Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

MOCHTAR LUBIS

MOCHTAR LUBIS

Mochtar Lubis lahir di Padang tanggal 7 Maret 1922. Anak dari Pandapotan Lubis seorang pegawai Belanda dan mempunyai karir sebagi seorang demang daerah Kerinci. Bersekolah di HIS sungai penuh kemudian dilanjutkan pendidikan sekolah ekonomi partikelir di Kayu tanam. Selama belajar di sekolah tersebut, selain belajar tata niaga juga di ajari mengenai kesenian. Disekolah ini, Moachtar mengenal tentang sastra. Karir pertama sebagai guru di Nias tidak lama dijalaninya. Dari Nias, dia menuju Jakarta. Mencoba kehidupan baru disana. Pada zaman jepang, Mochtar menjadi seorang jurnalis yang bekerja untuk kantor berita balatentara Dai Nippon Gunseikanbu. Pekerjaan inilah yang memulai dirinya bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan utamanya di Gunseikanbu sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio sekutu di luar negeri. Berita yang ditulisnya kemudian dilaporkan ke pemerintah Dai Nippon Jepang.

Mochtar Lubis

Pada tahun 1944, Mochtar menikah dengan seorang gadis Sunda yang bernama Halimah yang saat itu bekerja di Sekretariat Redaksi Harian Asia Raja. Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Mochtar bergabung dengan kantor berita Antara yang telah berdiri sejak tahun 1937. Hanya bertahan empat tahun di antara kemudian dia dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Indonesia Raya. Pada tahun 1950 Keahlian berbahasa Inggris dimanfaatkan sebagai editor buku kumpulan cerita yang berjudul Tiga Cerita dari Negeri Dolar karangan John Steinbeck, Upton Sinclair dan John Russel, Orang Kaya Novel dari F. Scott Fitgerald dan Yakin karya Irwin Shaw. Selain sebagai editor, Mochtar juga menerbitkan kumpulan cerpennya Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain.

Pada pertengahan tahun yang sama, terjadi perang Korea dan meliputi konflik perang saudara itu. Mochtar berangkat ke Korea Selatan yang merupakan pengalaman berharganya. Pengalaman dari Perang Korea, dicatat dan dipublikasikannya ditahun 1951 dengan memberi judul Catatan Korea. Kebiasaan Mochtar selalu mencatat dan menjadi tulisan setiap pengalaman-pengalaman berpergian keluar negeri Perlawatan ke Amerika Serikat (1951), Perkenalan di Asia Tenggara (1951) dan Indonesia di Mata Dunia (1955).

 Pada tahun 1951, Mochtar menulis sebuah Novel Tidak Ada Esok. Keahliannya sebagai penulis juga dibukukannya dalam Teknik Mengarang (1951) dan Teknik Menulis Skenario Film (1952). Pada tahun 1952, Ia mendapatkan penghargaan Hadiah Sastra BKMN. Mochtar kembali menjadi editor untuk kumpulan cerpen Kisah-Kisah dari Eropa (1952) dan Cerita dari Tiongkok (1953) yang diterjemahkan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari. Cerpennya yang berjudul Musim Gugur menjadi pemenang tahun 1953 di majalah Kisah dan mendapatkan hadiah dan kumpulan cerpennya Perempuan mendapatkan Hadian Sastra BKMN tahun 1955-1956. Pengakuan dunia Internasional terhadap tulisan-tulisannya baik jurnalistik maupun sastra diungkapkan dengan memberikan penghargaan Magaysaysay Award yang diterimanya ditahun 1958.

Pada tahun 1957 dari berita-berita yang tulisnya, ada beberapa kasus besar saat itu yang membuat gempar masyarakat Indonesia yakni pelecehan seksual yang dialami pegawai bagian Kebudayaan kementerian P dan K yang dilakukan Atasannya, pernikahan diam-diam Presiden Soekarno dengan Hartini, kasus korupsi Roeslan Abdulgani dan konsep politik demokrasi terpimpin presiden Soekarno. Kasus yang terakhir yang membuatnya menjadi seorang tahanan. Saat mau menghadiri pertemuan para editor Indonesia dan editor Belanda yang diselenggarakan oleh International Press Institute di Zurich Swiss. Sebelum berangkat bersama Rosihan Anwar (Pedoman), S.Tasrif (Abadi), BM Diah (Merdeka) dan Adam Malik, Mochtar sempat ditahan dibandara dan diperiksa selama delapan jam di markas CPM. Atas desakan dari International Press Institute akhirnya Mochtar dibebaskan dan berangkat untuk pertemuan itu.

Kembali dari luar negeri, Mochtar ditahan dan menjadi tahanan rumah. Muchtar berusaha menjalankan Indonesian Raya selama dirumah. Tapi pada tahun 1961, dia tidak dapat memimpin surat kabat itu dari rumahnya lagi. Mochtar dipindahkan ke penjara Madiun bersama dengan mantan perdana menteri Sutan Syahrir, Mohammad Roem, anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo. Selama masih dipenjara, Dia masih sempat menulis cerita untuk anak-anak yang diterbitkan ditahun 1964. Pada tahun 1966 pasca kejatuhan Presiden Soekarno dan dimulainya masa Orde Baru, Mochtar dibebaskan, Dia kembali aktif di dunia kewartawanan dan dipercaya memimpin Press Foundation of  Asia. Mendirikan majalah sastra Horison bersama Taufik Ismail, HB Jassin, Hamsad Rangkuti dan lainnya. Mendirikan juga Yayasan Obor Indonesia untuk penerbitan buku-buku dan Ia pun duduk sebagai Direktur. Pada tahun yang sama pula, Ia menulis novel Tanah Gersang.

Pada tahun 1968, surat kabar Indonesia Raya yang dipimpinnya kembali diperbolehkan terbit Dan salah satu karya terbaiknya sebuah Novel Jalan tak Ada Ujung (1952) diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh AH. John  yang diterbitkan di London ditahun 1968. Ada novel lain yang diterjemahkan pada tahun 1970 dalam bahasa Inggris oleh Claire Holt yakni Senja di Jakarta (1963). Pada tahun era 1970an, selain dua cerita anak Judar Bersaudara (1971) dan Penyamun dalam Rimba (1972), di era itu adalah  masa dimana Indonesia Raya mempertahankan ciri khasnya sebagai Koran yang penuh kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah. Berulang kali Indonesia Raya mendapat teguran dari pemerintah karena berita-beritanya yang memojokkan. Pencabutan ijin terbit pun terjadi saat terjadi peristiwa Malapetaka Januari 1974 (Malari). Indonesia Raya bersama surat kabar Pedoman dan Abadi dilarang terbit atas tuduhan menghasut rakyat yang menyebabkan kekacauan dan pembakaran pasar senen.

Pada tahun 1970, penghargaan didapatnya dari daerah asalnya Mandailing dengan gelar Raja Pandapotan Sibarani Sojuangan.Setelah Indonesia Raya tidak terbit lagi, Mochtar berkosentrasi di Majalah Sastra Horison dan Yayasan Obor Indonesia. Ia menyebarkan isu-isu lingkungan hidup, jurnalistik dan hak asasi manusia. Kegiatan sebagai editor masih dijalaninya dengan menjadi editor untuk buku-buku Pelangi : 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979), Bunga Rampai Korupsi (1984) dan Hati Nurani Melawan Kezaliman : Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (1986). Karya-karya lain yang ditulis baik fiksi maupun nonfiksi seperti Manusia Indonesia (1977), Berkelana dalam Rimba (1980), Kuli Kontrak (1982) dan Bromocorah (1983). Bahkan ditahun 1975 novelnya Harimau! Harimau! Meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, Novel lainnya Maut dan Cinta meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya yang didapatnya ditahun 1979. Penghargaan Anugerah Sastra Chairil Anwar yang diterima tahun 1992.

Pada tahun 1995, Mochtar Lubis mengembalikan penghargaan Ramon Magsaysay Award dan hadiah $5.000. Penyebabnya adalah Magsaysay Award diberikan kepada Pramoedya Ananta Toer. Masalah pemberian ini menjadi dipermasalahkan bukan hanya Mochtar saja tetapi juga oleh 26 tokoh sastra Indonesia. Tahun 1964, Pram menulis di Lentera tentang Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang didalamnya ada Mochtar Lubis. Akibat tulisan-tulisan Pram itu, mengakibatkatkan Manikebu dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Pada tanggal 27 Agustus 2001 Halimah istri tercinta meninggalkannya. Selam ditinggal sang istri, Mochtar merasa kehilangan. Kesehatannya semakin lama semakin terganggu. Ia hanya bisa berbaring dan terus bertanya keberadaan sang istri. Penyakit kanker prostate dan Alzeimer dideritanya sampai akhir hayatnya  Mochtar Lubis meninggal di Jakarta tanggal 2 Juli 2004.

Sumber :

http://id.wikipedia.org

Rosihan Anwar, In Memorian, Mengenang  yang Wafat, Penerbit Kompas, Jakarta, Tahun 2002

http://www.tokohindonesia.com

Horison

Agustus 6, 2011 - Posted by | Sejarah dan Arkeologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: