Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

ALI AKBAR NAVIS

ALI AKBAR NAVIS

Ali Akbar Navis lebih dikenal dengan nama AA Navis kelahiran kampung jawa Padang Panjang Minangkabau tanggal 17 November 1924. Pendidikan ditempuhnya di INS Kayutanam di tahun 1932 dan menyelesaikannya ditahun 1945. Sekolah sambil bekerja dijalani sejak tahun 1944. AA Navis menjadi pegawai pabrik porselin di Padang panjang sampai tahun 1949. lalu ditahun 1955 dipercaya menjabat sebagai Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi sumatera Barat di Bukit Tinggi.

Mulai menulis sejak tahun 1950-1957, karya-karyanya mulai dikenal saat AA Navis mengirimkan cerpennya Robohnya Surau Kami mengikuti lomba Cerpen di majalah Kisah ditahun 1955 Cerpennya yang kontroversi menceritakan tentang seorang Alim tapi tetap masuk neraka ini memenangi juara II. Kemudian Cerpen Robohnya Surau Kami, dibukukan pada tahun 1956 dengan cerpen-cerpen lainnya dengan judul yang sama. Kumpulan cerpen itu, diterjemahkan dalam empat bahasa yakni Inggris, Jerman, Prancis dan Jepang. Saat itulah namanya mulai dikenal masyarakat luas. Pada tahun 1957 karya kontroversinya berlanjut dengan cerpen Man Rabuka yang menceritakan dua orang bersaudara berbeda sifat dan kelakuan. Salah seorang yang menjadi pemabuk dan satu lagi seorang alim tapi justru sang pemabuk masuk surga sedangkan si Alim masuk neraka.

Tahun 1964, buku kumpulan AA Navis terbit dengan judul Bianglala dan ada 5 cerpen didalamnya. Diikuti dengan buku kumpulan cerpennya Hujan Panas dan Kabut Musim yang terbit ditahun 1964. Karya yang lain Kemarau dihasilkannya ditahun 1967. Pada tahun 1969, INS Kayu Tanam mempercayakan kepadanya sebuah jabatan yakni sebagai Ketua Yayasan INS Kayu Tanam. Pada tahun 1970, AA Navis menulis karyanya yang berjudul Saraswati, sigadis dalam sunyi. Lima tahun kemudian di menulis karyanya yang berjudul Dermaga Empat Sekoci.

AA Navis

Kembali karyanya yang berjudul Jodoh diikut sertakannya dalam sayembara Kincir Emas ditahun 1975 yang diselenggarakan oleh Radio Nenderland Wereldemroep dan cerpen ini memenangkan sayembara tersebut.  Keahliannya dalam menulis membuatnya dipercaya untuk memimpin Harian Semangat di padang, jabatan yang dipegang sebagai pemimpin redaksi ditahun 1971. Jabatan ini hanya dipegangnya selama setahun saja. Sebab ditahun yang sama, AA Navis menjadi anggota DPRD Sumatera Utara mewakili Golongan Karya. Pekerjaan sebagai anggota dewan di jalaninya sampai tahun 1982. Selama menjadi anggota dewan tidak berarti kegiatan menulisnya berhenti dan berhasil menerbitkan dua buku tentang Minangkabau yang diberi judul Dialektika Minangkabau (1983) dan Alam Terkembang jadi Guru (1984).

Berbagai penghargaanpun didapatnya. Penghargaan juga diberikan berbagai instansi pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pada tahun 1988, AA Navis mendapatkan hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian mendapatkan Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang di tahun 1989 dan ditahun 1990 dilengkapi dengan penghargaan dari Gubernur Sumatera Barat berupa Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya. Tidak hanya penghargaan dari dalam negeri saja, dari luar negeri juga menerima panghargaan sastra yakni Hadia Sastra ASEAN atau SEA Write Award yang diterimanya pada tahun 1994.

Penghargaan yang didapatkan tidak membuat AA Navis berpuas diri dan berhenti dari dunia menulis. Tanda terima kasih dan kebanggaannya terhadap kampung halamannya diungkapkan AA Navis dengan menulis buku tentang kehidupan di Ranah Minang. Buku itu berisikan Cerita Rakyat Sumatera Barat yang diterbitkan ditahun 1994. Beberapa kali juga cerpennya menjadi cerpen pilihan kompas diantaranya cerpennya yang berjudul Penumpang Kelas Tiga yang menjadi cerpen pilihan Kompas 1996, Penangkan cerpen pilihan Kompas 1997.. Kekuatirannya terhadap perkembangan sastra Indonesia pernah diungkapkannnya saat diwawancarai oleh Koran Kompas pada tanggal 7 Desember 1997. Dia mengatakan bahwa yang terpenting bagi sastrawan yakni karyanya awet atau tidak?dan dia juga menkuatirkan tentang perkembangan pendidikan sastra di sekolah-sekolah dengan mengatakan bahwa dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulit itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Diperguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.

Keprihatinannya terhadap perkembangan sastra, dicurahkan dengan memberi ceramah dan tampil sebagai pemakalah diberbagai forum diskusi di dalam maupun diluar negeri yang membuat AA Navis menjadi terkenal di Malaysia, Singapura Brunei, Jepang, Philipina, Belanda dan Amerika Serikat. Pada tahun 1999, IKAPI bersama UNESCO memberikan penghargaan Anugerah Buku Utama. Berbagai buku kumpulan cerpen lainnya yang telah diterbitkan diantaranya  Bertanya Kerbau pada Pedati dan Kabut Negeri siDali. Ditahun 2002 setahun sebelum kematiannya, cerpen AA Navis untuk terakhir kali menjadi salam satu cerpen pilihan Kompas 2002 yang berjudul Mak Pekok.

Usia tua dan berbagai macam penyakit mulai mengindapi ditubuhnya. Penyakit Jantung, Asma dan Diabetes membuatnya tidak dapat menghadiri Kongres Budaya Padang di Bali yang akan diadakan pada bulan Mei 2003. Pada tanggal 20 Maret 2003 dengan bantuan anaknya, AA Navis masih sempat mengirim surat pernyataan tidak bisa hadir dalam Kongres tersebut. Pada Tanggal 22 Maret 2003 telah berpulang ke Rahmatullah seorang penulis besar Indonesia. Banyak penggemar dan teman-temannya yang kehilangan termasuk penyair Rusli Marzuki Sariah, Gubernur Sumatera barat Zainal Bakar, Mantar Meneteri agama RI Tarmizi Taher, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Syafi’i Ma’arif, dan mantan Menteri dan Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri Durin.

Fadly Rahman

Sumber : Berbagai Sumber

Oktober 2, 2011 - Posted by | Sejarah dan Arkeologis

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.