DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
Jayadi dan Dewi memutuskan untuk pulang ke Indonesia segera hari ini. Baru dua hari mereka di singapura. Dewi disarankan untuk tidak keluar dari Grand Park City Hotel tempat Ia menginap. Sedangkan Jayadi yang menginap di Ibis Hotel yang tidak begitu jauh dari hotel Dewi menginap. Jam 12 siang waktu singapura, Jayadi kembali dari urusan kantornya dan menyelesaikannya dengan segera. Langsung menuju Grand Park City Hotel. Sebelum kesana, Jayadi menghubungi Dewi terlebih dahulu untuk segera berkemas-kemas. Jayadi kuatir kalau penjahat-penjadi semalam akan kembali datang menyantroni mereka dengan membawa komplotan yang lebih banyak. Taksi yang membawanya berhenti didepan hotel. Jayadi turun menemui Dewi yang sedang menunggu di Lobby Hotel.
”Dewi, kamu sudah siap?” tanya Jayadi menghampiri Dewi yang berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Jayadi.
”Sudah bang! Aku sudah siap!” jawabnya dengan wajah yang terlihat kuatir
”Sudah kamu kembalikan kunci kamarmu?” tanyanya lagi
”Sudah semuanya, Aku sudah siap berangkat”
”Oke, ayo kita berangkat!” Jayadi menarik tangan Dewi untuk mengikutinya. Dia masih kuatir apabila perampok tadi malam masih mengikuti mereka. Ternyata benar dugaan Jayadi, saat mereka keluar dari Hotel, terlihat segerombolan orang berada di sekitar hotel. Mereka berada dibeberapa sudut. Diantaranya ada dua orang yang semalam Jayadi hajar. Terlihat darah yang sudah mengering di bibir dan wajah mereka. Jayadi menarik tangan Dewi dan kembali masuk ke dalam hotel.
”Gimana nih! Aku takut sekali bang!”Kecemasan kembali terlihat di wajah Dewi.
”Tenang wi, pasti ada jalan keluarnya” Jayadi berusaha menenangnya dewi. Kemudian dia pun mendekat ke Doorman.
”Can you help us, please?” tanya Jayadi
”yes sir!, can I help you?” jawab Doorman dengan ramah.
“Can you get taxi for us? And please, open it door” Jayadi meminta doorman untuk mencari taksi dan menyuruhnya untuk membukakan pintu taksi, tidak lupa Jayadi memberikan tips S$10. Saat taksi terparkir di depan hotel dan pintu taksi terbuka, secepatnya mereka berlari dan masuk kedalam taksi. Gerombolan penjahat yang memantau, terkejut buruannya beraksi. Dengan sigap mereka mengejar ke arah taksi.
”Go…go…go…Harry Up!” Teriak Jayadi dan Dewi bersamaan. Belum hilang keterkejutannya, supir taksi menancapkan gasnya. Pengejar hanya bisa sumpah sarapah.
======================
Supir taksi dari etnis India itu bercerita kalau Jayadi dan Dewi adalah turis kedua yang dirampok, beberapa bulan lalu Ia membawa turis dari Hongkong juga mengalami hal sama. ”Tidak semuanya orang Singapura sejahtera. Apalagi banyak pendatang dari Cina daratan dan Philipina yang mencari kerja disini tapi kebanyakan tidak mendapat perkerjaan akhirnya mereka menjadi Perampok” ceritanya dalam bahasa melayu setelah mengetahui kalau kami dari Indonesia. ”Kebanyakan orang Indonesia sebagai pembantu disini. Saya dengar di Malaysia, orang Indonesia ada yang jadi Perampok”.
Taksi meluncur dengan kecepatan sedang menuju Bandara Internasional Changi. Panjang supir taksi itu bercerita tentang Singapura.
”Brakkkk…….” tiba-tiba sudah ada dua mobil yang menyerempet taksi disisi kiri dan kanan. Ternyata gerombolan perampok mengejar taksi mereka. Kejar-kejaran berlangsung dijalan tol. Dua mobil polisi mulai bergabung dengan mereka. Melihat polisi ikut campur, dua mobil gerombolan menancapkan gasnya dan melarikan diri. Mobil polisi mengejar mobil gerombolan. Taksi mulai menormalkan jalannya dan tidak lama kemudian sampai di suatu tempat, sepertinya bukan bandara Changi.
”Sir, sebaiknya awak berdua menyebrang kemalaysia lewat perbatasan ini” Supir taksi menyarankan segera menyebrang ke Johor Bharu, Malaysia.
”Lalu naik kendaraan apa ke sana?” tanya Jayadi
”Awak bisa naik bis atau kapal penyebrangan, tak perlu kuatir ada banyak kendaraan” Supir taksi menyarankan jangan lewat bandara Changi, masih ada kekuatiran apabila penjahat-penjahat itu lolos, mereka tetap mengejar sampai ke Changi.
Apa boleh buat, saran supir taksi mereka ikuti. Proses di imigrasi Singapura agak sedikit rumit tapi berjalan lancar. Satu masalah yang belum mereka pikirkan, menggunakan apa menyebrang ke Malaysia walaupun sudah ada Jembatan penyebrangan tapi nggak mungkin mereka berjalan kaki kesana. Memang banyak bis disini tapi semuanya bis pariwisata untuk turis kalau naik kapal penyebrangan butuh waktu lagi. Mau tidak mau mereka harus menumpang di bis pariwisata.
”Pak cik! Bus ini mau kemana?” tanya Jayadi kepada Supir Bus yang sedang menunggu.
”Ke kuala Lumpur! Ini Bus Turis bukan Bus penumpang!” belum Jayadi bertanya supir bus itu sudah menjawabnya seperti mengetahui apa yang akan ditanyakannya.
”Boleh kah kami ikut serta? Hanya sampai imgirasi Johor Bahru saja.
”Tunggu sesaat, saya tanyakan dahulu ke Turis Guide?” Supir Melayu itu kemudian berjalan ke arah Turist Guide yang sedang menunggu turis-turis bule yang sedang melewati pemeriksaan Imigrasi. Beberapa sat kemudian datang menemui Jayadi dan Dewi.
”Boleh tapi hanya sampai imigrasi Tanjung Kupang”
”Tidak apa-apa, terima kasih banyak” jawab Jayadi dan Dewi bersamaan. Mereka pun menyalami supir bis itu dan pak Zul nama supir bis itu menyuruh mereka masuk dan duduk di dekat supir saja. Satu persatu turis bule masuk kedalam bis. Banyak diantara mereka yang melihat ke arah mereka berdua. Bis mulai berjalan menuju Malaysia, masih ada turis bule yang mempertanyakan keberadaan Jayadi dan Dewi. Bule-bule mengkhawatirkan kalau ada teroris didalam bis mereka. Akhirnya pak Zul dan Tourist Guide memutuskan, menurunkan Jayadi dan Dewi di ujung jalan jembatan. Mereka beruntungnya karena mereka turun sudah berada di tanah Malaya dan hanya berjalan kaki beberapa meter saja untuk sampai dikantor imigrasi Malaysia Tanjung Kupang Johor Bahru.
========================
Tidak begitu banyak kesulitan saat pemeriksaan di Imigrasi Tanjung Kupang. Mereka berdua tidak perlu tergesa-gesa tidak begitu banyak orang yang antri untuk masuk ke Malaysia. Tujuan selanjutnya mereka berencana ke kuala lumpur. Kesulitan kendaraan kembali melanda. Mereka harus segera ke Bandara International kuala lumpur. Teman-teman dewi sudah dihubungi disana. Dewi sudah menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Jayadi kepada teman-temannya melalu telepon selulernya. Teman-teman Dewi sangat mengkhawatikan keadaan ini. Tidak ada bis antar kota disini atau kereta api. Ada taksi, tapi mereka tidak mempunyai uang cukup untuk sampai ke Kuala lumpur. Ada jalan lain yang mau tidak mau harus mereka lakukan. Mereka akan mencoba menumpang truk yang baru selesai mengirimkan barang ke Singapore.
”Pak cik, boleh kami menumpang truk ini?” Jayadi mencoba merayu salah seorang sopir truk yang sedang beristirahat di bawah pohon yang sekali-sekali menghisap rokoknya.
”Hendak kemana?” sopir truk bertanya balik
”Mau ke Kuala Lumpur!” jawab Jayadi sambil duduk disebelahnya.
”Boleh saja menumpang tapi truk ini tak sampai ke Kuala Lumpur!” jawabnya menjelaskan
”Hanya sampai Sungai Buleh, Selangor!, dari sana bisa melanjutkan dengan bis ke Kuala Lumpur” jelasnya lagi.
”Tidak masalah, terima kasih sekali sudah boleh menumpang” kata Jayadi
Tidak begitu lama mereka duduk-duduk dibawah pohon rindang di komplek imigrasi Tanjung Kupang. Tidak beberapa lama assisten supir atau kernet truk yang ditunggu sudah kembali dari Toilet yang kalau di Malaysia toilet dinamakan Tandas. Jayadi dan Dewi menumpang diatas bak terbuka truk. Tidak ada tempat yang cukup untuk mereka berdua di depan dekat supir yang hanya cukup untuk tiga orang saja. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan juga membosankan, tidak ada yang bisa dilihat sekeliling. Mereka hanya bisa merasakan matahari dengan sinarnya yang menyengat dan melihat langit dengan awan berbaris yang terbawa arahnya angin.
==================
”Bangkit, pak! Kita sudah tiba!” tiba-tiba ada yang mengguncang-guncangkan tubuh Jayadi. Telah berdiri kenek truk telah berada didepannya berdiri tersenyum memperhatikan Jayadi yang belum terlalu sadar dari tidurnya.
”Ada dimana kita sekarang?” tanya Jayadi sambil memperbaiki duduknya
”Dewi….bangun, kita sudah sampai!” Jaadi membangunkan Dewi yang masih tertidur dipinggir badan bak truk. Dewi terbangun dan agak terkejut melihat Jayadi dan Kenek truk yang sedang memperhatikannya.
”Kita sudah tiba di Sungai Buleh, kita rehat (istirahat) sekejap dipemberhentian.” Lalu mereka turun dari truk dan mengeluarkan tas bawaan mereka. Rasanya kurang cocok mereka membawa koper menumpang dengan truk. Karena dalam keadaan terpaksa, merekapun harus melakukannya.
”Awak berdua bisa lanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan Bis, disini banyak bis. Biasanya mereka rehat disini!” Supir truk memberi petunjuk kepada Jayadi dan Dewi, apa yang harus melakukan untuk sampai ke Kuala Lumpur. Jayadi dan Dewi berterima kasih atas tumpangannya. Dia baru mengetahui kalau nama supir tersebut bernama Rasyid asli orang Malaysia dan keneknya bernama Edi yang berasal dari Indonesia.
Tanpa disadari Jayadi dan Dewi, ada polisi patroli Malaysia yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Beberapa saat kemudian, sudah datang satu mobil sedan polisi lagi bergabung dengan polisi yang tadi mengawasi gerak gerik mereka.
”wi, barang-barang kita bawa terlalu menyulitkan kita bergerak” Jayadi mulai menggerutu
”jadi bagaimana, didalam koperku banyak perlengkapan-perlengkapan penting yang tidak mungkin ku buang” ujar Dewi. Lalu Jayadi membuka kopernya dan memasukkan sepotong pakaian kedalam tas ranselnya.
”Wi, barang-barang yang lain kita tinggal saja”
”ahhh…aku nggak mau ah!
”cobalah mengerti sedikit, kita masih harus ke Kuala lumpur. repot membawa barangmu yang banyak ini” mereka berdua memperhatikan koper yang ditangan Dewi yang memang lebih besar dari koper Jayadi.
”oke, kalau itu maumu” ujar Dewi kesal
”begitu dong sayang”
Lalu Dewi mengambil barang-barang yang mau dibawanya. Banyak juga yang mau dibawanya sehingga memerlukan koper Jayadi yang kecil. ”Lebih baik membawa koper kecilku ini, ketimbang koper besar milik Dewi” pikir Jayadi. Kemudian Jayadi menitipkan koper besar milik Dewi yang didalamnya terdapat pelengkapan miliknya dan Dewi yang mereka tinggalkan ke sebuah kedai makan disekitar situ. Lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu dan menjauh. Sementara polisi-polisi yang dari tadi mengawasi mereka mulai bergerak menuju kedai makan tersebut. Sampai disana mereka bertanya-tanya tentang koper itu. Lalu tiga polisi pun mulai berlari kearah Jaadi dan Dewi dan yang satu menjaga koper.
”Stop, Polis!” Teriak polisi. Teriakan polisi-polisi itu mengagerkan orang-orang sekitarnya, juga Jayadi dan Dewi. Melihat Polisi-polisi menuju kearah mereka sambil mencoba mengambil pistol yang ada disamping pinggang membuat Jayadi kuatir.
”Lari…..lari” Jayadi menarik tangan Dewi yang menarik kopernya dengan susah payah.
”Kalau mau selamat, lepaskan kopermu!” teriak Jayadi, Dewi langsung melepaskan kopernya. Mereka berlari sekencang-kencangnya. Tidak tahu arah tujuan. Mereka berlari melewati hutan-hutan pohon karet yang dikelilingi banyak belukar. Tidak terlihat ada jalan setapak. Mereka melewati sungai kecil. Mereka terus berlari dan tiba-tiba.
”berhenti…..!” teriakan seorang pria berdiri hanya berjarak 10 meter dihadapan Jayadi dan Dewi. Sambil berkacak pinggang dan tangan kanannya memegang sebuah parang. Satu persatu beberapa pria muncul dibalik semak belukar.
”Siapa kalian berdua?”tanyanya kepada Jayadi dan Dewi. Dari logat bicaranya, sepertinya dia bukan orang asli Malaysia dan mungkin dia adalah pemimpin pria-pria itu.
”Kami orang Indonesia! Kami turis!” Jawab Jayadi sambil memegang tangan Dewi yang bersembunyi dibalik pundaknya.
”Tunjukkan pasport kalian!” Pria yang memegang parang mulai mendekat. Dengan penasaran mulai memenuhi hasrat keinginantahuannya terhadap tamunya yang tidak diundang. Jayadi merogoh tasnya dan mengeluarkan pasportnya dan menunjukkan kepada pria tersebut.
”Ha…ha…ha, mereka saudara kita!” teriaknya sambil mengacung parangnya dan menunjukkan pasport jayadi kepada pria-pria yang lain.
”Selamat datang saudaraku….dikampung kami yang baru” satu persatu menyalami Jayadi dan Dewi.
”Ayo….mari ke gubuk kami” Pria-pria itu mengajak Jayadi dan Dewi. Dan ada perasaan lega dihati mereka setelah mengetahui bahwa pria-pria tersebut berasal dari Indonesia.
===================
Mereka berkumpul mengeliligi perapian. Ternyata cukup banyak juga orang-orang di hutan ini. Ada juga wanita dan juga anak-anak. Jayadi dan Dewi tidak menyangka ternyata didalam hutan ini ada suatu komunitas imigran dari Indonesia. Perkampungan yang mereka buat seperti perkampungan suku anak dalam di perdalaman Jambi. Rumah-rumah panggung sederhana yang hanya diikat dengan tali pisang dan beringin cukup kokoh bertahan.
Cukup lama mereka mengobrol tadi malam. Masing-masing orang bercerita tentang kampung kelahirannya. Mengenang masa kecil yang indah bersama teman-teman sepermainan. Kenangan yang terasa indah dikenang. Masa kecil memang sangat membahagiakan tapi setelah mereka dewasa, ada yang harus mereka wajib memikirkan. Ya! Mereka harus mencari penghidupan yang layak dan penghasilan yang cukup untuk diri mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka ke Malaysia dengan nasib yang sama, tidak punya pekerjaan. Mereka bekerja apa saja disini tapi sayang mereka datang dengan cara tidak syah. Setiap saat lari kehutan untuk menghindari penertiban polis diraja dan rela, sukarelawan warga Malaysia yang selalu melakukan razia. Sehingga mereka membuat perkampungan sendiri serta tempat persembunyian.
”Bangun…bangun, ada razia!” teriakan orang-orang diluar sangat kerasnya sehingga orang-orang yang tertidur lelap. Jayadi yang tertidur karena kelelahan terbangun, dilihatnya Dewi sudah bangun duluan dan melompat keluar rumah panggung. Pemilik gubuk juga sudah tidak ada didalam gubuknya.
”Ayo bang!” Dewi berteriak sambil mengambil tasnya yang terjatuh. Jayadi melompat keluar dan mereka berlari kearah orang-orang berlari. Dikejauhan terdengar gonggongan anjing dan suara pluit peringatan. Terlihat juga dari kejauahan lampu-lampu senter bergerak kesana kemari menerangi kegelapan malam yang menandakan bahwa bahaya datang mendekati para imigran.
Naas bagi mereka semua, ternyata hutan sudah dijaga dengan ketat. Sekeliling hutan sudah terkepung diberbagai penjuru. Kali ini mereka tidak bisa lolos. Satu persatu tertangkap. Rotan dan pentungan melayang ditubuh mereka. Wanita-wanita berteriak-teriak menangis histeris dan anak-anak menangis ketakutan. Jayadi dan Dewi pun mengalami nasib yang sama. Mereka berdua yang semula orang yang mempunyai pekerjaan terhormat, kali ini nasib mereka sama dengan para imigran-imigran Indonesia yang lain. Mereka dipentungi dan disakiti sebagai pendatang haram. Perjalanan mereka berakhir bersama saudara-saudara sebangsanya.
Jakarta , Juni 2009
BIKE TO LOVE
BIKE TO LOVE
Sudah dua kali hari sabtu pagi aku bertemu dengan gadis cantik bersepeda yang dibelakangnya bertulisan ”Bike to Work”. Setiap aku menyebrang jalan ke agen koran depan jalan selalu dia berhenti dan memberi tanda untuk aku menyeberang dahulu. Saat pertema bertemu hatiku merasa berbeda. Tapi perasaan itu selalu ku hilangkan jauh-jauh karena ku pikir aku pasti hanya bertemu hari itu saja. Ternyata pagi ini aku bertemu dengannya lagi.
”Pul, temanin aku beli sepeda!”aku mengajak ipul yang sedang bermain gaplek dengan widi dan dedi. Semua menatap kearahku. Sesaat kemudian terdengar tertawa terbahak-bahak dari mereka semua.
”Fuad untuk apa beli sepeda? Kau pergi jalan kaki 1 km aja malas apalagi naik sepeda” tanyua Ipul
”ya.. buat itu, karena aku malas jalan kaki makanya aku mau beli sepeda” jawabku Asal
”oke nanti kami temanin, sekarang kau temanin kami main gaplek” ajak dedi.
Siangnya, kami berempat menuju ke toko Olahraga di sebuah mall dan mengajak bang Iwan seorang ahli sepeda. Bang Iwan yang lebih mengetahui seluk beluk sepeda, mana yang bagus mana yang biasa saja. Nggak tanggung-tanggung yang kubeli. Sepeda dan segala perlengkapannya lengkap dibeli tiada satupun yang tertinggal termasuk tulisan Bike to work. Uang tabungan pun terkuras sudah. Dengan jujur, aku berkata kepada mereka bahwa aku membeli sepeda beserta perlengkapannya untuk mendekati seorang gadis yang setiap sabtu pagi melewati jalan depan rumah. Baru mereka mengerti mengapa seorang Fuad menginginkan sebuah sepeda. Jadi semua ini untuk kepentingan Bike to Love.
=======================
Sabtu, hari ini aku berharap dapat bertemu kembali dengan gadis pujaan hati. Ku tunggu didepan agen koran seberang jalan. Aku sudah persiapkan segalanya. Kejahuan terlihat seorang gadis cantik sedang mengayuhkan sepedanya dengan tenang. Semakin lama semakin jelas, semakin dekat semakin berdegup kencang jantungku. Gadis itu berlalu dihadapanku, sekuat hati ku bulatkan tekad mengikutinya dari belakang dengan berusaha sekuat tenaga menyusulnya.
”Hai…” tegurku
”Hai..” jawabnya terkejut dengan adanya aku berada disebelahnya.
”Suka naik sepeda juga” tanyaku
”iya”jawabnya singkat
”aku fuad” Aku memperkenalkan diri sambil sekali-kali menatapnya
”aku Sarah” jawab gadis itu tetap menatap kedepan
”Sekarang kau mau kemana?” tanyaku lagi
”Stadion senayan” jawabnya singkat lagi
”sama dong” gadis itu melirikku kesamping, terlihat senyum manisnya mengembang. Baru 3 kilometer aku sudah kepayahan. Aku berhenti persis didepan penjual sarapan pagi. Gadis itu pun ikut berhenti.
”Kau kenapa?”tanyanya
”nggak apa-apa’ jawabku
”tadi pagi aku lupa sarapan, aku sarapan dahulu, atau kau mau ikut sarapan denganku? lanjutku dengan alasan
”tidak usah aku sudah makan”
”Kalau begitu, kau duluan saja nanti ku susul”
Setelah Sarah pergi, langsung aku menghubungi sobat-sobatku. Beberapa saat kemudian mereka datang menemuiku dengan menggunakan mobil. Aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan terkapar menahan kelelahan. Widi memberiku minuman air mineral dengan tergesa-gesa hampir saja aku tersedak.
”payah kau, hanya segitu saja kemampuanmu” kata Widi dengan ketus sambil memberikan botol minumannya ke Fuad.
”Gimana lagi, aku hanya mampunya segini” jawab Fuad loyo
”sekarang ngapain kita? Tanya dedi.
”Pul, tancap gas ke senayan” perintah Fuad
“oke bos” jawab Ipul yang menyetir. Mereka berempat langsung menuju senayan
Sampai senayan dan masuk ke lingkungan stadion sepak bola, sudah banyak manusia yang berlalu lalang, ada yang berolah raga ada juga yang hanya untuk bersantai.
“Dimana dia ya?” Fuad memandang sekelilingnya tidak ada terlihat Sarah disekeliling
”Kau harus mencarinya, jangan hanya diam saja” kata Widi sambil mengeluarkan sepeda Fuad.
Dengan santai Fuad mengelilingi stadion sepakbola senayan. Melajukan sepedanya dengan santai sambil melihat sekelilingnya. ”Nah itu!”
”Sar….Sarah” panggil Fuad dengan penuh semangat, yang dipanggil menoleh dan tersenyum.
”Hai….sudah sampai disini kau!” kata Sarah
”Iya…kau baru sampai juga” tanya Fuad
”Baru saja, mari kukenalkan dengan teman-temanku” Ajak Sarah. Faud mengikuti Sarah dari belakang. Mereka mendekati sekelompok orang berkumpul yang sedang berbincang-bincang dengan pakain khas mereka dan tidak jauh dari mereka terlihat beberapa sepeda terparkir rapi.
”Halo….” Sapa Sarah ramah
”Halo Sarah” Jawab mereka serempak
”Itu kenalkan Bang Iwan, pemimpin komunitas sepeda ini” Sarah memperkenalkan seorang pria yang sedang mengobrol serius dengan dua orang temannya. Dia tidak menyadari kedatangan Sarah dan Fuad. Merasa namanya diperkenalkan lalu dia menoleh kebelakang.
”Bang Iwan!”Fuad terkejut, ternyata ketua komunitas sepeda ternyata bang Iwan saudara nya Ipul. Kesempatan makin terbuka untuk mendapatkan informasi tentang Sarah.
”Fuad!, ngapain kau disini?” tanya Bang Iwan nggak kalah terkejutnya.
”Bang, Aku mau tanya sesuatu!” Fuad mendekati bang Iwan dan menjauhkannya dari kedua temannya itu.
”Abang kenal dengan Sarah?” Tanya Fuad serius
”Jadi Sarah, cewek yang kau incar itu!?” Jawab Bang Iwan dengan suara keras
”Iya bang!” Jawab Fuad terkejut
”Fuad! Sarah itu pacarku!” Jawab Bang Iwan
”Akhhhhhh!!!”
Jakarta, 15 Maret 2009
CERITA SI MOBIL TUA
CERITA SI MOBIL TUA
Aku si Mobil tua yang terlihat kotor. Sedih Aku melihat kondisi tubuhku yang penuh lumpur. Pak Ali sipemilik mobil tidak memandikanku. Dengan alasan kalau mobil dicuci bersih percuma karena cuaca sedang musim hujan nanti kotor lagi. Aku pun berpikir kenapa harus ada alasan seperti itu. Kenapa manusia boleh mandi 2 kali sehari sedangkan Aku tidak dimandikan saat aku sedang kotor. ”Ini tidak adil” pikirku.
Tiba-tiba pintuku dibuka seseorang, ternyata pak Ali yang masuk kedalam tubuhku. Kemudia Ia menghidupkan mesinku. Suara meraung-maruang terdengar memekakkan telinga. Lalu kaca spion dibuka dan diluruskan ke atas. ”Praak” kaca spion ku patah. ”Dasar Mobil tua” kata pak Ali mencela.
Aku hanya bisa menderukan suara mesinku. Sedih rasanya mendengar perkataan Tuanku itu. Apa boleh buat, aku memang sudah tua.
=======================
Setiap jalan-jalan ke Mall, seperti biasa posisi parkirku selalu diapit kiri dan kanan dengan mobil-mobil kenalan baruku. Mereka masih muda-muda dan bersih. Terkadang aku merasa tidak percaya diri. Apalagi mereka banyak berasal dari luar negeri alias import. Apabila berkomunikasi diantara mereka selalu menggunakan bahasa asing yang tidak terlalu aku mengerti. Iya! Mereka menggunakan bahasa Inggris yang sudah menjadi bahasa internasional. Maklumlan aku kan mobil buatan indonesia. Aku pikir sama saja mereka dengan manusia. Aku selalu mendengar anak tuanku selalu menggunakan bahasa Indonesia dicampur bahasa Inggris. Sepertinya mereka lebih bangga menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Padahal mereka itu lahir di Indonesia, Besar di Indonesia, Sekolah di Indonesia. Selalu saja berbicara dengan menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris walaupun mereka berbicara sesama bangsa sendiri. Bukannya aku benci dengan bahasa Inggris tapi kapan Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa Internasional sedangkan bangsanya sendiri malu menggunakan bahasa nenek moyang mereka. Aku sendiri tidak habis pikir. ”Tapi sudahlah” Kenapa aku yang memikirkannya.
====================
Aku terbangun dari tidurku setelah merasa pintu sampingku ada yang mencoba membukanya. Aku kaget sekali! Bukan tuanku yang mencoba membukanya tapi orang lain yang tidak kukenal. Hanya beberapa menit, orang asing itu berhasil membuka pintuku. Lalu dia, membuka kabel dibawa kontak starter. Berkali-kali digesek-gesekan. Ajaib! Mesinku hidup. Kemudian dia masuk dan duduk didepan kemudi dan mulai menjalankanku. Aku mencoba berteriak dan mengatakan bahwa aku ini bukan miliknya tapi percuma dia tidak mendengarkanku. Apa boleh buat, aku bukan menjadi milik tuanku lagi. Aku sudah berpindah tangan ke orang lain yang membawa tanpa sepengetahuan Tuanku. Walau pak Ali tuanku akhir-akhir ini mencuekkanku tapi aku tetap sayang kepadanya dan keluarganya. Mulai hari ini aku berpisah dengan tuanku. ”Selamat tinggal tuan! semoga kita bertemu kembali.”
Jakarta, 25 Desember 2008
(mengenang mobil Toyota Kijang Grand Extra B2985HB tahun 1995 warna hijau silver yang hilang pada tanggal 20 Desember 2008 pukul 19:15 wib di Halaman Parkir Carefour Lebak Bulus Jakarta Selatan)
BALAS BUDI
BALAS BUDI
”Tom! Ayo kita cabut!” ajak Arya
”Oke, tunggu dulu, Aku bayar dulu makanan kita” Tomi meneguk minuman terakhirnya seperti biasa dia tidak mau ada tersisa dari makanan atau minuman yang dia pesan, takut kualat katanya.
”Berapa Pak,?”tanya Tomi sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana belakangnya.
”Meja nomor brapa dik?”tanya bapak yang duduk dibelakang meja kasir yang sepertinya sipemilik rumah makan.
”Meja no 3 pak!”jawab Tomi
”Maaf dik, sudah dibayar wanita yang di nomor 6”jawabnya sambil menyodorkan bon lampiran yang berstempel lunas.
”Siapa wanita itu pak?” tanya Arya
”Saya tidak begitu mengenalnya, tapi dia sering makan di sini. Biasanya dalam seminggu ada sekali dia datang makan disini bersama teman-temannya”jelas bapak pemilik warung dengan lugas.
=====================
Sudah beberapa hari ini, Tomi makan di rumah makan ini. Keingintahuan tentang wanita yang membayar makanannya, membuat dia tidak ketinggalan satu haripun. Setiap hari dia menunggu dari jam 5 sore sampai jam 7 malam. Kata bapak pemilik warung, jam-jam itu wanita misterius itu datang makan di rumah makan ini. Wanita yang ditunggunya akhirnya mampir juga. Dia datang bersama 3 orang temannya, semuanya wanita. Sebelumnya Tomi tidak mengetahui wanita yang mana membayar makanannya. Bapak pemilik warung memberitahunya saat salah satu wanita meminta menu makanan. Wanita itulah yang membayar makanan Tomi. Wanita itu dipandangnya dan lama kelamaan, dia teringat sebuah peristiwa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Semasa dia masih duduk dbangku kuliah. Semasa liburan semester mereka pergi ke danau toba.
”Tolong…..tolong. Ada yang tenggelam” teriakan-teriakan beberapa wanita menggema menyadarkan pengunjung bahwa ada peristiwa penting yang perlu ditangani. Tidak ada yang berani menolong. Teriakan yang melemah menjadi tangisan.
”Byuuur…” Seseorang meluncur terjun ke air. Sesekali muncul kepermukaan. Setelah beberapa kali menyelam, kemunculannya terakhir dengan menarik tubuh seorang gadis lalu menarikna ke pinggir danau. Teman-teman sigadis ikut membantu menariknya. Salah seorang temannya memberi nafas buantan dan yang lain memompa dada sigadis.
”uhuk…uhuk”Gadis itu mulai tersadar namun nafasnya masih satu satu. Teman gadis itu berterima kasih kepada sang penyelamat sebelum pergi meninggalkan mereka. Gadis yang diselamati memandang penyelamatnya sampai menghilang dibalik lalu lalang pengunjung.
”dik, wanita itu sudah selesai makan dan meminta bonnya” bapak pemilik rumah makan mengejutkannya. Lalu Tomi menulis di selembar kertas dan memberikan kepada pemilik toko. Tomi pun membayar makanan siwanita dan teman-temannya lalu meninggalkan rumah makan itu.
Pelayan rumah makan memberi bon yang sudah dibayar dan selembar kerta kepada wanita itu. Wanita itu terkejut bahwa bonnya sudah dibayar lalu dia membuka selembar kertas itu dan membaca ”Terima kasih sudah membayar makananku minggu lalu. Hari ini aku yang membayar bonmu. Aku ikhlas menolongmu tempo hari. Sampai bertemu kembali.” Wanita itu melihat sekelilingnya, mencari pengirim surat ini. Perubahan wajahnya yang cantik terlihat, dia merasa belum bisa membalas kebaikan sang penyelamat. Bukan berarti dia telah membalas budi hanya dengan membayar makanan menyelamatkan hidupnya 10 tahun lalu. Tapi dia ingin membalas kebaikan sang penyelamat hidupnya walaupun sekecil debu.
Jakarta, 21 September 2008
SALESMAN KARTU KREDIT
SALESMAN KARTU KREDIT
”Maaf ya! Saya tidak butuh”
”Ini saya beri gratis bunga 0% selama setahun lho!”
”Sudahlah, Anda jangan mendekati saya lagi. Aku benar-benar tidak butuh” Kandar sudah mulai kesal dengan tingkah laku salesman kartu kredit itu. Kandar berusaha menghindarinya. Salesman kartu kredit itu tetap berusaha merayu Kandar dengan bermacam promosi yang diberikan. Salesman itu juga dengan gampangnya memberikan payung yang ada ditangannya apabila Kandar mau mengisi formulir yang disediakannya.
Sebulan yang lalu, pekerjaan Kandar di kantor terganggu dengan deringan suara Handphonenya. Setelah diangkat ternyata Salesman Kartu kredit menawarkan produknya. Kandar membentaknya saat itu juga. Salesman itu minta maaf dan langsung menutup teleponnya. Kandar berpikir dari mana Salesman itu tahu nomor Hpnya, sepengetahuannya dia nggak pernah memberikan no Hp ke sembarangan orang apalagi dengan Salesman kartu kredit. Rasa penasarannya terjawab disaat Salesman kartu kredit yang lain meneleponnya. Kali ini Kandar tidak membentaknya, Kandar justru menanyakan darimana Salesman itu mendapatkan nomor Hpnya. Salesman itu menjawab bahwa nomor Hp Kandar sudah tercantum didalam daftar peminjam kredit sehingga seluruh perusahaan kredit mengetahuinya. Kandar baru ingat bahwa dia pernah kredit sepeda motor tiga tahun lalu. Mungkin informasi dari perusahaan kredit sepeda motor itu no Hpnya diketahui orang lain terutama perusahaan kartu kredit.
====================
Kandar sudah tidak bekerja selama 6 bulan. Kandar keluar dari perusahaan yang dia sudah bekerja selama 8 tahun. Kandar tidak cocok dengan bos barunya itu. Kandar perlu uang untuk membayar hutang-hutangnya. Masalahnya sekarang, Kandar mempunyai kartu kredit. Bagaimana bisa! Lima bulan sebelum dia keluar, Kandar ditawarin kartu kredit tapi kali yang menawarkan spesial bukan seorang salesman tapi salesgirl. Iya, seorang wanita dapat menaklukan kekerasan hati Kandar dengan menawarkan kartu kredit. Wanita itu cantik menurut Kandar. Hanya lima belas menit Kandar takluk dibuatnya. Kandar merasa beruntung karena wanita itu sebulan kemudian menjadi pacarnya. Sayangnya, hubungan mereka hanya tiga bulan. Selama mereka pacaran, Kandar telah banyak berkorban untuk wanita ini. Berbagai macam hadiah yang diberikan untuk pacarnya. Uang gajinya habis begita saja selama seminggu. Kartu kreditpun jadi andalannya. Tidak terasa hutang bertumpuk tanpa bisa dibayarnya secara keseluruhan. Setelah Kandar keluar dari pekerjaannya, dia dicari-cari penagih hutang kartu kredit. Mau tidak mau dia harus mencari pekerjaan lainnya secepatnya.
Kini Kandar sudah bekerja. Temannya yang bekerja di sebuah bank swasta menawarkan pekerjaan untuknya. Bank tersebut membutuhkan Salesman untuk memasarkan kartu kredit. Karena desakan hutang-hutangnya sudah jatuh tempo, Kandar terpaksa menerimanya. Tidak ada perusahaan lainnya yang mau menerima Kandar karena dia hanya tamatan SMA.
”Kartu kreditnya pak!” Kandar menyodorkan formulir kartu kredit ke pengunjung Mall.
”Sudah Ada dik!” pengunjung itu menepis tangan Kandar. Tapi Kandar terus mengikutinya dari belakang seperti nasibnya yang sekarang berada dibelakang.
Jakarta, 14 September 2008
KAU MASIH SENDIRI
KAU MASIH SENDIRI
”Junaidi!” Rahmi terkejut sedikit berteriak. Dia nggak menyangka akan bertemu Junaidi di Plaza satu-satunya di kota ini. Tempat yang dulu selalu mereka kunjungi. Pertemuan ini membuat hati Rahmi berbunga-bunga. Ada sedikit yang menganggu pikirannya. Rahmi melihat seorang wanita cantik persis dibelakang Junaidi yang sdang memilah-milah baju yang akan dibelinya. Wanita itu sekali-sekali menatap kearah Junaidi.
”Assalamua’alaikum Rahmi” Sapa Junaidi dengan senyum mengembang
”Wa’alaikum salam”Rahmi menjawab dengan nada yang bergetar.
”apa kabarmu Rahmi” Tanya Junaidi singkat
”Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Gimana dengan engkau? Jawab Rahmi dan membalas bertanya.
”Kau lihat aku sekarang, Aku sehat kan! Suamimu mana?” pertanyaan Junaidi ini membuat Rahmi terkejut.
”Belum….belum. aku belum menikah! Jawab Rahmi cepat
”Bukannya kau sudah menikah?” tanya Junaidi kembali. Kali ini suara Junaidi yang bergetar. Wajahnya tampak berubah.
”Hampir! Tapi nggak jadi!” Rahmi tertunduk menahan malunya. Junaidi menatap tajam kewajah Rahmi yang semakin tertunduk mendalam. Tiga tahun yang lalu, Junaidi dan Rahmi adalah sepasang kekasih. Mereka selalu bersama-sama, seakan-akan mereka tidak akan pernah berpisah. Setelah beberapa tahun mereka pacaran, terjadi peristiwa yang tidak mereka duga. Perjodohan yang banyak terjadi dimasa lalu tetapi terjadi pada mereka. Rahmi dijodohi orang tuanya dengan anak laki-laki sahabat ayahnya. Rahmi tidak bisa menolak karena saat itu ayahnya sakit-sakitan. Perjodohan itu membuat Junaidi pergi dari kota kelahirannya pergi ke Ibukota. Sebagai karyawan di perusahaan swasta, Junaidi minta pindah. Walau pun diibukota jabatannya turun, Junaidi menerimanya asalkan tidak bertemu dengan Rahmi lagi. Perlahan-lahan, luka hatinya sembuh walaupun masih berbekas. Junaidi bertemu dengan Sheila kekasih hatinya sekarang. Bersama Sheila yang cantik, kehidupan Junaidi yang terpuruk mulai normal lagi. Junaidi melupakan Rahmi dan sudah mengihlaskan pernikahan Rahmi. Setelah tiga tahun tidak pulang kampung, Junaidi dan Sheila pulang ke kota kelahiran Junaidi. Dia pun ingin memperkenalkan Sheila kepada orangtuanya. Ingin minta persetujuan menikah dengan Sheila. Hari ini dia bertemu dengan Rahmi. Kekasih hati yang dulu. Sebelum bertemu Rahmi, hati Junaidi hanya untuk Sheila. Saat bertemu juga hatinya masih untuk Sheila. Setelah mendengar Rahmi belum menikah tiba-tiba hatinya mulai terganggu. Junaidi jadi ingin mengetahui apa yang terjadi selama dia tidak ada.
”Hai juned! Kenapa diam saja” Juanidi dikejutkan dengan tepukan tangan Sheila.
”Hey iya. Aku lupa! Sheila ini Rahmi temanku!” Junaidi memperkenalkan Sheila kepada Rahmi. Sheila mengulurkan tangannya dan Rahmi menerimanya.
”Ayo kita lanjut ngobrolnya di Food Court atas, tidak enak berbicara sambil berdiri disini!” Ajak Sheila lembut.
”Baiklah! Ayo Rahmi ikut kami” Junaidi mengandeng tangan Sheila. Rahmi tidak beranjak dari tempat dia berdiri.
”Tidak usahlah, aku ada urusan yang lain. Lain kali saja ya!”Rahmi menolak ajakan mereka.
”Aku permisi dulu, Assalamu’alaikum” Rahmi meninggalkan mereka berdua. Junaidi menatap Rahmi yang berjalan disela-sela kerumunan orang-orang.
===================
Rasa penasaran Junaidi akan cerita peristiwa yang terjadi selama dia pergi ke Jakarta. Beberapa teman di temui tapi tidak ada yang tahu peristiwa tersebut. Hanya satu nama lagi yang diingatnya yaitu Maryam sahabat Rahmi.
Tok..tok..tok. ”Assalamu’alaikum” Junaidi mengetuk pintu rumah Maryam, dia memperhatikan kedalam melalui sela-sela jendela. Dilihatnya ada yang datang. Pintu dibuka, muncul wanita seumurannya yang keluar.
”Maryam apa kabar?”tanya Junaidi
”Hai, Junaidi?” Maryam terkejut tamunya itu adalah Junaidi. Sudah lama dia tidak bertemu Junaidi. Tidak banyak yang berubah dari Junaidi. Hanya sekarang dibawah wajahnya terlihat tumbuh janggut yang terawat rapi.
”Ayo, silahkan masuk” ajak Maryam
Lama mereka terdiam, tidak ada yang keluar sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
”Mar, aku ingin bertanya tentang Rahmi” Junaidi membuka pembicaraan.
”Aku mau tahu tentang tidak jadinya Rahmi menikah!” Maryam menatap Junaidi dengan tajam. Berat hati Maryam untuk mengungkapkan peristiwa suram sahabatnya. Suasana kembali sepi.
”Rahmi tidak jadi menikah karena calon suaminya tidak datang saat pernikahan mereka” Kata Maryam langsung menjawab kepokok pertanyaan. Junaidi terkejut mendengar jawaban Maryam yang singkat tapi padat itu.
”Calon suaminya tidak mau menikah dengan Rahmi karena dia sudah mempunyai pilihan sendiri. Calon suaminya itu tidak mau dijodohi. Akibat peristiwa tersebut Ayah Rahmi semakin parah penyakitnya. Beberapa bulan kemudian beliau meninggal dunia.”
Junaidi tertegun mendengar cerita Maryam. Junaidi menyesali begitu cepat dia mengambil keputusan untuk meninggalkan Rahmi dan kota ini. Ada rasa kasihan terhadap Rahmi. Ingin rasanya Junaidi menghibur Rahmi. Benih-benih cinta lama kembali tumbuh dihati Junaidi. Kebimbangan mulai terlihat di wajah Junaidi. Dihatinya ada dua cinta. Satu Rahmi dan satu lagi Sheila.
Jakarta, 06 September 2008
KETIKA MEREKA SELINGKUH
KETIKA MEREKA SELINGKUH
”Des, kamu ada dimana?”
”Aku di Lobi, sedang menunggumu!”
”Aku sedang menunggumu didepan hotel, cepat kamu kemari sayang. Aku tidak mau ada orang lain melihat” Dennis mulai gelisah. Tadi siang Dessi sudah berjanji mau menemuinya segera. Dennis tidak mau ada orang yang mengenalnya melihat sedang menunggu wanita apalagi bukan istrinya.
Lima menit Dennis menunggu Dessi didepan hotel tidak ada tanda-tanda kalau Dessi akan datang. Tiba-tiba HP nya berbunyi.
”Des, Dimana kamu? Tanya Dennis mulai kesal
”Aku dari tadi mencarimu” Jawab Dessi dengan suara sedikit berteriak
”Aku mencari mobilmu dari tadi. Ku tanya ke tukang parkir, mereka tidak ada yang mengetahuinya” lanjut Dessi mulai kesal.
”Waduh….maaf aku lupa mengatakannya. Aku naik Sepeda motor” kata Dennis.
Dessi hanya bisa bersungut-sungut kesal saat bertemu Dennis. Cubitan melayang ke pinggang Dennis. Cubitan Dessi hanya dianggap cubitan menggoda bagi Dennis.
Pertama kali Dennis mengenal Dessi saat Dessi menjadi Manager baru di kantornya. Dennis yang kebetulan juga seorang Manager di perusaahaan yang sama hanya lain divisi. Dennis pula yang menceritakan segala sesuatu yang menyangkut perusahaan serta kebiasaan karyawan-karyawan lainnya. Dessi keluar dari pekerjaannya yang lama dan masuk ke kantornya yang baru. Katanya disini gaji, fasilitas dan jabatan yang diberikan lebih baik daripada yang diterimanya dari kantornya yang lama. Dessi yang merantau ke Jakarta tidak mempunyai sanak keluarga ataupun teman di kota besar ini. Biasanya siapa saja yang merantau selalu mencari induk semang atau saudara sebagai pelindungnya. Dennis yang menjadi induk semangnya Dessi. Dennis yang mencarikan Dessi Apartemen. Setiap Dessi memerlukan sesuatu, Dennis selalu berada disamping Dessi. Sebab itu pula timbul benih-benih cinta di hati Dessi.
Dessi mengetahui tentang Dennis yang sudah beristri dan punya dua anak. Selain Dennis memberitahukan kepadanya, Dessi juga mengetahuinya dari foto yang berada di atas Meja Dennis. Dessi juga telah mengetahui istri dan anak-anak Dennis. Mereka dikenalkan pada saat pertemuan di pesta pernikahaan teman sekantor mereka.
===================
Dennis dan Dessi selalu berdua kemana saja. Pergi ke Mall, Nonton konser musik, Makan siang bersama juga setiap hari. Pertama-tama hubungan mereka tidak ada yang mempersoalkannya tapi lama kelamaan hubungan mereka jadi pembicaraan juga di kantor. Apalagi mereka selalu bertemu dengan teman kantor yang saat sedang bersama. Keadaan ini membuat mereka memutuskan menjaga jarak. Agar pembicaraan yang berkembang hilang dan mereda.
Hubungan mereka tetap berlanjut diluar kantor. Dennis pernah beberapa kali berganti-ganti mobil. Kadang-kadang mobil teman sekantornya, dia pinjam. Itu semua untuk mengelabui orang-orang yang mengenal mereka. Sebenarnya itu semua untuk menutupi ketakutan Dennis terhadap perbuatan selingkuhnya. Bagaimana pun juga Dennis memikirkan untuk mempertahankan perkawinannya. Ada kejadian yang memilukan saat meminjam mobil teman. Bukan kejadian memilukan untuk Dennis tapi untuk temannya Frans. Ada yang melihat Dennis sedang menyetir mobil yang disampingnya adalah Dessi. Walau tidak memakai mobil sendiri, Dennis selalu memakai kacamata hitam dan topi dan tidak ada yang mengenalnya. Istri Frans melihat Dennis dan Dessi di mobil miliknya Frans. Naas bagi Frans. Istri Frans menyangka bahwa yang didalam mobil adalah Frans dan selingkuhannya. Menggenaskan sekali, pertengkaran terjadi. Istri Frans tidak mempercayai penjelasan dan pembelaan Frans. Istri Frans minta cerai. Frans mengamuk dan menghajar istrinya sehingga masuk rumah sakit. Frans pun ditangkap.
Kejadian itu membuat Dennis terpukul. Mulai saat itu dia tidak pernah meminjam mobil temannya lagi. Dennis membeli sepeda motor lengkap dengan helm berkaca hitam. Pasti tidak ada yang mengenalinya lagi. Dia beli plat sepeda motor orang lain. Plat yang sudah tidak berguna lagi bagi yang punya karena sepeda motornya hilang di curi. Plat itu digunakannya untuk mengelabui orang-orang yang mengenal sepeda motornya. Tidak itu saja, Dessi pun disuruh pindah dari apartemennya yang lama. Merekapun tetap berhubungan sampai sepanjang kelakuan selingkuh mereka tidak ketahuan.
Jakarta, 28 Juni 2008
ADA TIKUS DI RUMAHKU
ADA TIKUS DI RUMAHKU
”Adauww….. sakit! “Bambang berteriak keras dan terbangun dari tidurnya. Dia merasa ada yang menggigit jari kakinya. Sekilas bayangan kecil lari dari tempat tidurnya.
“Tikusss…sss”
Tia yang terlelap, terbangun dan kaget mendengar teriakan suaminya.
”Ada apa bang?” tanya Tia
”Ada tikus…..”
”Tikus?dimana?”
”Itu ….tadi lari kesana” jawab Bambang sambil menunjuk ke bawah lemari pakaian.
”Memangnya kenapa tikusnya?”tanya Tia lagi sambil menguap dan berusaha menghilangkan rasa kantuknya.
”Tikusnya udah mulai kurang ajar! Dia udah berani menggigit jari kakiku” teriak Bambang dengan marah.
Tia terdiam mendengarnya, dia juga mulai terganggu dengan tikus dirumahnya. Mereka sudah begitu mengalah dengan tikus itu. Makanan, kain dan juga salep obat pun dibawa lari oleh tikus, tidak ada lagi benda-benda yang ada di rumah ini yang bebas dari tikus dan sekarang jari kaki yang punya rumah pun dilukainya. Sudah berbagai macam cara mereka lakukan, buat jebakan sampai racun tikus tapi tetap tidak berhasil.
”Besok aku cuti saja “ ujar Bambang masih kesal
“Besok aku akan memburu tikus itu diseluruh rumah ini, aku nggak peduli lagi pokoknya dia harus keluar dari rumah ini hidup atau mati“ ujar Bambang dengan dendam membara.
Tia hanya terdiam dan mendukung langkah suaminya
======================
Keesokan harinya Bambang dan Tia telah bersiap-siap, mereka sudah mempersiapkan gagang sapu dan sepatu boat, sebelumnya meraka menyusun pakaian-pakaian mereka ke lemari, Koran-koran telah mereka keluarkan terlebih dahulu sehingga ruangan kelihatan lebih luas dan menghilangkan peluang tikus untuk bersembunyi.
Dengan mengendap-ngendap mereka mulai mendekati lemari kamar, perlahan-lahan melihat kebawah lemari ternyata tikusnya sudah tidak ada. Kemudian mereka memeriksa disudut-sudut rumah, dibawah kolong kursi sampai gudang tetapi masih tidak ada.
Tiba-tiba berkelebat seekor mahluk kecil hitam keluar dari balik kompor minyak berlari menuju pintu yang sengaja dibuka, sepertinya tikus itu tahu kalau dia jadi incaran.
”Tutup pintunyaaa……….” teriak Bambang dengan tiba-tiba
“Tapi…..????” ujar Tia bingung. Maksud awal mereka hanya mau mengusir tikus tersebut keluar dari rumah tetapi Bambang berubah pikiran.
“Tutuppppp…..”teriak Bambang keras,
Tia dengan cepat menutup pintu, lalu Bambang mengejar tikus itu dan melemparkan sepatu Boat yang ada ditangannya dengan cepat, lemparan pertama melesat, kemudian melemparkan sepatu boat yang lainnya dan kena, akan tetapi tikus tersebut masih berusaha lari dengan cepat dengan sigap Bambang menghantamkan gagang sapu ke tubuh tikus itu.
Bett…bett..kena!sabetan terakhir kena dan melemparkan tubuh tikus kedinding. Belum sempat tubuh itu jatuh kelantai, Bambang menghantamkan gagang sapu sekali lagi.
Prakkk…!!! Kayunya patah, tikusnya mati.
AKU TETAP SETIA KI!
AKU TETAP SETIA KI!
Ki Serang naik ke atas panggung, berorasi didepan masyarakat desa atas ketidak setujuan dengan terpilihnya kepala desa baru. Seharusnya dia yang menjadi kepala desa. Dalam pidatonya, Ki Serang berorasi sambil meramal desa ini akan hancur apabila kepala desa baru yang memimpin. Kalau soal ramal meramal, Ki Serang memang ahlinya. Segala macam cara ramalan dikuasainya. Dari meramal melalui tangan, kartu, atau hanya sekedar melihat dari bentuk wajah pun dia bisa menjelaskan. Sebelum meramal biasanya Ki Serang selalu bercerita tentang pengalamannya bertapa di dua gunung merapi yakni gunung merapi yang ada di Jawa maupun di Sumatera. Katanya lagi, penunggu di dua gunung itu sudah memberi wangsit padanya bahwa Ki Serang harus berbuat sesuatu seperti meramal nasib seseorang untuk mengubah jalan kehidupan mereka yang dari susah menjadi senang. Banyak yang mempercayai kata-kata Ki Serang termasuk istri-istrinya. Ki Serang mempunyai dua istri dan masih muda-muda semuanya. Selain istri-istrinya ada juga yang lain percaya padanya. Salah satunya adalah muridnya yang bernama Atmo. Ki Serang sangat menyayangi Atmo. Setiap berpergian meramal nasib orang, Atmo selalu disampingnya walaupun ada beberapa murid Ki Serang lainnya. Atmo lain dari yang lain. Dia setia dengan Ki Serang dan setiap diperintah, selalu cepat dan tepat. Dan saat Ki Serang berorasi di atas panggung, Atmo pun ikut serta disamping Ki Serang seperti tukang pukul menjaga bosnya.
Pidato Ki Serang semakin membuat suasana semakin panas. Padahal di lokasi itu ada juga kepala desa baru beserta para pendukungnya. Merasa dihina, pak Sam kepala Desa yang terpilih menjadi marah. Dia pun ikut naik ke atas panggung langsung merampas pengeras suara yang dari tadi dipegang Ki Serang. Tinju pun melayang ke wajah Ki Serang. Melihat bosnya diserang, Atmo langsung membalas perlakuan pak Sam dengan tinju pula. Tidak hanya itu tendangan pun menghajar perut pak Sam. Melihat bosnya di hajar Atmo, para pendukung pak Sam tidak tinggal diam. Mereka beramai-ramai naik ke atas panggung menyerang Atmo. Teman-teman Atmo pun ikut naik ke atas membantu Atmo dan membantu Ki Serang. Dengan mulut dan hidung berdarah, Ki Serang mencoba berdiri tegak. Wajahnya pucat pasi
”Atmooo…. ayo kita pergi dari sini”teriak Ki Serang sambil mencoba meraih tangan Atmo yang sedang sibuk menghantam kepalan tangannya ke orang-orang yang mengeroyoknya. Atmo tidak mendengar teriakan Ki Serang.
”Buk….buk…buk. Atmo ayo kita pulang” Ki Serang memukul Atmo dengan pengeras suara yang tadi jatuh terlempar.
”Iya Ki…” dengan singgap Atmo bergegas menghampiri Ki Serang yang berjalan gontai di depan. Sebelum pergi Atmo sempat menendang lawannya yang sudah tidak berdaya di bawah panggung.
====================
Dalam perjalanan pulang, Atmo membonceng Ki Serang yang sedang menahan rasa sakit. Sekali-sekali Ki Serang memukul kepala Atmo.
”Bodoh kamu Atmo. Kenapa kau biarkan aku dipukul”
”Maafkan saya Ki!” Atmo terus melajukan kendaraannya tanpa mengeluh sakit walaupun terus menerus dipukul kepalanya oleh Ki Serang.
Sampai dirumah, salah satu istri Ki Serang menyambut mereka dengan cemas. Istri yang masih muda itu memapah Ki Serang masuk ke dalam sementara Atmo memarkirkan sepeda motornya.
”Pak, Apa yang terjadi?”Istrinya bertanya dengan nada prihatin.
”Aku dicurangi bu! Aku kalah dalam pemilihan kepala desa”Ki Serang menjelaskan sambil perlahan-lahan duduk di kursi rumahnya.
”Wajahmu kenapa pak? Sampai berdarah begitu?”Tanya istrinya lagi.
”Kalau yang ini, gara-gara si Atmo!” Jawab Ki Serang sambil melemparkan asbak rokok ke arah Atmo. Lemparan Ki Serang mengenai jidat Atmo sehingga mengeluarkan darah. Atmo tetap diam dan tertunduk merasa bersalah.
”Pak, ini air minumnya.” Istrinya menyuguhkan air putih yang baru diambilnya dari dapur. Dengan perlahan Ki Serang mengambilnya dan tiba-tiba dia melemparkan juga gelas yang belum diminumnya ke Atmo. Tapi kali ini Atmo menangkisnya. Sebagian air mengenainya dan gelasnya justru berbalik ke arah Ki Serang. ”Zeeb…” Kali ini jidat Ki Serang yang berdarah.
”Kamu melawan ya!” teriak Ki Serang sambil memegang jidatnya yang kesakitan.
”Tidak Ki. Aku tidak sengaja” Atmo mencoba menghampiri Ki Serang.
”Pergi kau!” teriak Ki Serang dengan penuh amarah. Istrinya mencoba membujuk Ki Serang dan memberi pembelaan kalau Atmo tidak sengaja. Bukannya tenang justru Ki Serang semakin marah dan istrinya pun kena caci makinya.
”Ki…..ki… Kau tidak apa-apa?”suara teriakan terdengar dari luar ternyata suara istri pertamanya yang datang dengan murid-muridnya yang lain.
”Aku rusak begini kau bilang tidak apa-apa!” teriak Ki Serang. Istri pertamanya pun kena sumpah sarapahnya.
”Ini semua gara-gara sibodoh ini” sambung Ki Serang sambil menunjuk ke arah Atmo. Mereka semua memandang ke Atmo yang berdiri masih tertunduk.
”Tangkap dia dan Hajar dia!”teriak Ki Serang kembali menunjuk ke Atmo. Ada perasaan ragu dengan teman-teman Atmo lainnya. Tidak mungkin mereka menghajar Atmo.
”Cepat!” kembali Ki Serang berteriak. Mendengar teriakan terakhir ini, murid-murid Ki Serang langsung menangkap Atmo dan menghajarnya berulang-ulang. Atmo tidak melawan.
”Ki, Aku tidak bersalah”lirih Atmo sambil menahan sakit. Ki Serang tidak peduli. Teman-temannya pun tetap menghajarnya hingga akhirnya Atmo tidak sadarkan diri.
====================
Atmo tersadar ketika ada yang menusuk-nusuk dengan kayu telapak kakinya. Dia melihat sekelilingnya. Terlihat olehnya sawah yang sudah siap panen.
”Orang gila…..orang gila…..orang gila” banyak anak-anak disekelilingnya. Tertawa sambil menusuk-nusuk bagian tubuh Atmo yang lain dengan kayu dan ranting padi kering. Sekali-sekali mereka melempar Atmo dengan tanah dan lumpur sawah.
”Ehhh…..sudah…sudah. Sana pergi” usir perempuan tua menghampiri pondok dimana Atmo berbaring, dikedua tangannya memegang piring dan gelas. Makanan dan minuman untuk Atmo. Anak-anak yang diusir tidak semuanya pergi. Sebagian masih berdiri memperhatikan perempuan tua itu masuk kedalam pondok. Atmo masih merasa nyeri di seluruh tubuhnya.
”Nak. Ini makan!” sambil menyuapkan nasi ke mulut Atmo.
”Terima kasih bu. Aku bisa makan sendiri” Atmo bergerak tapi kaki dan tangannya terikat. Kaki Atmo dipasung dengan menggunakan kayu dan tangannya dirantai besi.
”Kau tidak bisa bergerak nak! Ini minum dulu. Pasti kau haus!” Atmo meminum air putih digelas. Dia memang haus. Hampir setengah gelas air diminumnya. Perempuan tua itu menarik gelasnya, kuatir air minum Atmo habis.
”Kenapa aku ada disini?” tanya Atmo
”Memang kau pasti tidak ingat!” jelas perempuan itu.
”Sepertinya kau tidak gila?” perempuan tua itu malah mempertanyakan kondisi Atmo.
”Aku memang tidak gila!” jawab Atmo sedikit berteriak sehingga mengagetkan perempuan tua itu dan anak-anak yang masih menontonnya.
”Ada sekelompok anak muda yang datang ke desa ini dan menemui kepala desa sini agar kami menjaga dan merawatmu. Katanya kau gila! Katanya lagi, mereka akan membayar kami setiap bulan” cerita perempuan tua itu .
===================
Sudah sebulan Atmo di tengah sawah ini. Tubuhnya yang gagah semakin lama semakin kurus. Rambutnya sudah panjang dan bulu-bulu diwajahnya sudah terlihat lebat tidak terurus.Tatapannya kosong. Mulutnya selalu bergerak mengucapkan sesuatu. Perempuan tua itu tetap mengurus Atmo dengan sabar. Orang-orang yang melintas dipematang sawah selalu tidak ketinggalan melihat Atmo. Orang-orang pun selalu bertanya apa yang diucapkan Atmo. Perempuan tua itu selalu menjawabnya kalau Atmo berkata ”Aku tetap setia Ki”. Berbulan-bulan dan tahunan, Atmo dipasung. Atmo pun benar-benar gila. Perempuan tua yang merawat Atmo sudah meninggal. Tidak ada yang menggantikan. Uang pengurusan Atmo sudah lama tidak diberikan Ki Serang ke Desa itu. Atmo pun dibebaskan. Dia berjalan dan terus berjalan dari desa keluar desa. Atmo selalu berkata ” Aku tetap setia Ki!”.
MIMPI DIWAKTU MAGHRIB
MIMPI DIWAKTU MAGHRIB
Jaya yang sedang bersama-sama Melati keluar dari Mall. Mereka berdua, baru saja selesai menonton Film di bioskop 21. Mereka menuju pelataran parkir dan mendapatkan mobil milik Jaya. Beberapa saat kemudian mobil melaju meninggalkan Mall termewah dikota ini, Keluar dari Mall, mobil Jaya sudah ada yang mengikuti dari belakang. Ada Tiga sepeda motor yang membututi dan berusaha menyalipnya. Dua sepeda motor berhasil menyalipnya dan berhenti beberapa meter didepan mobilnya dan satu sepeda motor lagi berhenti dibelakangnya. Jaya pun mengerem dengan mendadak. Empat orang pemuda turun dengan segera dan berlari ke arahnya. Jaya melihat kebelakang, dilihatnya dua orang lagi juga turun menghampirinya. Jaya curiga, jangan-jangan mereka ingin merampok. Tiba-tiba Jaya menancapkan gas mobilnya dan menerobos sepeda motor yang menghalangi jalannya, empat pemuda yang mencurigakan itu terkejut dan secepatnya mereka menghindar dan menjatuhkan tubuh mereka kesamping kanan. Dua orang yang dibelakang langsung berlari menuju sepeda motor mereka dan mengejar targetnya. Melati berteriak agar Jaya memperlambat mobilnya tapi dia tidak perduli malah dia makin mempercepat laju kendaraannya sedangkan di belakang sepeda motor terus mengejar dan membututi mereka.
Kejar-kejaran terus berlanjut, didepan ada bis yang menghalangi, sepeda motor itu berhasil mengejar dan berada disamping kanan mobil mereka. Lalu mencoba mendekati pintu depat mobil mereka dan memberikan peringatan agar mereka berhenti. Pengendara sepeda motor yang duduk dibelakang mengeluarkan sebuah pistol dan mengacungkan ke kaca pintu mobil Jaya. Akan tetapi Jaya tidak perduli peringatan tersebut seakan-akan dia tidak mendengarnya lalu Jaya menyalip kesebelah kiri masuk ke jalur lambat, tidak diduga didepan ada taksi yang berhenti. Melati berteriak, Jaya menginjak pedal rem sampai dalam tapi tidak berhasil kemudian Jaya membanting stir kekiri dan mobil menghantam sepeda motor yang mengejar mereka. Sepeda motor terpental dan jatuh menyeret pengemudinya. Sementara mobil Jaya menabrak trotoar dan memutar kebelakang. Suasana menjadi hening sesaat.
“Melati…..melati!” Jaya mengguncang tubuh Melati yang tidak sadarkan diri. Jaya memeriksa denyut nadi tangan Melati. Jaya merasa lega. Melati hanya pingsan saja.
“Buk…..buk…..buk”suara kaca mobil dihantam dari luar mengejutkan Jaya. Salah satu pengejar dengan wajah berlumuran darah menghantamkan sebuah batu ke kaca mobilnya. Dengan sigap, Jaya membuka kunci pengaman. Membuka dan menendang pintu, membuat tubuh sipengejar jatuh terjerembab kebelakang.
“woiii….berhenti woiiii”teriak orang sekeliling Jaya.
“Pak! Mereka perampok!” teriak jaya menjelaskan
“Alasan! Kamu menabraknya, kami saksinya” teriak yang lain.
“Buk…..buk.” Kali ini Jaya menjadi bulan-bulanan masyarakat sekitarnya. Jaya mencoba melawan. Ternyata lawannya terlalu banyak. Wajah Jaya mulai mengeluarkan darah. Dada Jaya terasa sesak. Jaya tidak sadarkan diri.
“Jaya…..Jaya. bangun! Udah Maghrib” Melati mengguncang tubuh Jaya.
“Astaghfirullah!” Jaya bangun dengan tubuh berkeringat dan membasahi bajunya.
“Sudah Maghrib rupanya. Aku belum Shalat Maghrib!” Lega hati Jaya ternyata dia hanya bermimpi.
-
Terkini
- BURUH DALAM ISLAM
- BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
- GEMPA MELANDA RANAH MINANG
- RANAH MINANG YANG RAMAI
- GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
- MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
- DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
- BERTEMU PRESIDEN
- RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
- PEMILU YANG ANEH!?
- PERGERAKAN BURUH DI INDONESIA II
- BIKE TO LOVE
-
Taut
-
Arsip
- November 2009 (2)
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
