapi tetap nyaman daripada diluar yang panas.
====================
“Selamat siang! Anda mencari saya?” seorang berbadan tegap dan berkulit hitam terbakar berdiri didepan Jayadi dan Dewi
”Kenalkan nama saya Zulashar!” pria yang bernama Zulashar mengulurkan tangannya dengan ramah. Jayadi dan Dewi berdiri dan menyambut uluran tangannya.
”Nama saya Jayadi”
”Dewi!”Jayadi dan Dewi memperkenalkan diri masing-masing dan merasakan secercah harapan mulai timbul dibenak mereka.
”Ada keperluan apa mencari saya?” tanya Zulashar lagi
”Sebelumnya kami minta maaf, kami kenal saudara dari Asril karyawan perkebuanan di Johor Bahru.
”Oooo….si Asril! masih hidup dia? ha..ha…” Zulashar tertawa mendengar nama Asril dan suasana pun mulai mencair
”Iya…saya tau dia. Asril itu sahabat saya sejak kecil! Dia itu saya yang bawa kemari” Zulashar menceritakan tentang hubungannya dengan Asril.
”Begini, kami ini punya masalah ke imigrasian tapi masalah ini bukan kehendak kami” Lalu Jayadi dan Dewi menceritakan kejadian yang menimpa mereka. Zulashar sekali-sekali mangut-mangut mendengar cerita mereka.
”Baik! Saya akan membantu kalian berdua!”Zulashar langsung memberi reaksi setelah Jayadi dan Dewi menyelesaikan ceritanya.
”Ini uang dari kami” Jayadi menyodorkan uang 50 ringgit yang ada di kantongnya.
”tidak perlu sekarang, nanti saja setelah kalian berdua masuk wilayah Indonesia” Zulashar menolaknya dan mengembalikannya ke Jayadi
”Ini bisnis, saya melayani kalian berdua, setelah selesai baru kalian bayar!” lanjut Zulashar
”Besok malam saya mau berangkat, urusan saya disini belum selesai!, kalian menginap dimana?” tanya Zulashar, yang ditanya malah kebingungan.
”Begini saja! Kalian berdua menginap di kapal saya, ada tempat tidur didalam kapal, kalian bisa memakainya”
”terima kasih…terima kasih sudah membantu” ujar Jayadi dan Dewi bersamaan
”Ayo ikut saya!” Mereka bertiga keluar dari Hotal Menanti menuju kapal tongkang yang sedang berlabuh. Tidak berapa lama mereka sudah sampai sampai tujuan. Mereka naik ke kapal tongkang yang bertuliskan Sei Kepayang Ekspress. Sudah banyak barang-barang yang ditumpuk rapi, sepertinya kapal ini sudah siap-siap berangkat.
====================
”Jayadi….dewi…”sayup-sayup terdengar suara memanggil mereka dikejauhan. Mereka berdua yang sedang bersantai menikmati kenyamanan setelah berjalan dan mengalami peristiwa yang menegangkan, dikejutkan panggilan yang sepertinya tergesa-gesa. Dari kejauhan Zulashar berlari naik ke atas kapal tongkang.
”Ada apa Zul?” tanya Jayadi yang meloncat ke atas kapal
”Kalian harus cepat-cepat sembunyi!” jawab Zulashar sambil memegang dadanya, menormalkan nafasna yang tersengal-sengal
”Ada apa lagi nih?” Jayadi mulai kesal dengan keadaan ini
”Ada Razia pelabuhan. Biasanya mereka mengecek semua kru-kru kapal yang tidak berizin begitu juga barang-barang yang tidak ada izinnya” Zulashar menjelaskan untuk menyakinkan Jayadi
”Kalian berkemas-kemas secepatnya!, bersembunyi dulu sembentar” Jayadi menarik tangan Dewi kedalam, mereka harus segera mengambil barang-barang mereka yang sedikit itu.
”Cepatlah! Aku antar kalian ke teman-teman yang lain” menurut penjelasan Zulashar, beberapa kru-kru kapal Sei Kepayang Ekspress yang tidak mempunyai izin sudah bersembunyi duluan.
Mereka berjalan tergesa-gesa menuruni tanggal kayu ang menghubungi kapal tongkang dan daratan pelabuhan. Pergerakan mereka yang tergesa-gesa itulah membuat curiga dua orang petugas pelabuhan yang sedang operasi memerikasa kapal tongkang yang jaraknya 500 meter dari kapal tongkang Sei Kepayang Ekspress.
”Hai, stop!” dua petugas tersebut mulai berjalan mendekat ke Jayadi, Dewi dan Zulashar yang berbalik kearah berlawanan
”kita berjalan pelan-pelan, anggap saja kita tidak mengetahuinya” kata Zulashar
”Kalian bertige, berhenti!” petugas pelabuhan itu mulai mengeraskan suaranya
”lariiii….ayo lariii…” teriak Zulashar. Melihat keadaan yang tidak memungkinkan, Jayadi dan Dewi pun ikut berlari secepat-cepatnya menghindari razia petugas-petugas pelabuhan.
===================
“Kita … sembunyi … disini saja” Ujar Jayadi dengan suara tersengal-sengal, sepertinya mereka lolos dari kejaran petugas-petugas pelabuhan. Jayadi merebahkan badannya ke kardus-kardus bekas di pembuangan sampah yang sekarang menjadi tempat mereka sembunyi dan Dewi mengambil tas Jayadi yang dibiarkan begitu saja. Suasana hening dan suara angin laut berhembus. Suara plastik-plastik bekas berkibar-kibar diterpa angin laut. Langit yang mulai gelap, mataharipun sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Harusnya malam ini mereka berlayar menuju tanah air.
”Kita berangkat” Ajak Jayadi memecah kesunyian
”Mau kemana?” Suara Jayadi mulai meninggi
”Kalau kembali ke kapal Tongkang, nggak mungkin. Ada cara lain agar kalian bisa pulang ke Indonesia” Zulashar mencoba meyakinkan Jayadi dan Dewi yang mulai putus asa.
”Kalian berdua akan masuk ke Indonesia melalui Nelayan Malaysia” Zulashar mulai menjelaskan maksudnya.
”Biasanya Nelayan Malaysia menangkap ikan pada tengah malam” Zulashar berdiri dan menatap Jayadi untuk lebih meyakinkan lagi
”Mereka biasa menangkap ikan di Indonesia. Untuk menghindari patroli laut mereka beroperasi tengah malam” Jayadi mulai yakin dengan penjelasn Zulashar. Jayadi berdiri diikuti Dewi.
”Kalian nanti di turunkan di Batam atau Tanjung Pinang” jelas Zulashar mengakhiri penjelasannya.
Mereka berjalan di kegelapan malam melalui pinggiran pelabuhan untuk menghindari patroli dan razia. Mereka berjalan menuju pelabuhan kapal-kapal nelayan penangkap ikan di Kukup. Cukup lama dan jauh mereka berjalan, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.
”Ada berapa uang kalian?” tanya Zulashar
”Kami hanya ada 100 ringgit” Jayadi menyerahkan semua uang yang ada dikantongnya
”mmm….terlalu sedikit uangnya, ada lagi” tanya Zulashar
”nggak ada lagi, itu semua uang kami” jawab Jayadi
”baiklah….aku coba meyakinkan nelayan-nelayan itu supaya kalian bisa ikut” Mereka bertiga berjalan mendekat ke sebuah kapal nelayan yang sedang bersiap-siap berlayar.
”Pakcik, hendak berlayar kemane? Tanya Zulashar dengan loga melayunya
”Siapa pula adik ini bertanye seperti itu!” seorang Nelayan bertanya kembali ke Zulashar karena pertanyaan Zulashar seperti pertanyaan seorang petugas atau polisi
”Maaf pakcik, bukan serpeti itu yang saye maksud” Zulashar menyalami Nelayan-Nelayan yang berdiri didepan mereka. Jayadi dan Dewi ikut-ikutan pulan menyalami.
”Saye minta tolong sangat!, pakcik-pakcik menolong teman-teman saye diturunkan ke Tanjung Pinang” Zulashar menurunkan nada bicaranya dan mulai merayu seorang Nelayan yang sepertinya kepala para Nelayan.
”Saye ade 50 ringgit untuk pakcik, bantulah!” Zulashar menyerahkan uang 50 ringgit ke tangan Nelayan tersebut. Jayadi mengerutkan keningnya, dalam pikirannya kurang ajar juga si Zulashar hanya memberikan 50 ringgit sedangkan dia memberikan 100 ringgit.
”Mane bise, terlalu sikit ni! Hanye 50 ringgit, tak ade lebih?” tanya Nelayan itu lagi. Lama Zulashar berpikir dan sekali-sekali memandang Jayadi.
”Baiklah pakcik, saye punye 50 ringgit!” Zulashar kembali menyerahkan uang 50 ringgit ke tangan Nelayan itu.
”Oke, naiklah kalian bedue!” Jayadi mulai tersenyum, ternyata Zulashar punya strategi sendiri untuk menyakinkan irinya, Dewi dan Nelayan itu.
”Terimakasih pakcik, Selamat jalan kawan jaga diri kalian baik-baik” Zulashar menyalami Jayadi dan memeluknya. Dewi pun mengucapkan terima kasih ke Zulashar yang sudah berusaha menetapi janjinya.
”Terima kasih Zul, semoga kita ketemu kembali!” Jayadi dan Dewi naik ke atas kapal nelayan. Beberapa saat kemudian kapal nelayan berlayar meninggalkan Pelabuhan Kukup. Semakin lama pelabuhan kukup semakin tidak kelihatan dan didepan mulai terlihat kerlap-kelip lampu perumahan di sebuah perkampungan sepertinya Indonesia
”Nanti awak berdue turun di pulau itu” tunjuk kepala Nelayan
“Pulau apa namanya pakcik?” tanya Jayadi untuk lebih meyakinkan
“itu pantai pulau Tanjung Pinang” mendengar jawab itu, Jayadi dan Dewi tertawa dan berteriak bahagia. Akhirnya mereka kembali ke Tanah Air tercinta Indonesia. Hilang sudah kesusahan dan cobaan yang mereka hadapi saat kapal membuang jangkarnya. Jayadi dan Dewi diantar naik sampan sampai di pasir putih pantau Tanjung Pinang. Jayadi berteriak gembira dan Dewi pun menangis tersedu-sedu, mereka berdua bersamaan bersujud tanda syukur dan berguling-guling dipantai Tanjung Pinang, Indonesia.
Jakarta, 01 Januari 2010
FADLY RAHMAN
PENDIDIKAN SPMI PUK PANASONIC GOBEL
PENDIDIKAN SPMI PUK PANASONIC GOBEL
Pendidikan yang dilakukan Serikat Pekerja Metal Indonesia Pimpinan Unit Kerja Panasonic Gobel (SPMI PUK PANBEL) yang dilaksanakan tanggal 4 desember 2009 jum’at malam sampai dengan 6 desember 2009 minggu sore yang bertempat di kediaman pribadi pak Abdullah Gobel. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tuntutan untuk meningkatkan wawasan serta pengetahuan para kader Serikat Pekerja.
Pembukaan pendidikan dimulai sekitar jam 09 malam yang di awali pidato sambutan pak Joko Wahyudi sebagai Ketua Umum SPMI PUK PANBEL dan diikuti pidato sambutan tuan rumah pak Abdullah Gobel. Keesokan hari pendidikan dipandu oleh pak Siswanto Karyoguno yang diakhiri dengan permainan berjalan di bara api pada malam harinya.
Pada hari minggu dilakukan kerja bakti untuk membersihkan area training dan pendidikan yang memang merupakan rumah pribadi pak Abdullah Gobel. Setelah makan siang dilanjutkan dan diakhiri dengan seminar tentang visi dan misi pak Gobel (Alm M. Thayeb Gobel) yang juga membahas sejarah perusahaan Gobel Group.
Jakarta, 08 Desember 2009
Fadly Rahman
HARGA DAN IKLAN YANG TEPAT MEMBUAT SEMUA SENANG
HARGA DAN IKLAN YANG TEPAT MEMBUAT SEMUA SENANG
“Hanya 9 jutaan” begitu kata Mandra yang merupakan bintang iklan sepeda motor Honda, iklan tersebut begitu sukses sehingga mendongkrak peningkatan penjualan sepeda motor bebek Honda yang bertitle Legenda. Iklan berhasil membuat pangsa pasar sepeda motor bebek buatan Cina “Mochin” menurun padahal sebelumnya gaung sepeda motor mochin menggema seantero Indonesia hingga membuat pelaku bisnis sepeda motor buatan jepang berpikir untuk mengcounter serbuan mochin tersebut.
Strategi yang digunakan Honda diungkapkan juga oleh Philip Kotler dan Gary Amstrong[1] “sebuah perusahaan menggunakan harga untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Perusahaan tersebut dapat menetapkan harga yang rendah untuk menjaga agar pesaing tidak mampu memasuki pasar atau dapat juga menetapkan harga setingkat dengan pesaing untuk menstabilisasi pasar.”
Untuk menarik kembali konsumen yang hilang tidaklah gampang, akan terjadi konflik tersendiri didalam perusahaan. Jika konsumen menginginkan barang yang murah dan bermutu mau tidak mau perusahaan harus berusaha keras bagaimana mewujudkannya. Apa yang dilakukan Honda, dapat diikuti oleh Panasonic yang telah mempunyai nama bagus dipasar dan juga mempunyai kualitas yang diakui oleh konsumen memberikan harga yang murah tanpa mencemarkan citra merk.
Iklan juga penting untuk meningkat penjualan, Apa yang telah dilakukan Panasonic dalam iklan pompa GP-125JBE dengan bintang iklan yang dibintangi oleh Komeng, terjadi peningkatan yang signifikan terhadap penjualan pompa air jenis tersebut, sehingga pompa tersebut selalu disebut dengan sebutan pompanya sikomeng, Bintang iklan yang tepat dapat juga mempengaruhi penyampaian kabar produk kepada konsumen, membuat mereka mengingat produk yang diiklankan
Dapat digaris bawahi bahwa tujuan dari iklan tersebut adalah untuk merangsang pembelian oleh kosumen atau menuntun calon pembeli agar mengetahui produk yang dihasilkan dan mengerti, memahami, tertarik, menyukai sehingga akhirnya membeli dan diharapkan akan selalu mengingat produk tersebut dalam pikirannya. Dengan menggunakan iklan kita dapat menciptakan kesadaran akan adanya produk. Kadang-kadang memberikan pengetahuan tersendiri tentang produk dan menjabarkan fakta-fakta keunggulan yang dimiliki produk tersebut.
Alangkah ruginya perusahaan tidak mengiklankan produk yang mempunyai keunggulan teknologi terbaru dan kualitas yang bagus sehingga membuat kehilangan kesempatan yang ada. Meminjam Istilah Philip Kotler “Makin baik produk, makin sedikit dana yang harus dihabiskan untuk iklan. Makin kuat kesetiaan konsumen Anda, makin sedikit pula yang harus Anda habiskan untuk iklan”.
JAKARTA, 29 DESEMBER 2005
FADLY RAHMAN
[1] Kotler. Philip and Amstrong. Gary, Prinsip-Prinsip Pemasaran, Edisi Kedelapan, Penerbit Erlangga, 2001
BURUH DALAM ISLAM
BURUH DALAM ISLAM
Hubungan baik antara pengusaha dan buruh diatur dalam islam yang menawarkan system sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Islam memberikan penghargaa yang tinggi terhadap pekerjaan. Para buruh yang bekerja dan mendapatkan penghasilan dengan tenaga sendiri wajib dihormati.
Kapitalis menjamin setiap individu berhak menjalani usaha dengan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan dan mengeksploitasi tenaga Buruh sehingga nasib buruh tergantung pada pemilik modal. Sedangkan komunis mempunyai konsep kesetaraan dalan ekonomi setiap individu tetapi menyebabkan hilangnya kemerdekaan dalam memilih pekerjaan, tempat tinggal dan kemandirian buruh karena ditangani segalanya oleh negara.
Dalam Islam setiap individu dihargai melalui kerja keras, pengabdian dan pekerjaannya yang bermanfaat bagi orang banyak. Penghargaan ini berlaku bagi buruh maupun pemilik modal. Hubungan buruh dan pemilik modal bukan merupakan hubungan diantara kedua musuh tetapi hubungan keduanya yang saling membutuhkan.
Buruh yang secara langsung menghasilkan hasil pekerjaannya sedangkan pemilik modal menyiapkan pekerjaannya. Keduanya saling membutuhkan, apabila buruh tidak ada maka tidak ada yang dapat diselesaikan. Begitu juga dengan pemilik modal, apabila mereka tidak ada maka tidak ada lapangan pekerjaan.
Islam juga menetapkan hak-hak yang menjamin kehidupan yang baik dan mulia bagi Buruh. Sebagian hak-hak buruh menurut Islam
1.Perjanjian yang jelas secara lisan maupun tulisan, jelas dan transparan, dan berkeadilan. Buruh juga harus mengetahui tugas dan tanggung jawab, juga hak dan kewajiban.
2.Persamaan martabat pekerjaan terhadap Buruh, tidak ada pekerjaan halal yang merendahkan martabat Buruh.
3.Buruh tidak diperbolehkan bekerja yang tidak sesuai dan diluar batas kemampuan. Khusus buruh wanita diberikan pekerjaan yang layak dan cocok bagi Buruh wanita.
4.Biaya pengobatan yang layak apabila terjadi kecelakaan kerja
5.Mempunyai waktu bekerja dan waktu luang untuk diri sendiri serta keluarga.
6.Upah yang layak dan tepat waktu dalam pembayaran
7.Buruh berhak dalan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pendapatnya. Serikat buruh bertujuan membantu buruh dalam mencari keadilan dan mensosialisasi pekerjaan sesuai kesepakatan bersama.
Selain hak-hak buruh, islam juga menyebutkan tentang kewajiban Buruh terhadap pemilik modal
1.Tanggung jawab buruh terhadap upah yang diminta dari pemilik modal dan upah tersebut sesuai dengan pekerjaan dan kemampuan Buruh.. Jangan sampai pemberian upah mengakibatkan pemilik modal mengalami kerugian. Apabila hal itu terjadi Buruh juga harus ikut mempertanggung jawabkan. Dalam Islam besar kecilnya upah berdasarkan perbedaan jenis pekerjaan, kemampuan, keahlian dan pendidikan.
2.Kesungguhan Buruh dalam melaksanakan pekerjaanya Melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antar buruh dan pemilik Modal.
3.Buruh wajib melaksanakan perintah pemilik modal serta yang mewakilinya sesuai dengan pekerjaan yang telah disepakti. Apabila menyimpang, Buruh tidak wajib mengikutinya kecuali terdapat dalam perjanjian bersama.
4.Menjaga dan memelihara perlengkapan dan peralatan pekerjaan. Menjaga seluruh rahasia perusahaan dan pemilik modal sampai Buruh tidak lagi bekerja atau memutuskan hubungan kerja.
Hak-hak buruh bukan berarti mengurangi kewajiban buruh dalam melaksanakan pekerjaan secara sungguh-sungguh dalam memenuhi perjanjian kedua belah pihak dan Islampun menjaga kesimbangan antara hak dan kewajiban.
Tujuan yang diharapkan buruh adalah upah yang sesuai dan kesejahteraan yang memadai, sedangkan bagi pemilik modal berkembangnya usaha dan mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Kesimpulannya kedua belah pihak dalam kedudukan yang sama-sama menanggung keuntungan dan kerugian.
Jakarta, 08 November 2009
Fadly Rahman
Sumber :
1. Baqir Sharief Qorashi, Keringat Buruh, Hak dan Peran Pekerja dalam Islam, Penerbit Al-Huda, Jakarta, 2007
2. Muhammad Maksum, Konsep perburuhan Islam, Solusi atas Kesejahteraan Pekerja
3. Muzammil Siddiqi, Hak Pekerja dalam Islam, 20 Agustus 2006
4. Pidato Rahbar dalam Pertemuan dengan Kaum Buruh, 26 April 2006
BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu, bangsa Indonesia memproklamirkan bahasa persatuannya adalah bahasa Indonesia. Sebelum peristiwa bersejarah ini terjadi, bahasa Indonesia yang dikenal dengan bahasa Melayu menjadi bahasa utama yang telah digunakan sebagai bahasa perdagangan. Setiap pedagang yang berdagang di Nusantara bisa berbahasa Melayu, baik itu dari Nusantara maupun dari negeri jauh. Bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa pendidikan Para pelajar-pelajar agama Budha yang akan belajar di Universitas milik kedatuan Sriwijaya, terlebih dahulu mempelajari bahasa Melayu untuk memudahkan mereka menyerap pelajaran-pelajaran agama budha dan lainnya yang diberikan oleh guru-guru dan pendeta-pendeta terkenal saat itu. Bahasa Melayu juga dipergunakan sebagai bahasa pengantar saat para ulama-ulama Islam menggunakannya dalam penyebaran Islam ke seluruh Nusantara.
Pada saat Indonesia di kuasai oleh Belanda, Bahasa Indonesia menjadi bahasa sosial. Pegawai-pegawai yang dikirimkan dari Belanda untuk ditempatkan di kantor-kantor dan pos-pos di Pemerintahan Hindia Belanda diwajibkan mahir berbahasa Melayu atau minimal mereka bisa berbahasa Jawa apabila ditempatkan di Jawa.
Waktu telah berlalu, anak bangsa banyak yang telah melupakan sejarah itu. Surat kabar “Indopos” terbitan selasa 3 November 2009 hal 5 kolom “Sabang-Merauke” memberitakan bahwa Alex Noerdin gubernur Sumatera Selatan mengambil kebijakan bahwa rapat pemeritahan provinsi wajib pakai bahasa Inggris dengan alasan bahasa Inggris adalah bahasa Global. Situs Melayu-online juga pernah memberitakan bahwa banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia hilang tanpa ada penuturnya.
Sangat miris rasanya apabila bahasa Indonesia juga menjadi bahasa sampingan. Dengan kondisi ini, perlu kerja keras dan berbagai pihak membuat Bahasa Indonesia/bahasa Melayu yang rencananya akan diusulkan menjadi bahasa Asean dan salah satu bahasa utama PBB.
Fadly Rahman
Jakarta, 04 November 2009
GEMPA MELANDA RANAH MINANG
GEMPA MELANDA RANAH MINANG
Pada hari rabu 30 september 2009 sore hari, gempa bumi mengguncang Ranah Minang dengan kekuatan 7,6 SR yang pusat gempanya terdapat di Pariaman. Gempa terasa di Riau, sumatera utara, bengkulu dan Jambi bahkan terasa sampai ke Malaysia dan Singapura. Penduduk dan masyarakat kota Padang dan pariaman yang berada di tepi pantai berhamburan dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Gempa ini berpotensi Tsunami.
Banyak bangunan-bangunan baik rumah maupun gedung rusak parah. Korban pun berjatuhan dan diperkirakan ratusan orang menjadi korban. Kurangnya alat berat sangat menyulitkan evakuasi korban yang terkena reruntuhan bangunan. Hujan lebat memperparah kondisi. Para tim penyelamat dan masyarakat yang membantu juga mengalami kesulitan penerangan akibat padamnya lampu.
Pemerintah pusat telah mengintruksikan tim-tim penanggulangan bencana baik dari unsur sipil dan militer segera berangkat ke Padang. Bandara Minangkabau juga telah dibuka rabu malam. Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Pariaman yang berada di Jakarta segera pulang ke Sumatera Barat. Lima menteri juga berangkat keesokan paginya. Rumah Sakit terapung juga segera di kirimkan ke Padang.
Gempa susulan terus datang walau sekala semakin kecil. Pada Kamis pagi 1 Oktober 2009 secara mengejutkan terjadi gempa tektonik terbaru yang berkekuatan 7.0 SR yang berkedudukan di Kerinci. Menurut informasi yang didapat banyak rumah-rumah penduduk yang runtuh. Semoga Allah SWT merahmati semua korban-korban bencana dan seluruh keluarganya. Amin
Fadly Rahman
Jakarta, 01 Oktober 2009
-
Terkini
- SITUS TROWULAN, PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT
- PERADABAN MELAYU KUNO (KOMPLEK CANDI MUARO JAMBI)
- JAPAN AIRLINES BANGKRUT
- 316
- DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP (BAGIAN TERAKHIR)
- PENDIDIKAN SPMI PUK PANASONIC GOBEL
- HARGA DAN IKLAN YANG TEPAT MEMBUAT SEMUA SENANG
- BURUH DALAM ISLAM
- BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
- GEMPA MELANDA RANAH MINANG
- RANAH MINANG YANG RAMAI
- GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
-
Tautan
-
Arsip
- Februari 2010 (2)
- Januari 2010 (3)
- Desember 2009 (2)
- November 2009 (2)
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS

