Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

CHAIRIL ANWAR

CHAIRIL ANWAR

Chairil Anwar lahir di Medan pada tanggal 22 Juli 1922, anak dari pasangan Toeloes dan Saleha. Ia merupakan kemenakan dari Sutan Syahrir dan Rohana Koedoes melalui jalur Ibu. Ayahnya berasalah dari Kenegerian Taeh, 50 Koto, Minangkabau yang menjadi Pamongpraja di Medan dan menjadi Bupati Indragiri pada masa Revolusi. Chairil Anwar sejak kecil senang dengan sastra apalagi hobi membaca puisi-puisi dalam berbagai bahasa asing membuat dirinya menguasai bahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Walau hanya menamatkan HIS dan tidak menamatkan MULO, keinginan tahuan Chairil Anwar tentang pengetahuan diluar dunia sastra tetap besar yang berpengaruh kelak terhadap puisi-puisi yang ditulisnya.

Puisi-puisi Chairil Anwar membuktikan telah menemukan bahasa puisi. Chairil Anwar yang menulis puisi sejak berusia 20an tahun membuat puisi-puisina menyuarakan gelora hidup yang menyala-nyala. Puisi ”Aku” jelas menjelaskan semangat itu. Jiwa kebebasan berekspresinya tidak hanya terlihat disetiap tulisan yang buatnya tapi juga dikesehariannya. Sebenarnya jiwa seni Chairil sudah muncul sejak masih di Medan. Menurut pengakuan Chairil sendiri bahwa pada usia 15 tahun. Baru pada tahun 1943 ketika berusia 21 tahun sering datang ke kantor redaksi majalah Pandji Poestaka mengantarkan puisi-puisinya.

Chairil Anwar

 Chairil juga adalah penyair yang cukup terobsesi oleh sejumlah pengalaman cintanya, dengan seluruh gelora, harapan, kecewa, bahagia dan pedihnya. Terlihat dari puisi-puisi yang ditulis, terlihat bahwa cinta adalah tenaga sekaligus sumber energi kreatif yang penting dalam menulis puisi. Chairil Anwar menulis 23 puisi cinta dari puisi yang ditulisnya.

Puisi-puisi yang mengkritik pemerintah saat itu yang dikuasai oleh Penjajah Jepang membuat Chairil Anwar menjadi incaran polisi-polisi Jepang (Kenpetai). Puisi-puisinya merupakan pembangkit semangat rakyat Indonesia untuk berjuang meraih dan mempertahankan kemerdekaannya. Puisi-puisinya adalah semangat zamannya yang menunjukkan keterlibatan penyair ini dalam masalah kebangsaan di saat yang sangat krusial. Puisi-puisi yang digelorakan dengan semangat perjuangan guna merebut kemerdekaan sehingga terciptalah karya puisi Diponegoro, Persetujuan dengan Bung Karno, dan Puisi saduran Kerawang Bekasi.

Menjelang akhir hayatnya, Chairil menulis puisi ”Yang Terhempas dan Yang Putus” dan Derai-Derai Cemara”. Dalam dua puisi ini sang penyair seakan meramalkan kematiannya. Pada tahun ketika puisi tersebut ditulis, Chairil Anwar yang dikenal sebagai pelopor sastrawan angkatan 45 meninggal dunia pada tanggal 28 April 1949 dan dimakamkan dipemakaman karet. Sebelum meninggal dunia Chairil Awnar pernah berujar bahwa Jika umurnya panjang, dirinya akan menjadi Mendikbud sedangkan jika umurnya pendek kuburannya akan menjadi tempat ziarah anak-anak sekolah dengan menaburkan bunga. Apa yang dikatakannya benar adanya. Meninggal di usia 27 tahun dan sampai sekarang kuburnya selalu didatangi anak-anak sekolah untuk memperingati Hari Sastra Nasional.

Sumber : dari berbagai sumber

Februari 6, 2011 - Posted by | Sejarah dan Arkeologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: