Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

KUNTOWIJOYO

KUNTOWIJOYO

Kuntowijoyo yang lahir di Sanden, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 18 September 1943. Pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Rakyat (SR) Negeri di Kalten (1956), Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Klaten (1959) dan Sekolah Menegah Atas (SMA) Negeri di Klaten (1962). Melanjutkan ke perguruan tinggi negei di Universitas Gajah Mada (UGM) Fakultas Sastra (1969). Lalu melanjutkan ke pascasarjana di University of Connecticut, Amerika Serikat (1974) dan meraih gelas Doktor Ilmu Sejarah dari University of Columbia, Amerika Serikat (1980).

Masa SR dan SMP sudah tertarik dengan dunia bacaan dan sastra. Pada masa SMP, Kuntowijoo tinggal dengan adik kakeknya (mbah cilik) di Solo. Mbah ciliknya mempunyai sebuah lemari ang menimpan banyak buku sastra dan ensiklopedi. Dan pada  masa SMA, sudah membaca karya-karya Charles Dickens dan anton Chekov. Pada masa usia SMP dan SMA, memulai menulis cerita dan sinopsis dengan tulisan tangan.

Bakat menulisnya semakin terlihat saat kuliah di UGM. Bersama dengan teman-temannya mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi). Sebuah naskah dramanya yang berjudul ”Sebuah Jembatan telah diBangun” dipanggungkan oleh Leksi pada tahun 1965. tapi drama panggung itu dihentikan. Kuntowijoyo juga mendirikan Studi Grup Mantika bersama Dawan Rahadjo, Sju’bah Asa, Chairul Umam, Ikranagara, Arifin C Noer, Abdul Hadi W.M, dan Amri Yahya. Kuntowijoyo menikah pada tanggal 8 November 1969 dengan seorang gadis yang bernama Susilaningsih  yang dikarunia dua orang anak yakni Punang Amaripuja dan Alun Paradipta.

Karir  dan Organisasi yang dijalaninya yakni sebagai asisten dosen dan dosen  fakutas sastra UGM (1965-2005), Sekretaris Lembaga Seni dan Kebudayaan Islam (1963-1969), Ketua Studi Grup Mantika (1969-1971), Pendiri Pondok Pesantren Budi Mulia (1980), Pendiri Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta (1980).

Karya-karyanya yang telah dibukukan diantaranya adalah Suluk Uwong-Uwong (1975), Khotbah di Atas Bukit (1976), Isyarat (1976), Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (1985), Radikalisme Petani (1993), Metodologi Sejarah (1994), Demokrasi dan Budaya (1994), Kumpulan Puisi Daun Makrifat Daun (1995), Pengantar Ilmu Sejarah (1995), Intelektualisme Muhammadiyah : Menyongsong Era baru, Identitas Politik Umat Islam, Esai-Esai Budaya dan Politik (2002).

Penghargaan yang diterimanya sebagai seorang sejarawan, Budayawan,  dan sastrawan. Cerpen yang berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968) meraih penghargaan pertama dari majalah sastra. Pada tahun yang sama Naskah Dramanya ”Rumput-Rumput Danau Bento” (1968) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Novel yang berjudul “Pasar” meraih Hadiah Panitia Hari Buku (1972). Kembali naskah drama “Topeng Kayu” mendapatkan penghargaan dari dewan kesenian Jakarta (1973).  “Cerpennya yang berjudul “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”, merupakan cerpen terbaik versi Harian Kompas (1995, 1996 dan 1997). Penghargaan Kebudayaan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (1995), Satyalencana Kebudayaan Republik Indonesia (1997), ASEAN Award on Culture and Information (1997), Mizan Award (1998), Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dan Menristek (1999), FEA Right Awars, Thailand (1999). Novel ”Mantra Pejinak Ular’ (2001) mendapatkan hasiah sastra dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera).

Pada tanggal 6 Januari 1992, penyakit Meningo Encephalitis menyebabkan Kontowijoyo harus istirahat dari segala kegiatannya. Pada tahun 1993 kesehatan Kuntowijoyo mulai membaik. Kuntowijoyo kembali berkarya dan banyak tulisan cerpen yang dihasilkannya. Namun pada tanggal 22 Februari 2005, Kuntowijoyo menyerah dan meninggal dunia.

Sumber :

Kaki Langit, Kuntowijoyo, Horison, tahun 2008, Hal 10-11

http://id.wikipedia.org

Januari 16, 2012 Posted by | Sejarah dan Arkeologis | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.