BURUH DALAM ISLAM
BURUH DALAM ISLAM
Hubungan baik antara pengusaha dan buruh diatur dalam islam yang menawarkan system sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Islam memberikan penghargaa yang tinggi terhadap pekerjaan. Para buruh yang bekerja dan mendapatkan penghasilan dengan tenaga sendiri wajib dihormati.
Kapitalis menjamin setiap individu berhak menjalani usaha dengan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan dan mengeksploitasi tenaga Buruh sehingga nasib buruh tergantung pada pemilik modal. Sedangkan komunis mempunyai konsep kesetaraan dalan ekonomi setiap individu tetapi menyebabkan hilangnya kemerdekaan dalam memilih pekerjaan, tempat tinggal dan kemandirian buruh karena ditangani segalanya oleh negara.
Dalam Islam setiap individu dihargai melalui kerja keras, pengabdian dan pekerjaannya yang bermanfaat bagi orang banyak. Penghargaan ini berlaku bagi buruh maupun pemilik modal. Hubungan buruh dan pemilik modal bukan merupakan hubungan diantara kedua musuh tetapi hubungan keduanya yang saling membutuhkan.
Buruh yang secara langsung menghasilkan hasil pekerjaannya sedangkan pemilik modal menyiapkan pekerjaannya. Keduanya saling membutuhkan, apabila buruh tidak ada maka tidak ada yang dapat diselesaikan. Begitu juga dengan pemilik modal, apabila mereka tidak ada maka tidak ada lapangan pekerjaan.
Islam juga menetapkan hak-hak yang menjamin kehidupan yang baik dan mulia bagi Buruh. Sebagian hak-hak buruh menurut Islam
1.Perjanjian yang jelas secara lisan maupun tulisan, jelas dan transparan, dan berkeadilan. Buruh juga harus mengetahui tugas dan tanggung jawab, juga hak dan kewajiban.
2.Persamaan martabat pekerjaan terhadap Buruh, tidak ada pekerjaan halal yang merendahkan martabat Buruh.
3.Buruh tidak diperbolehkan bekerja yang tidak sesuai dan diluar batas kemampuan. Khusus buruh wanita diberikan pekerjaan yang layak dan cocok bagi Buruh wanita.
4.Biaya pengobatan yang layak apabila terjadi kecelakaan kerja
5.Mempunyai waktu bekerja dan waktu luang untuk diri sendiri serta keluarga.
6.Upah yang layak dan tepat waktu dalam pembayaran
7.Buruh berhak dalan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pendapatnya. Serikat buruh bertujuan membantu buruh dalam mencari keadilan dan mensosialisasi pekerjaan sesuai kesepakatan bersama.
Selain hak-hak buruh, islam juga menyebutkan tentang kewajiban Buruh terhadap pemilik modal
1.Tanggung jawab buruh terhadap upah yang diminta dari pemilik modal dan upah tersebut sesuai dengan pekerjaan dan kemampuan Buruh.. Jangan sampai pemberian upah mengakibatkan pemilik modal mengalami kerugian. Apabila hal itu terjadi Buruh juga harus ikut mempertanggung jawabkan. Dalam Islam besar kecilnya upah berdasarkan perbedaan jenis pekerjaan, kemampuan, keahlian dan pendidikan.
2.Kesungguhan Buruh dalam melaksanakan pekerjaanya Melaksanakan pekerjaan yang telah ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antar buruh dan pemilik Modal.
3.Buruh wajib melaksanakan perintah pemilik modal serta yang mewakilinya sesuai dengan pekerjaan yang telah disepakti. Apabila menyimpang, Buruh tidak wajib mengikutinya kecuali terdapat dalam perjanjian bersama.
4.Menjaga dan memelihara perlengkapan dan peralatan pekerjaan. Menjaga seluruh rahasia perusahaan dan pemilik modal sampai Buruh tidak lagi bekerja atau memutuskan hubungan kerja.
Hak-hak buruh bukan berarti mengurangi kewajiban buruh dalam melaksanakan pekerjaan secara sungguh-sungguh dalam memenuhi perjanjian kedua belah pihak dan Islampun menjaga kesimbangan antara hak dan kewajiban.
Tujuan yang diharapkan buruh adalah upah yang sesuai dan kesejahteraan yang memadai, sedangkan bagi pemilik modal berkembangnya usaha dan mendapatkan keuntungan yang diinginkan. Kesimpulannya kedua belah pihak dalam kedudukan yang sama-sama menanggung keuntungan dan kerugian.
Jakarta, 08 November 2009
Fadly Rahman
Sumber :
1. Baqir Sharief Qorashi, Keringat Buruh, Hak dan Peran Pekerja dalam Islam, Penerbit Al-Huda, Jakarta, 2007
2. Muhammad Maksum, Konsep perburuhan Islam, Solusi atas Kesejahteraan Pekerja
3. Muzammil Siddiqi, Hak Pekerja dalam Islam, 20 Agustus 2006
4. Pidato Rahbar dalam Pertemuan dengan Kaum Buruh, 26 April 2006
BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 yang lalu, bangsa Indonesia memproklamirkan bahasa persatuannya adalah bahasa Indonesia. Sebelum peristiwa bersejarah ini terjadi, bahasa Indonesia yang dikenal dengan bahasa Melayu menjadi bahasa utama yang telah digunakan sebagai bahasa perdagangan. Setiap pedagang yang berdagang di Nusantara bisa berbahasa Melayu, baik itu dari Nusantara maupun dari negeri jauh. Bahasa Melayu juga digunakan sebagai bahasa pendidikan Para pelajar-pelajar agama Budha yang akan belajar di Universitas milik kedatuan Sriwijaya, terlebih dahulu mempelajari bahasa Melayu untuk memudahkan mereka menyerap pelajaran-pelajaran agama budha dan lainnya yang diberikan oleh guru-guru dan pendeta-pendeta terkenal saat itu. Bahasa Melayu juga dipergunakan sebagai bahasa pengantar saat para ulama-ulama Islam menggunakannya dalam penyebaran Islam ke seluruh Nusantara.
Pada saat Indonesia di kuasai oleh Belanda, Bahasa Indonesia menjadi bahasa sosial. Pegawai-pegawai yang dikirimkan dari Belanda untuk ditempatkan di kantor-kantor dan pos-pos di Pemerintahan Hindia Belanda diwajibkan mahir berbahasa Melayu atau minimal mereka bisa berbahasa Jawa apabila ditempatkan di Jawa.
Waktu telah berlalu, anak bangsa banyak yang telah melupakan sejarah itu. Surat kabar “Indopos” terbitan selasa 3 November 2009 hal 5 kolom “Sabang-Merauke” memberitakan bahwa Alex Noerdin gubernur Sumatera Selatan mengambil kebijakan bahwa rapat pemeritahan provinsi wajib pakai bahasa Inggris dengan alasan bahasa Inggris adalah bahasa Global. Situs Melayu-online juga pernah memberitakan bahwa banyak bahasa daerah yang ada di Indonesia hilang tanpa ada penuturnya.
Sangat miris rasanya apabila bahasa Indonesia juga menjadi bahasa sampingan. Dengan kondisi ini, perlu kerja keras dan berbagai pihak membuat Bahasa Indonesia/bahasa Melayu yang rencananya akan diusulkan menjadi bahasa Asean dan salah satu bahasa utama PBB.
Fadly Rahman
Jakarta, 04 November 2009
GEMPA MELANDA RANAH MINANG
GEMPA MELANDA RANAH MINANG
Pada hari rabu 30 september 2009 sore hari, gempa bumi mengguncang Ranah Minang dengan kekuatan 7,6 SR yang pusat gempanya terdapat di Pariaman. Gempa terasa di Riau, sumatera utara, bengkulu dan Jambi bahkan terasa sampai ke Malaysia dan Singapura. Penduduk dan masyarakat kota Padang dan pariaman yang berada di tepi pantai berhamburan dan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Gempa ini berpotensi Tsunami.
Banyak bangunan-bangunan baik rumah maupun gedung rusak parah. Korban pun berjatuhan dan diperkirakan ratusan orang menjadi korban. Kurangnya alat berat sangat menyulitkan evakuasi korban yang terkena reruntuhan bangunan. Hujan lebat memperparah kondisi. Para tim penyelamat dan masyarakat yang membantu juga mengalami kesulitan penerangan akibat padamnya lampu.
Pemerintah pusat telah mengintruksikan tim-tim penanggulangan bencana baik dari unsur sipil dan militer segera berangkat ke Padang. Bandara Minangkabau juga telah dibuka rabu malam. Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Pariaman yang berada di Jakarta segera pulang ke Sumatera Barat. Lima menteri juga berangkat keesokan paginya. Rumah Sakit terapung juga segera di kirimkan ke Padang.
Gempa susulan terus datang walau sekala semakin kecil. Pada Kamis pagi 1 Oktober 2009 secara mengejutkan terjadi gempa tektonik terbaru yang berkekuatan 7.0 SR yang berkedudukan di Kerinci. Menurut informasi yang didapat banyak rumah-rumah penduduk yang runtuh. Semoga Allah SWT merahmati semua korban-korban bencana dan seluruh keluarganya. Amin
Fadly Rahman
Jakarta, 01 Oktober 2009
RANAH MINANG YANG RAMAI
RANAH MINANG YANG RAMAI
Pengalaman lebaran atau berhari raya di Sumatera Barat yang dikenal Ranah Minang sangat terasa sekali. Disetiap sudut tempat yang berawal dari bandara Internasional Minangkabau, terpasang Baliho berukuran besar yang didalam terdapat gambar Gubernur Sumatera Barat dan wakil Gubernur yang sedang mengucapkan kata sambutan “Selamat Datang Para Perantau”. Begitu juga di sudut-sudut sepanjang jalan menuju kota padang bertebaran spanduk dan Baliho terpasang dengan ucapan yang sama.
Perantau yang pulang kampung pada saat lebaran menyesakkan kota-kota di Sumatera Barat. Kendaraan-kendaraan Plat-plat nomor polisi dari berbagai kota sumatera Barat memenuhi lalu lintas ranah Minang tersebut. Tradisi pulang Basamo yang dilakukan para perantau dan sambutan pemerintah daerah masing-masing kabupaten atau kota membuat para perantau pulang dengan perasaan gembira dan bangga.
Setelah hari pertama lebaran, tempat-tempat wisata di Ranah Minang penuh dengan para perantau yang menjadi wisatawan lokal dan memacetkan lalu lintas ke daerah-daerah wisata itu. Geliat perdagangan di ranah Minang makin terdongkrak dengan pulangnya para perantau ini. Khususnya perdagangan makanan, pakaian, souvenir dan sebagainya. Pemerintah Daerah berhasil memanfaatkan potensi-potensi ekonomi dari para perantau Minang.
Fadly Rahman
Jakarta, 30 September 2009
GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
Jakarta (15/8). Great Jakarta MUP (MUP) berhasil menjuarai kejuaraan tenis Meja untuk wilayah Cawang Plant. Pada final tenis meja MUP berhasil mengalahkan tim Marketing yang merupakan gabungan marketing, Project Sales, SO dan Marcom. MUP berhasil mengalahkan Marketing 3 set langsung tanpa balas. Akhirnya MUP berhasil mempertahankan Piala tenis Meja yang sudah disandangnya sejak tahun yang lalu.
Sementara itu di final kejuaraan Bulu tangkis, MUP gagal meraih juara. MUP dikalahkan tim DKM yang berhasil mengalahkan MUP 2-1. Difinal ini, kedua tim sama-sama ngotot untuk menjadi yang terbaik. Juara tahun lalu tim Finance tidak berhasil mempertahankan juaranya setelah tidak lolos ke final yang hasil akhir, mereka hanya meraih tampat ke empat.
Walau gagal menjadi juara, MUP berhasil memperbaiki posisinya. Tahun lalu MUP tidak lolos penyisihan. Tahun ini merupakan hasil yang terbaik MUP dapatkan dan dapat dikatakan bahwa MUP merupakan tim yang paling sukses dengan meraih Juara I tenis meja dan Runner Up Bulutangkis.
Pada kejuaraan tarik tambang yang dikhususkan untuk karyawati kelompok Panasonic Gobel Cawang Plant. Kegembiraan di kantor Great Jakarta terasa lengkap, saat tim tarik tambang yang tergabung dalam Great Jakarta Office menjadi juara pertama(FR).
Jakarta, 18 Agustus 2009
MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
Menunggu teman datang
di Masjid yang depannya kuburan
Saat ku dengar berita mencengang
Jiwa mu telah terbang melayang
Menunggu teman datang
yang tak mungkin datang
walau sampai petang menjelang
Jakarta, 13 Agustus 2009
DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
Jayadi dan Dewi memutuskan untuk pulang ke Indonesia segera hari ini. Baru dua hari mereka di singapura. Dewi disarankan untuk tidak keluar dari Grand Park City Hotel tempat Ia menginap. Sedangkan Jayadi yang menginap di Ibis Hotel yang tidak begitu jauh dari hotel Dewi menginap. Jam 12 siang waktu singapura, Jayadi kembali dari urusan kantornya dan menyelesaikannya dengan segera. Langsung menuju Grand Park City Hotel. Sebelum kesana, Jayadi menghubungi Dewi terlebih dahulu untuk segera berkemas-kemas. Jayadi kuatir kalau penjahat-penjadi semalam akan kembali datang menyantroni mereka dengan membawa komplotan yang lebih banyak. Taksi yang membawanya berhenti didepan hotel. Jayadi turun menemui Dewi yang sedang menunggu di Lobby Hotel.
”Dewi, kamu sudah siap?” tanya Jayadi menghampiri Dewi yang berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Jayadi.
”Sudah bang! Aku sudah siap!” jawabnya dengan wajah yang terlihat kuatir
”Sudah kamu kembalikan kunci kamarmu?” tanyanya lagi
”Sudah semuanya, Aku sudah siap berangkat”
”Oke, ayo kita berangkat!” Jayadi menarik tangan Dewi untuk mengikutinya. Dia masih kuatir apabila perampok tadi malam masih mengikuti mereka. Ternyata benar dugaan Jayadi, saat mereka keluar dari Hotel, terlihat segerombolan orang berada di sekitar hotel. Mereka berada dibeberapa sudut. Diantaranya ada dua orang yang semalam Jayadi hajar. Terlihat darah yang sudah mengering di bibir dan wajah mereka. Jayadi menarik tangan Dewi dan kembali masuk ke dalam hotel.
”Gimana nih! Aku takut sekali bang!”Kecemasan kembali terlihat di wajah Dewi.
”Tenang wi, pasti ada jalan keluarnya” Jayadi berusaha menenangnya dewi. Kemudian dia pun mendekat ke Doorman.
”Can you help us, please?” tanya Jayadi
”yes sir!, can I help you?” jawab Doorman dengan ramah.
“Can you get taxi for us? And please, open it door” Jayadi meminta doorman untuk mencari taksi dan menyuruhnya untuk membukakan pintu taksi, tidak lupa Jayadi memberikan tips S$10. Saat taksi terparkir di depan hotel dan pintu taksi terbuka, secepatnya mereka berlari dan masuk kedalam taksi. Gerombolan penjahat yang memantau, terkejut buruannya beraksi. Dengan sigap mereka mengejar ke arah taksi.
”Go…go…go…Harry Up!” Teriak Jayadi dan Dewi bersamaan. Belum hilang keterkejutannya, supir taksi menancapkan gasnya. Pengejar hanya bisa sumpah sarapah.
======================
Supir taksi dari etnis India itu bercerita kalau Jayadi dan Dewi adalah turis kedua yang dirampok, beberapa bulan lalu Ia membawa turis dari Hongkong juga mengalami hal sama. ”Tidak semuanya orang Singapura sejahtera. Apalagi banyak pendatang dari Cina daratan dan Philipina yang mencari kerja disini tapi kebanyakan tidak mendapat perkerjaan akhirnya mereka menjadi Perampok” ceritanya dalam bahasa melayu setelah mengetahui kalau kami dari Indonesia. ”Kebanyakan orang Indonesia sebagai pembantu disini. Saya dengar di Malaysia, orang Indonesia ada yang jadi Perampok”.
Taksi meluncur dengan kecepatan sedang menuju Bandara Internasional Changi. Panjang supir taksi itu bercerita tentang Singapura.
”Brakkkk…….” tiba-tiba sudah ada dua mobil yang menyerempet taksi disisi kiri dan kanan. Ternyata gerombolan perampok mengejar taksi mereka. Kejar-kejaran berlangsung dijalan tol. Dua mobil polisi mulai bergabung dengan mereka. Melihat polisi ikut campur, dua mobil gerombolan menancapkan gasnya dan melarikan diri. Mobil polisi mengejar mobil gerombolan. Taksi mulai menormalkan jalannya dan tidak lama kemudian sampai di suatu tempat, sepertinya bukan bandara Changi.
”Sir, sebaiknya awak berdua menyebrang kemalaysia lewat perbatasan ini” Supir taksi menyarankan segera menyebrang ke Johor Bharu, Malaysia.
”Lalu naik kendaraan apa ke sana?” tanya Jayadi
”Awak bisa naik bis atau kapal penyebrangan, tak perlu kuatir ada banyak kendaraan” Supir taksi menyarankan jangan lewat bandara Changi, masih ada kekuatiran apabila penjahat-penjahat itu lolos, mereka tetap mengejar sampai ke Changi.
Apa boleh buat, saran supir taksi mereka ikuti. Proses di imigrasi Singapura agak sedikit rumit tapi berjalan lancar. Satu masalah yang belum mereka pikirkan, menggunakan apa menyebrang ke Malaysia walaupun sudah ada Jembatan penyebrangan tapi nggak mungkin mereka berjalan kaki kesana. Memang banyak bis disini tapi semuanya bis pariwisata untuk turis kalau naik kapal penyebrangan butuh waktu lagi. Mau tidak mau mereka harus menumpang di bis pariwisata.
”Pak cik! Bus ini mau kemana?” tanya Jayadi kepada Supir Bus yang sedang menunggu.
”Ke kuala Lumpur! Ini Bus Turis bukan Bus penumpang!” belum Jayadi bertanya supir bus itu sudah menjawabnya seperti mengetahui apa yang akan ditanyakannya.
”Boleh kah kami ikut serta? Hanya sampai imgirasi Johor Bahru saja.
”Tunggu sesaat, saya tanyakan dahulu ke Turis Guide?” Supir Melayu itu kemudian berjalan ke arah Turist Guide yang sedang menunggu turis-turis bule yang sedang melewati pemeriksaan Imigrasi. Beberapa sat kemudian datang menemui Jayadi dan Dewi.
”Boleh tapi hanya sampai imigrasi Tanjung Kupang”
”Tidak apa-apa, terima kasih banyak” jawab Jayadi dan Dewi bersamaan. Mereka pun menyalami supir bis itu dan pak Zul nama supir bis itu menyuruh mereka masuk dan duduk di dekat supir saja. Satu persatu turis bule masuk kedalam bis. Banyak diantara mereka yang melihat ke arah mereka berdua. Bis mulai berjalan menuju Malaysia, masih ada turis bule yang mempertanyakan keberadaan Jayadi dan Dewi. Bule-bule mengkhawatirkan kalau ada teroris didalam bis mereka. Akhirnya pak Zul dan Tourist Guide memutuskan, menurunkan Jayadi dan Dewi di ujung jalan jembatan. Mereka beruntungnya karena mereka turun sudah berada di tanah Malaya dan hanya berjalan kaki beberapa meter saja untuk sampai dikantor imigrasi Malaysia Tanjung Kupang Johor Bahru.
========================
Tidak begitu banyak kesulitan saat pemeriksaan di Imigrasi Tanjung Kupang. Mereka berdua tidak perlu tergesa-gesa tidak begitu banyak orang yang antri untuk masuk ke Malaysia. Tujuan selanjutnya mereka berencana ke kuala lumpur. Kesulitan kendaraan kembali melanda. Mereka harus segera ke Bandara International kuala lumpur. Teman-teman dewi sudah dihubungi disana. Dewi sudah menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Jayadi kepada teman-temannya melalu telepon selulernya. Teman-teman Dewi sangat mengkhawatikan keadaan ini. Tidak ada bis antar kota disini atau kereta api. Ada taksi, tapi mereka tidak mempunyai uang cukup untuk sampai ke Kuala lumpur. Ada jalan lain yang mau tidak mau harus mereka lakukan. Mereka akan mencoba menumpang truk yang baru selesai mengirimkan barang ke Singapore.
”Pak cik, boleh kami menumpang truk ini?” Jayadi mencoba merayu salah seorang sopir truk yang sedang beristirahat di bawah pohon yang sekali-sekali menghisap rokoknya.
”Hendak kemana?” sopir truk bertanya balik
”Mau ke Kuala Lumpur!” jawab Jayadi sambil duduk disebelahnya.
”Boleh saja menumpang tapi truk ini tak sampai ke Kuala Lumpur!” jawabnya menjelaskan
”Hanya sampai Sungai Buleh, Selangor!, dari sana bisa melanjutkan dengan bis ke Kuala Lumpur” jelasnya lagi.
”Tidak masalah, terima kasih sekali sudah boleh menumpang” kata Jayadi
Tidak begitu lama mereka duduk-duduk dibawah pohon rindang di komplek imigrasi Tanjung Kupang. Tidak beberapa lama assisten supir atau kernet truk yang ditunggu sudah kembali dari Toilet yang kalau di Malaysia toilet dinamakan Tandas. Jayadi dan Dewi menumpang diatas bak terbuka truk. Tidak ada tempat yang cukup untuk mereka berdua di depan dekat supir yang hanya cukup untuk tiga orang saja. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan juga membosankan, tidak ada yang bisa dilihat sekeliling. Mereka hanya bisa merasakan matahari dengan sinarnya yang menyengat dan melihat langit dengan awan berbaris yang terbawa arahnya angin.
==================
”Bangkit, pak! Kita sudah tiba!” tiba-tiba ada yang mengguncang-guncangkan tubuh Jayadi. Telah berdiri kenek truk telah berada didepannya berdiri tersenyum memperhatikan Jayadi yang belum terlalu sadar dari tidurnya.
”Ada dimana kita sekarang?” tanya Jayadi sambil memperbaiki duduknya
”Dewi….bangun, kita sudah sampai!” Jaadi membangunkan Dewi yang masih tertidur dipinggir badan bak truk. Dewi terbangun dan agak terkejut melihat Jayadi dan Kenek truk yang sedang memperhatikannya.
”Kita sudah tiba di Sungai Buleh, kita rehat (istirahat) sekejap dipemberhentian.” Lalu mereka turun dari truk dan mengeluarkan tas bawaan mereka. Rasanya kurang cocok mereka membawa koper menumpang dengan truk. Karena dalam keadaan terpaksa, merekapun harus melakukannya.
”Awak berdua bisa lanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan Bis, disini banyak bis. Biasanya mereka rehat disini!” Supir truk memberi petunjuk kepada Jayadi dan Dewi, apa yang harus melakukan untuk sampai ke Kuala Lumpur. Jayadi dan Dewi berterima kasih atas tumpangannya. Dia baru mengetahui kalau nama supir tersebut bernama Rasyid asli orang Malaysia dan keneknya bernama Edi yang berasal dari Indonesia.
Tanpa disadari Jayadi dan Dewi, ada polisi patroli Malaysia yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Beberapa saat kemudian, sudah datang satu mobil sedan polisi lagi bergabung dengan polisi yang tadi mengawasi gerak gerik mereka.
”wi, barang-barang kita bawa terlalu menyulitkan kita bergerak” Jayadi mulai menggerutu
”jadi bagaimana, didalam koperku banyak perlengkapan-perlengkapan penting yang tidak mungkin ku buang” ujar Dewi. Lalu Jayadi membuka kopernya dan memasukkan sepotong pakaian kedalam tas ranselnya.
”Wi, barang-barang yang lain kita tinggal saja”
”ahhh…aku nggak mau ah!
”cobalah mengerti sedikit, kita masih harus ke Kuala lumpur. repot membawa barangmu yang banyak ini” mereka berdua memperhatikan koper yang ditangan Dewi yang memang lebih besar dari koper Jayadi.
”oke, kalau itu maumu” ujar Dewi kesal
”begitu dong sayang”
Lalu Dewi mengambil barang-barang yang mau dibawanya. Banyak juga yang mau dibawanya sehingga memerlukan koper Jayadi yang kecil. ”Lebih baik membawa koper kecilku ini, ketimbang koper besar milik Dewi” pikir Jayadi. Kemudian Jayadi menitipkan koper besar milik Dewi yang didalamnya terdapat pelengkapan miliknya dan Dewi yang mereka tinggalkan ke sebuah kedai makan disekitar situ. Lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu dan menjauh. Sementara polisi-polisi yang dari tadi mengawasi mereka mulai bergerak menuju kedai makan tersebut. Sampai disana mereka bertanya-tanya tentang koper itu. Lalu tiga polisi pun mulai berlari kearah Jaadi dan Dewi dan yang satu menjaga koper.
”Stop, Polis!” Teriak polisi. Teriakan polisi-polisi itu mengagerkan orang-orang sekitarnya, juga Jayadi dan Dewi. Melihat Polisi-polisi menuju kearah mereka sambil mencoba mengambil pistol yang ada disamping pinggang membuat Jayadi kuatir.
”Lari…..lari” Jayadi menarik tangan Dewi yang menarik kopernya dengan susah payah.
”Kalau mau selamat, lepaskan kopermu!” teriak Jayadi, Dewi langsung melepaskan kopernya. Mereka berlari sekencang-kencangnya. Tidak tahu arah tujuan. Mereka berlari melewati hutan-hutan pohon karet yang dikelilingi banyak belukar. Tidak terlihat ada jalan setapak. Mereka melewati sungai kecil. Mereka terus berlari dan tiba-tiba.
”berhenti…..!” teriakan seorang pria berdiri hanya berjarak 10 meter dihadapan Jayadi dan Dewi. Sambil berkacak pinggang dan tangan kanannya memegang sebuah parang. Satu persatu beberapa pria muncul dibalik semak belukar.
”Siapa kalian berdua?”tanyanya kepada Jayadi dan Dewi. Dari logat bicaranya, sepertinya dia bukan orang asli Malaysia dan mungkin dia adalah pemimpin pria-pria itu.
”Kami orang Indonesia! Kami turis!” Jawab Jayadi sambil memegang tangan Dewi yang bersembunyi dibalik pundaknya.
”Tunjukkan pasport kalian!” Pria yang memegang parang mulai mendekat. Dengan penasaran mulai memenuhi hasrat keinginantahuannya terhadap tamunya yang tidak diundang. Jayadi merogoh tasnya dan mengeluarkan pasportnya dan menunjukkan kepada pria tersebut.
”Ha…ha…ha, mereka saudara kita!” teriaknya sambil mengacung parangnya dan menunjukkan pasport jayadi kepada pria-pria yang lain.
”Selamat datang saudaraku….dikampung kami yang baru” satu persatu menyalami Jayadi dan Dewi.
”Ayo….mari ke gubuk kami” Pria-pria itu mengajak Jayadi dan Dewi. Dan ada perasaan lega dihati mereka setelah mengetahui bahwa pria-pria tersebut berasal dari Indonesia.
===================
Mereka berkumpul mengeliligi perapian. Ternyata cukup banyak juga orang-orang di hutan ini. Ada juga wanita dan juga anak-anak. Jayadi dan Dewi tidak menyangka ternyata didalam hutan ini ada suatu komunitas imigran dari Indonesia. Perkampungan yang mereka buat seperti perkampungan suku anak dalam di perdalaman Jambi. Rumah-rumah panggung sederhana yang hanya diikat dengan tali pisang dan beringin cukup kokoh bertahan.
Cukup lama mereka mengobrol tadi malam. Masing-masing orang bercerita tentang kampung kelahirannya. Mengenang masa kecil yang indah bersama teman-teman sepermainan. Kenangan yang terasa indah dikenang. Masa kecil memang sangat membahagiakan tapi setelah mereka dewasa, ada yang harus mereka wajib memikirkan. Ya! Mereka harus mencari penghidupan yang layak dan penghasilan yang cukup untuk diri mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka ke Malaysia dengan nasib yang sama, tidak punya pekerjaan. Mereka bekerja apa saja disini tapi sayang mereka datang dengan cara tidak syah. Setiap saat lari kehutan untuk menghindari penertiban polis diraja dan rela, sukarelawan warga Malaysia yang selalu melakukan razia. Sehingga mereka membuat perkampungan sendiri serta tempat persembunyian.
”Bangun…bangun, ada razia!” teriakan orang-orang diluar sangat kerasnya sehingga orang-orang yang tertidur lelap. Jayadi yang tertidur karena kelelahan terbangun, dilihatnya Dewi sudah bangun duluan dan melompat keluar rumah panggung. Pemilik gubuk juga sudah tidak ada didalam gubuknya.
”Ayo bang!” Dewi berteriak sambil mengambil tasnya yang terjatuh. Jayadi melompat keluar dan mereka berlari kearah orang-orang berlari. Dikejauhan terdengar gonggongan anjing dan suara pluit peringatan. Terlihat juga dari kejauahan lampu-lampu senter bergerak kesana kemari menerangi kegelapan malam yang menandakan bahwa bahaya datang mendekati para imigran.
Naas bagi mereka semua, ternyata hutan sudah dijaga dengan ketat. Sekeliling hutan sudah terkepung diberbagai penjuru. Kali ini mereka tidak bisa lolos. Satu persatu tertangkap. Rotan dan pentungan melayang ditubuh mereka. Wanita-wanita berteriak-teriak menangis histeris dan anak-anak menangis ketakutan. Jayadi dan Dewi pun mengalami nasib yang sama. Mereka berdua yang semula orang yang mempunyai pekerjaan terhormat, kali ini nasib mereka sama dengan para imigran-imigran Indonesia yang lain. Mereka dipentungi dan disakiti sebagai pendatang haram. Perjalanan mereka berakhir bersama saudara-saudara sebangsanya.
Jakarta , Juni 2009
BERTEMU PRESIDEN
BERTEMU PRESIDEN
Seingatku waktu duduk dikelas 5 SD negeri 15 Langsa Aceh timur. Ada peristiwa bersejarah untuk kota kecil ini. Pemimpin bangsa Indonesia presiden Soeharto datang ke kota langsa yang bertujuan untuk meresmikan pembangkit listrik tenaga nukir (PLTN). Aku yang masih duduk disekolah dasar tentu saja senang apalagi yang datang bukan orang sembarangan. Presiden yang selalu muncul di pelajaran sejarah dan gambarnya tergantung di dinding kelas. SD tempat ku belajar tidak mempunyai acara khusus menyambut kedatangan presiden, saat itu aku nggak mengetahui alasannnya tapi sekarang aku mengerti bahwa presiden tidak melewati jalan didepan sekolahku.
Dengan tekad yang bulat, akupun berencana untuk melihat kedatangan beliau dan ingin melihatnya secara langsung. Apalagi kota ku ini kota kecil jarang ada orang-orang besar dan terkenal yang mau datang kemari. Aku lupa hari itu hari apa, yang jelas saat itu sekolahku memang libur. Jarak rumahku ke kota cukup jauh. Kebetulan kantor PLN yang berada di kota dekat kantor pos. Aku pun diantar sampai ke depan PLN oleh tetanggaku yang sehari-harinya ditugasi untuk mengantarku kesekolah. Sampai disana, tidak ada terlihat tanda-tanda penyambutan presiden seperti yang kulihat di TVRI setiap hari. Aku pun bertanya dengan seorang bapak, dan aku disarankan ke Stadion sepak bola yang berada dipinggir kota Langsa. Kuatir terlewat peristiwa penting ini, aku pun memutuskan berjalan kaki apabila tiba-tiba presiden lewat tapi aku berada didalam angkutan kota.
Perjalanan dimulai dengan berharap memang ada presiden lewat tapi nggak ada tanda-tanda akan terjadi dan akhirnya aku sampai juga distadion sepakbola Langsa. Disekitar stadion sudah banyak tentara dan polisi berjaga-jaga, ada juga banyak masyarakat yang antusias menambut presiden mereka dan juga anak-anak sekolah dari SD, SMP dan SMA yang telah berbaris rapi sambil sekali-sekali mengibarkan bendera kecil yang ada ditangan mereka.
Setelah cukup lama menunggu, tedengar suara helikopter di angkasa. Helikopter rombongan presiden Soeharto telah tiba. Peristiwa penting untuk melihat presiden pun akan aku alami. Beberapa saat kemudian, keluar iringan-ringan kendaraan mobil presiden. Sorai-sorai gembira menyambut kedatangan pemimpinnya. Ternyata rombongan melaju dengan cukup kencang tidak memperdulikan sambutan rakyat yang sudah lama ingin menatap langsung presidennya. Tiada kaca mobil yang terbuka, untuk melihat sedikit senyuman sang presiden.
Kira-kira 19 tahun kemudian, peristiwa bersejarah kesempatan bertemu presiden kembali didapat. Kali ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat peristiwa itu terjadi, aku sudah bekerja di PT. Panasonic Gobel Indonesia (PT. PGI) sebagai Sales representatif (Salesman). Kedatangan Presiden untuk memperingati hari buruh yang dikenal dengan nama May Day yang jatuh tanggal 1 Mei. Buruh-buruh yang tergabung diberbagai serikat buruh saat itu datang ke depan istana negara untuk berunjuk rasa tapi presiden dengan keiklhasan hatinya bergambung dengan buruh-buruh panasonic gobel group di Gandaria tepatnya di komplek PT. Panasonic Manufacture Indonesia (PT. PMI) yang diprakarsai oleh Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPMI) pimpinan unit kerja Panasonic Gobel pada hari jum’at tanggal 1 mei 2009. Sebelum hari H nya di malam hari, ada pemberitahuan lewat pesan singkat Handphone bahwa semua salesman dan kepala penjualan cabang Great Jakarta MUP wajib datang ke Gandaria untuk menyambut Presiden dengan memakai baju batik tanpa kecuali.
Ada perasaan bangga menggelayut dalam diri Salesman bahwa mereka akan bertemu Presiden secara langsung dan sebagai pekerja dihargai dalam menyambut hari buruh. Peraturan memakai baju batik dari Senin ~ Kamis, yang kebetulan baju yang disediakan untuk peraturan itu hanya cukup untuk 4 hari saja. Mau tidak mau, baju batik harus dicuci malamnya dan dikeringkan pada malam itu juga.
Keesokan harinya, semua salesman dan kepala penjualan datang lengkap. Disana sudah banyak berkumpul karyawan-karyawan PT. PMI yang sebenarnya libur dihari buruh. Sebenarnya peringatan hari buruh untuk seluruh karyawan panasonic gobel group di laksanakan hari sabtu besoknya. Mereka juga di sarankan untuk datang pada hari itu. Beberapa saat kemudian, mereka sudah berbaris rapi disekitar jalan menuju tempat pertemuan di Aula Yayasan Matshushita Gobel (YMG). Salesman dan Kepala penjualan yang berkumpul didekat kantor SPMI puk Panasonic Gobel diperintahkan untuk berkumpul di aula YMG. Ternyata salah infomasi, salesman dan kepala penjualan berkumpul di depan seberang Aula YMG atau aula tehnik yang biasa dipergunakan untuk kegiatan praktek tehnik electronik. Berdiri bersejajar dengan karyawan yang lain dan diberikan bendera untuk dikibarkan saat presiden dan para pejabat lainnya datang.
Bermula dari kedatangan Gubernur DKI Jakarta Fauzie Bowo dan Pangdam Jaya, setelah cukup lama menunggu, akhirnya Presiden SBY dan rombongan datang jua. Diiringi mobil patroli dan motor gede polisi dan pengawal presiden. Presiden melewati karyawan Panasonic Gobel Group yang sedang melambaikan bendera. Tapi kali ini kesampaian juga hasrat melihat Presiden RI secara langsung walau hanya lewat lambaian tangan dan senyuman dibalik mobil kepresidenan yang melaju menuju Aula YMG.
Jakarta, 10 Mei 2009
Fadly Rahman
RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
Dengan tema semangat kebersamaan memperkuat pengembangan usaha koperasi, rapat anggota tahunan (RAT) tahun buku 2008 koperasi karyawan (Kopkar) kelompok Gobel yang dilaksanakan pada tanggal 25 April 2009 di Auditorium Yayasan Matsushita Gobel (YMG). Dengan dihadiri anggota Kopkar sebanyak 89 orang dari 109 anggota yang diundang, RAT dimulai dengan pembacaan 7 prinsip perusahaan. Kemudian dilanjutkan dengan pidato sambutan ketua Kopkar bapak H. Djoko Sulomo. RAT Kopkar kelompok Gobel dibuka secara resmi oleh ketua Dekopinda Jakarta Timur Letkol ADM H. A Fhatoni SE.MM yang sebelum memukul gong pembukaan RAT menceritakan pengalaman dan keberhasilannya memajukan koperasi dan memberikan beberapa nasehat dan saran untuk perkembangan Kopkar kelompok Gobel dimasa yang akan datang.
Kemudian Rapat dilanjutkan dengan memilih pimpinan sidang pleno dan yang terpilih sebagai ketua sidang adalah pak Arifin Tanjung dan Pupun sebagai sekretaris. Setelah pengesahan tata tertib Sidang dibacakan, rapat dilanjutkan dengan laporan pertanggung jawaban pengurus Kopkar tahun buku 2008. Laporan pertanggung jawaban ini diisi dengan Laporan bidang keuangan yang disampaikan oleh Bapak H. Marsiton Achmad. Laporan keuangan ini diterima dengan baik oleh anggota yang hadir tanpa ada banyak pertanyaan. Acara ini ditutup dengan laporan pertanggung jawaban pengawas Koperasi oleh Ibu Dra. Hj. Herni Nawir.
Ada beberapa hal yang disorot dalam RAT kali ini, diantaranya adalah Regenerasi pengurus Kopkar kelompok Gobel, perampingan pengurus baru Kopkar yang akan datang dan penurunan jumlah anggota Kopkar yang di tahun 2007 berjumlah 5.454 menjadi 3.733 ditahun 2008. Untuk meningkatkan kinerja Kopkar, saran-saran tidak hanya datang dari pak Fhatoni, datang juga dari bapak Heru Santosa yang memberikan pembekalan manajemen. Pengarahan juga diberikan oleh bapak Drs. H. Thamrin Mosii sebagai anggota dewa pembina dan penasehat Kopkar. Nasehat-nasehat yang diberikan ketiga tokoh ini hampir sama yakni Kopkar harus lebih berani berinovasi dalam mengembangkan bisnisnya, tidak hanya ”menunggu bola” menunggu para karyawan berbelanja dan menambungkan dananya di Kopkar tapi harus ”menjemput Bola” dengan mencari peluang bisnis baru baik itu didalam lingkungan perusahaan Kelompok Gobel maupun diluar lingkungan. Usulan-usulan tersebut menjadi bahasan di sidang komisi-komisi dan dituangkan dalam laporan hasil sidang dimasing-masing komisi.
Pelantikan pengurus baru periode tahun 2009 ~ 2012 diumumkan setelah diadakan sidang formatur pemilihan anggota pengurus dan pengawas koperasi. Tidak banyak berubah dari hasil sidang ini. Pengurus lama dipertahankan dan anggota pengawas koperasi bertambah 4 orang sehingga hal yang disorot dan berkembang mengenai perampingan dan kaderisasi pengurus belum bisa dilaksanakan pada periode ini.
Fadly Rahman
PT, PGI
Jakarta, 26 April 2009
PEMILU YANG ANEH!?
PEMILU YANG ANEH!?
Pemilihan umum (Pemilu) yang dilaksanakan tanggal 9 April 2009 telah berlalu. Pemilu kali ini memenangkan Partai Demokrat dengan perolehan suara tertinggi mengalahkan partai Golkar yang merupakan Pemenang Pemilu 2004. Pemilihan kali ini banyak kekurangannya bahkan mantan ketua MK Jimly Asshiddiqie menyatakan Pemilu 2009 merupakan Pemilu terburuk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Jimly merasa prihatin dengan permasalahan daftar pemilih tetap (DPT) dan dia mengharapkan DPT segera diperbaiki untuk pemilihan Presiden yang akan dilaksanakan bulan Juli nanti.
Apa yang dikatakan Jimly memang terjadi lapangan. Banyak pemilih yang tidak terdaftar di TPS yang mereka telah bertempat tinggal lama dilingkungan tersebut. Ada juga yang tidak bisa mencontreng disebabkan namanya tidak ada sama sekali terdaftar. Lebih aneh lagi, ada orang yang sudah meninggal terdaftar sebagai pemilih. Ada juga warga yang mengaku terdaftar dalam pemilihan sementara (DPS) tapi nama mereka tidak terdaftar dalam DPT.
Masalah tidak terdaftar sebagai pemilih ditempat tinggalnya yang baru, tidak hanya terjadi pada masyarakat kebanyakan saja, ternyata terjadi juga pada seorang penjabat tinggi didaerah. Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Bibit Waluyo tidak terdaftar sebagai pemilih di TPS tempat tinggalnya sekarang tapi ada di TPS di tempat tinggalnya yang lama.
Ada masalah lainnya yakni tidak adanya TPS khusus atau TPS keliling yang biasanya digunakan di setiap rumah sakit. Biasanya TPS ini digunakan untuk menampung suara-suara bagi pekerja-pekerja rumah sakit, pasien dan keluarga pasien yang tidak sempat memilih di TPS yang nama mereka terdaftar.
Kasus menarik lainnya berupa terlambatnya surat-surat suara di beberapa tempat seperti yang terjadi di wamena Papua. Pemilih yang sudah menunggu dari pagi akhirnya pulang. Begitu juga kasus lainnya, salah kirimnya surat suara ke Tangerang Banten, surat suara yang diterima adalah surat suara diperuntukkan pemilih di Kalimantan Barat. Salah kirim juga terjadi di JaTeng, surat suara untuk Sumatera Utara (Sumut) dikirim ke Banyumas dan terlanjur di Contreng, Panda Nababan Caleg PDIP Sumut 1 mendapatkan suara terbanyak.
Dengan masalah tersebut, diperkirakan angka golongan putih (Golput) sangat tinggi tahun ini. Perkiraan beberapa pengamat sekitar 30% ~ 40% yang merupakan persentase yang mencengangkan. Berbagai pertanyaan akan timbul. Siapakah yang akan menanggung dosa, karena banyak pemilih yang tidak bisa memilih (antusias akan memilih) khususnya tidak bisa memilih disebabkan DPT yang berantakan? Seperti di tetapkan MUI bahwa ”Golput adalah Haram”. Munafikkah Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan iklan yang digembor-gemborkan bahwa ”Satu suara adalah berharga”?. Kalau masalah DPT ini tidak diselesaikan saat Pilpres nanti, pantaskan pemerintah saat ini dinyatakan sebagai pemerintah yang berhasil melaksanakan Pemilu?.(FR)
Fadly Rahman
Jakarta, 10 April 2009
Sumber Tulisan dari Berbagai Sumber
-
Terkini
- BURUH DALAM ISLAM
- BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
- GEMPA MELANDA RANAH MINANG
- RANAH MINANG YANG RAMAI
- GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
- MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
- DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
- BERTEMU PRESIDEN
- RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
- PEMILU YANG ANEH!?
- PERGERAKAN BURUH DI INDONESIA II
- BIKE TO LOVE
-
Tautan
-
Arsip
- November 2009 (2)
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
