Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

PRAMOEDYA ANANTA TOER

PRAMOEDYA ANANTA TOER

Pramoedya Ananta Toer (Pram) lahir di Blora Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925. Sejak duduk di sekolah dasar Institut Boedi Oetomo  Blora sudah bisa menulis. Bakat menulis di turunkan dari ayahnya yang seorang guru dan juga aktifis partai Nasional Indonesia Blora. Pada tahun 1942 melanjutkan sekolahnya ke Taman Dewasa tetapi dia tidak sampai menyelesaikan pendidikannya. Pada tahun 1943, sekolah ini ditutup pemerintah jepang. Bersekolah sambil bekerja sudah dilakukan Pram. Sejak tahun 1942 menjadi juru ketik dan Intruktur kelas Stenografi di kantor Berita Domei.

Pada tahun 1944, keluar dari kantor Berita Domei. Pram bergabung dengan sebuah radio dan Majalah berbahasa Indonesia. Pekerjaannya ini untuk membantuk dan memberi semangat para tentara Indonesia yang sedang berperang dengan Belanda.  Pada tahun 1947, karya pertamanya yang berjudul Kemana terbit di majalah Pancaraya. Pram muda tidak hanya puas dengan tulisan pertamanya saja. Pada tahun yang sama, karyanya berlanjut ke dua Novel yang diberi judul Kranji Bekasi Jatuh dan Sepuluh kepala NICA. Karena tulisannya itu, Pram dipenjara oleh Penjajah Belanda yang mencoba merebut kembali Indonesia dari Republik. Pram dipenjara di penjara bukit duri Jakarta selama dua dari tahun 1947 sampai 1949, yang membuat pekerjaannya sebagai Reporter dan Editor di Majalah Sadar ditinggalnya dengan terpaksa.

Keluar dari penjara tahun 1950, Pram membuat beberapa cerpen dan novel yang berjudul Keluarga Gerilya. Pram juga mengeluarkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Subuh dan Pertjikan Revolusi yang ditulis selama revolusi dengan Belanda. Pada tahun 1951, Pram bekerja sebagai editor di Balai Pustaka. Dan dari Balai pustaka ini pun, Pram mendapat penghargaan First Prize yang makin membuatnya semangat untuk menulis. Pada tahun ini juga, Pram membuat Novel yang panjang sehingga bukunya diterbitkan menjadi 2 bagian. Novelnya ini berjudul Mereka yang dilumpuhkan. Terbit juga karyanya yang lain Bukan Pasar Malam, di Tepi Kali Bekasi, dia yang Menyerah. Tahun 1952, terbit novelnya yang berjudul Tjerita dari Blora yang mendapatkan penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional di tahun 1953 dan novel ini difilmkan pada tahun 2008. Dan sketsa dalam Tjerita dari Djakarta yang terbit tahun 1957.

Pramoedya AT

Pada tahun 1958, Pram mendapat tentangan dari masyarakat yang menentang PKI. Pram membuat tulisan yang membela dan bersimpati PKI. Simpatinya terhadap PKI diperlihatkannya kembali dengan memasuki organisasi seni budaya dibawah naungan PKI Lekra atau Lembaga Kebudayaan rakyat. Duduk sebagai ketua Lembaga sasat, Pram mendirikan Akademi Multatuli. Peristiwa anti Tionghoa terjadi pada tahun 1960. Anti Tinghoa ini dilakukan oleh pemerintah dengan menghasilkan Peraturan Pemerintah PP 10-tahun 1960. Pembelaan Pram terhadap etnis Tionghoa di lakukannya dengan menulis buku yang berjudul Hoakiau di Indonesia. Karena buku ini, Pram dipenjara oleh Pemerintah Soekarno. Setelah keluar dari penjara, buku ini pula yang membuat Profesor Tjan tjun Sin menawarkan pekerjaan mengajar di fakultas sastra Universitas Res Publica yang sekarang dikenal dengan sebutan Universitas Trisakti.

Simpati Pram terhadap PKI dan keterlibatan Pram di Lekra membuatnya kembali di penjara tapi kali bukan sembarangan penjara. Pram dibuang ke pulau Buru bersama anggota PKI, walaupun dia tidak pernah menjadi anggota PKI. Rumahnya digeledah oleh, dokumen-dokumen berharga miliknya dimusnahkan. Sebelum dibuang, Pram masih sempat mendapat penghargaan Yamin Faoundation Award untuk bukunya yang berjudul Tjerita dari Djakarta. Pada tahun 1962, Pram juga menyelesaikan buku Panggil Aku Kartini Saja yang dibagi menjadi dua jilid. Pram dipenjara selama 15 tahun. Selama dipenjara, Pram dan teman-temannya hanya waktu-waktu tertentu saja diperbolehkan dapat kunjungan dari keluarga, selebihnya Pram bekerja sebagai tahanan. Pernah Pram menulis beberapa tulisan cerita, akan tetapi tulisan-tulisan diambil paksa lalu dimusnahkan. Pada tahun 1972, Pram mendapat ijin untuk kembali menulis dan banyak tulisan-tulisan yang dikirimkan keluar negeri dan sering juga diambil sendiri dari pihak penerbit dari luar negeri ke Pulau Buru. Selama di penjara, Pram menghasilkan empat Novel bersejarah.

   Pada tahun 1978, Pram menjadi anggota Nentherland Centre walaupun Ia masih di pulau Buru. Baru pada tahun 1979, Pram dibebaskan. Semangat menulisnya semakin membara. Parm pun menghasilkan beberapa buku yakni Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang terbit tahun 1980. Tulisan-tulisan ini mendapat kriitikan oleh pemerintah kemudian membredelnya. Peristiwa ini membuat Pram menerbitkan tulisan berikutnya di luar negeri yakni Jejak Langkah (1985) dan Rumah Kaca(1987). Prestasi-prestasi dan kesetiaan Pram terhadap tulisan, membuat Pram mendapatkan penghargaan dari PEN Freedom to Write Award yang diterima dari berbagai anggota PEN di berbagai Negara yakni PEN Australia (1982), Swedia (1982), Amerika Serikat (1987), Swiss (1989). Penghargaan juga didapat dari negeri paman Sam di New York, penghargaan The Fund for Free Expression Award ditahun 1989.

Pada era tahun 90an, Pram menerbitkan beberapa buku Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999), Mangir (1999). Kembali pada tahun 1192, Pram mendapatkan penghargaan dari PEN English Centre Award. Pram memperoleh penghargaan Atichting Wertheim Award di Amsterdam dan juga Ramon Magsaysay Award, dia terima di Philipina pada tahun 1995. Pada tahun yang sama, Pram di nominasikan sebagai penerima penghargaan sastra tertinggi yakni Nobel Award. Gelar Doktor Honour Causa dari University of Michigan.  Pada tahun 2000, Pram menerbitkan buku yang berjudul Sebuah Roman Revolusi. Ditahun yang sama, Pram mendapat penghargaan dari pemerintah Prancis yakni Chevalier de l’Ordre des Art et des Lettres.

Dari Jepang, Pram mendapatkan penghargaan Fukuoka AsianCulture Grand Prize. Pada tahun 2001, terbit dua bukunya yang berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer dan Cerita dari Digul. Pada tahun 2002, majalah Time Asia menobatkannya sebagai Asian Heroes. Ini merupakan penghargaan terakhir yang diterimanya semasa hidup. Pram menikmati masa tua dirumah saja. Pekerjaannya lebih banyak dihabiskannya dikebun dan berternak. Tidak banyak lagi tulisan yang dibuat. Pada tanggal 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia setelah dirawat diruang ICU RS Santa Carolus Jakarta. Jenazahnya dikebumikan di TPU Karet Bivak yang diiringi ratusan pengagum dan penggemarnya.

Sumber :

http://www.tokohindonesia.com

http://id.wikipedia.org

Juni 11, 2011 - Posted by | Sejarah dan Arkeologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: