Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

TAN MALAKA, BAPAK REPUBLIK INDONESIA

TAN MALAKA, BAPAK REPUBLIK INDONESIA

Tan Malaka terlahir bernama Ibrahim pada tanggal 14 Oktober 1896 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Minangkabau. Nama Tan Malaka didapat saat dilantik sebagai penghulu adat sehingga diberi gelar Datuk Tan Malaka atau lengkapnya Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Pada tahun 1903, Tan Malaka mulai masuk Sekolah Rakyat di Suliki. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Rajo ( Kweek Scholl) di Bukit Tinggi. Setelah tamat dari Kweek School, Tan Malaka mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah kenegeri Belanda Dinegeri ini pula dimulainya pertualangan politiknya dan awal perkenalannya dengan Paham Marxisme.

Pada tahun 1919, Tan Malaka pulang ke tanah air dan mendapatkan pekerjaan sebagai guru di tanah Deli untuk mendidik anak-anak kuli disana. Tan Malaka hanya bertahan setahun karena tidak tahan melihat penderitaan kuli-kuli akibat perbudakan tuan-tuan perkebunan. Tan Malaka bertekad menentang pemerintahan Belanda dan menghilangkan penderitaan bangsanya dengan mendirikan Partai yang diberi nama Partai Komunis Indonesia di Jawa. Dikota Medan, Tan Malaka berhasil terpilih sebagai anggota dewan rakyat (volksraad). Namun tidak diperbolehkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Buku-buku tentang Tan Malaka mulai banyak ditemui di Toko-toko buku seluruh Indonesia

Pada tanggal 23 Februari 1921, Tan Malaka memutuskan pergi ke Jawa. Tan Malaka mendirikan Sekolah Rakyat diberbagai kota di Jawa seperti Semarang, Bandung dan Pekalongan. Ketidaksukaan pemerintah Hindia Belanda semakin meningkat . Selama di Jawa pula, Tan Malaka mendirikan berbagai organisasi buruh serta melakukan pemogokan. Begitu juga dengan tulisan-tulisan diberbagai surat kabar menggelorakan  semangat anti penjajahan. Akibatnya pada tahun 1922, Tan Malaka di tahan pemerintah Belanda dan diberi dua pilihan ; mau dibuang ke pulau terpencil atau keluar dari tanah air. Tan Malaka memilih pilihan keluar dari tanah air.

Tan Malaka pergi ke Belanda  dan disambut Parta Komunis Belanda. Kemudian partai itu pula yang mencalonkan Tan Malaka sebagai anggota parlemen. Setelah itu, Tan Malaka mewakili Indonesia menghadiri Kongres Dunia IV Komitren. Tan Malaka berpidato tentang Pan Islamisme dan pidatonya tersebut disambut wakil wakil dari Timur Tengah dan tidak disenangi Moscow. Pada tahun 1923, Tan Malaka menjadi Agen Komitren untuk Asia. Posnya pertama adalah Kanton (China) kemudian mulai berkeliling diberbagai negara asia lainnya seperti Thailand, Malaka, Singapura dan Philipina. Mulai saat itu Tan Malaka terus diburu para intelejen negara-negara Barat.

Kekecewaan Tan Malaka terhadap Muso dan Alimin pemimpin PKI mempunyai keinginan memberontak dan Tan Malaka tidak menyetujuinya. Pemberontakan tetap terjadi dan mengalami kegagalan. Pemberontakan tersebut terjadi pada tahun 1925 di Banten dan 1925 di Sumatera Barat. Walau mulanya Komitren yang berpusat di Moscow tidak menyetujui pemberontakan itu terjadi tetapi Komitren tetap memuji-muji pemberontakan tersebut Sehingga membuat semakin kecewa dan dikhianati.  Tan Malaka merasa bahwa Komitren tidak perduli terhadap Indonesia dan mengorbankan banyak anak bangsa Indonesia.[1]

Pada tahun 1927, Tan Malaka bersama Djamaluddin Tamin dan Soebakat mendirikan sebuah partai baru yang bernama Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok dan tidak berhubungan lagi dengan Moscow. Di kota Bangkok pula, Tan Malaka menulis sebuah buku yang berjudul “Menuju Republik Indonesia”. Karena buku ini, Tan Malaka mendapat julukan Bapak Republik Indonesia. PARI dianggap berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Walaupun demikian PARI dapat mengembangkan cabang-cabang di daerah-daerah seperti Riau, Cepu, Wonogiri, Palembang, Sungai Gerong, Kediri, Medan dan Banjarmasin.

Selama pelariannya, Tan Malaka bermasalah dengan kesehatannya dan memutuskan untuk beristirahat di Philipina. Dua tahun merupakan waktu yang cukup lama Tan Malaka hidup tenang mengobati penyakitnya di Philipina. Namun pada tahun 1927, Tan Malaka di tangkap intelejen AS di Philipina yang kemudian menyeret dirinya ke Pengadilan dan lalu dideportasi ke Amoy yang telah menunggu PID Hindia Belanda untuk menangkap Tan Malaka. Namun dia berhasil meloloskan diri.

Pada tahun 1932 saat tinggal di Shanghai, Tan Malaka menyingkir ke Hongkong. Waktu itu Shanghai diserang Tentara Jepang. Tan Malaka tertangkap di Hongkong oleh polisi dan intelejen Inggris. Keberadaan Tan Malaka di Hongkong diketahui setelah Alimin ditangkap di Singapore. Alimin membawa berkas-berkas mengenai Tan Malaka berada di Hongkong. Berkas-berkas tersebut membuat aparat Inggris dapat menangkap Tan Malaka. Aparat Inggris di Hongkong mendeportasi Tan Malaka ke Amoy dengan maksud menyerahkan Tan Malaka ke PID Hindia Belanda. Namun Tan Malaka kembali berhasil meloloskan diri. Tan Malaka memutuskan tinggal di perdalaman Amoy untuk mengobati penyakitnya dengan seorang Sin She Cina dan penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Serangan Jepang ke Amoy membuat dirinya menyingkir ke Singapura dengan menyamar sebagai warga Tionghoa dan selama di Singapura menjadi guru bahasa Inggris

Serangan Jepang ke Asia Tenggara termasuk Singapura merupakan titik awal Tan Malaka kembali Indonesia yang saat itu juga telah dikuasai Jepang. Kembali ke Indonesia melalui Medan kemudian melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi dan Padang. Dia tidak singgah ke Kampung Halamannya karena saat itu muncul Tan Malaka palsu yang berpidato di lapangan Padang untuk kepentingan Jepang. Melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa menyeberangi Selat Sunda dan turun di Banten. Berangkat ke Jakarta dan tinggal di kawasan Kalibata dengan menyewa rumah disana. Keinginannya menulis tentang kehidupan dan pandangan politiknya membuat dirinya berjumpa dengan DR. Purbacaraka ahli Sejarah yang dibantunya menterjemah buku yang berbahasa Inggris. Ahli sejarah itu pun menyuruhnya untuk melamar pekerjaan dan akhirnya mendapatkan pekerjaan di tambah batu bara Bayah di Banten.

Selama di Banten dikenal dengan nama Ilyas Husien. Pekerjaannya ini membuat Tan Malaka dekat dengan Rakyatnya. Kedekatannya dari Buruh, pekerja Kantoran sampai dengan Romusha. Sehingga membuat dirinya menjadi perwakilan Banten untuk menghadiri pertemuan Pemuda di Jakarta mempersiapkan kemerdekaan RI. Tan malaka pula yang berperan penting mengadakan Rapat Akbar di Lapangan IKADA untuk mendukung kemerdakaan RI.

Pasca kemerdekaan RI, Tan Malaka mendirikan organisasi Persatuan Indonesia dan Partai Murba.  Tan Malaka pernah ditangkap dan ditahan oleh Perdana Menteri Syahrir karena kesalahan di internal Persatuan Perjuangan yang menentang pemerintah kemudian dibebaskan pada tahun 1948.[2]

Seruan dan kritikan Tan Malaka agar militer bergerilya, serta menilai kekosongan kepimpinan disebabkan ditahannya Presiden sukarno dan wakil presiden Mohammad  Hatta dianggap membahayakan stabilitas Negara. Belum diketahu siapa yang memerintah penangkapan Tan Malaka tetapi perintah penangkapan Tan Malaka berujung tewasnya Tan Malaka yang ditembak mati pada tanggal 21 februari 1949 di desa Selo panggung,  kaki gunung Wilis Jawa Timur tanpa diketahui makamnya sampai sekarang.[3]

Fadly Rahman


[1]Harry Poeze, Matu Mona, Pacar Merah Indonesia, Penerbit Beranda, Hal xx~xxiii, Cetakan II, Tahun 2010

[2] Zulhasril Nasir, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau, Penerbit Ombak, DI Yogyakarta, Tahun 2007

[3] Kompas, Haryy A Poeze : Tan Malaka ditembak Mati di Desa Selo, Humaniora, 28 Juli 2007, Hal 13

[4] Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara.

Agustus 19, 2010 - Posted by | Sejarah dan Arkeologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: