Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

HUBUNGAN INDUSTRIAL MENURUT ISLAM

HUBUNGAN INDUSTRIAL MENURUT ISLAM

Banyaknya kasus tidak harmonis antara Pemberi kerja dan pekerjanya yang selama ini terjadi di Indonesia maupun pekerja Indonesia yang bekerja di Luar negeri. Padahal hubungan industrial yang harmonis antara pemberi kerja dan pekerjanya dapat menguntungkan kedua pihak. Pemberi kerja mendapatkan ketenangan dalam berusaha sedangkan pekerja mendapatkan ketentraman dalam melakukan tugasnya.

Republika, Islam Digest, Hubungan Industrial Menurut Islam, Pembaca Menulis, Hal 2, 22, Minggu, Februari 2015

Republika, Islam Digest, Hubungan Industrial Menurut Islam, Pembaca Menulis, Hal 2, 22, Minggu, Februari 2015

Dalam sejarah hidup Rasulullah tercatat hubungan industrial yang baik yang dibangun antara Khadijah (pemberi kerja) dan Muhammad (pekerja) yang saat itu dipercaya Khadijah untuk mengendalikan bisnisnya. Muhammad sebagai pekerja membalas kepercayaan Khadijah dengan bekerja dengan sebaik-baiknya dan membuat bisnis khadijah semakin maju. Berjalannya waktu Muhammad yang semula sebagai pekerja menjadi pengusaha dan dalam usia muda telah menjadi pengusaha sukses saat itu.

Pengalaman Rasulullah sebagai pekerja dan pengusaha membuat posisi pemberi kerja dan pekerja diatur dengan jelas dalam Islam. Rasulullah membuat aturan-aturan yang menguntungkan kedua belah pihak sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

Rasulullah mengingatkan pemberi kerja dengan hadistnya dari Abdillah bin Umar, Rasulullah Saw. Bersabda: “Berikanlah upah orang upahan sebelum kering keringatnya“. (HR.Ibnu Majah dan Imam Thabrani).

Rasulullah juga mengingatkan kepada pekerja untuk sungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaannya “Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda: Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah” (Hadits Riwayat Ahmad & Ibnu Asakir).

Bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh merupakan kewajiban pekerja atas upahnya dan kewajiban pemberi kerja memberikan upah pekerja atas hasil kerja yang diperoleh dari pekerjanya. Islam tidak hanya mengatur mengenai upah saja namun mengatur segala hal yang menyangkut hubungan industrial. Semoga dengan melaksanakan hubungan industrial berdasarkan Islam dapat mengurangi kesenjangan sosial antara pemberi kerja dan pekerja.

Jakarta, 08 Februari 2015

Fadly Rahman

Februari 28, 2015 - Posted by | Surat Pembaca dan Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: