Fadlyrahman’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP

DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP

Jayadi dan Dewi memutuskan untuk pulang ke Indonesia segera hari ini. Baru dua hari mereka di singapura. Dewi disarankan untuk tidak keluar dari Grand Park City Hotel tempat Ia menginap. Sedangkan Jayadi yang menginap di Ibis Hotel yang tidak begitu jauh dari hotel Dewi menginap. Jam 12 siang waktu singapura, Jayadi kembali dari urusan kantornya dan menyelesaikannya dengan segera. Langsung menuju Grand Park City Hotel. Sebelum kesana, Jayadi menghubungi Dewi terlebih dahulu untuk segera berkemas-kemas. Jayadi kuatir kalau penjahat-penjadi semalam akan kembali datang menyantroni mereka dengan membawa komplotan yang lebih banyak. Taksi yang membawanya berhenti didepan hotel. Jayadi turun menemui Dewi yang sedang menunggu di Lobby Hotel.

”Dewi, kamu sudah siap?” tanya Jayadi menghampiri Dewi yang berdiri dari tempat duduknya saat melihat kedatangan Jayadi.

”Sudah bang! Aku sudah siap!” jawabnya dengan wajah yang terlihat kuatir

”Sudah kamu kembalikan kunci kamarmu?” tanyanya lagi

”Sudah semuanya, Aku sudah siap berangkat”

”Oke, ayo kita berangkat!” Jayadi menarik tangan Dewi untuk mengikutinya. Dia masih kuatir apabila perampok tadi malam masih mengikuti mereka. Ternyata benar dugaan Jayadi, saat mereka keluar dari Hotel, terlihat segerombolan orang berada di sekitar hotel. Mereka berada dibeberapa sudut. Diantaranya ada dua orang yang semalam Jayadi hajar. Terlihat darah yang sudah mengering di bibir dan wajah mereka. Jayadi menarik tangan Dewi dan kembali masuk ke dalam hotel.

”Gimana nih! Aku takut sekali bang!”Kecemasan kembali terlihat di wajah Dewi.

”Tenang wi, pasti ada jalan keluarnya” Jayadi berusaha menenangnya dewi. Kemudian dia pun mendekat ke Doorman.

”Can you help us, please?” tanya Jayadi

”yes sir!, can I help you?” jawab Doorman dengan ramah.

“Can you get taxi for us? And please, open it door” Jayadi meminta doorman untuk mencari taksi dan menyuruhnya untuk membukakan pintu taksi, tidak lupa Jayadi memberikan tips S$10. Saat taksi terparkir di depan hotel dan pintu taksi terbuka, secepatnya mereka berlari  dan masuk kedalam taksi. Gerombolan penjahat yang memantau, terkejut buruannya beraksi. Dengan sigap mereka mengejar ke arah taksi.

”Go…go…go…Harry Up!” Teriak Jayadi dan Dewi bersamaan. Belum hilang keterkejutannya,  supir taksi menancapkan gasnya. Pengejar hanya bisa sumpah sarapah.

======================

Supir taksi dari etnis India itu bercerita  kalau Jayadi dan Dewi adalah turis kedua yang dirampok, beberapa bulan lalu Ia membawa turis dari Hongkong juga mengalami hal sama. ”Tidak semuanya orang Singapura sejahtera. Apalagi banyak pendatang dari Cina daratan dan Philipina yang mencari kerja disini tapi kebanyakan tidak mendapat perkerjaan akhirnya mereka menjadi Perampok” ceritanya dalam bahasa melayu setelah mengetahui kalau kami dari Indonesia. ”Kebanyakan orang Indonesia sebagai pembantu disini. Saya dengar di Malaysia, orang Indonesia ada yang jadi Perampok”.

Taksi meluncur dengan kecepatan sedang menuju Bandara Internasional Changi. Panjang supir taksi itu bercerita tentang Singapura.

”Brakkkk…….” tiba-tiba sudah ada dua mobil yang menyerempet taksi disisi kiri dan kanan. Ternyata gerombolan perampok mengejar taksi mereka. Kejar-kejaran berlangsung dijalan tol. Dua mobil polisi mulai bergabung dengan mereka. Melihat polisi ikut campur, dua mobil gerombolan menancapkan gasnya dan melarikan diri. Mobil polisi mengejar mobil gerombolan. Taksi mulai menormalkan jalannya dan tidak lama kemudian sampai di suatu tempat, sepertinya bukan bandara Changi.

”Sir, sebaiknya awak berdua menyebrang kemalaysia lewat perbatasan ini” Supir taksi menyarankan segera menyebrang ke Johor Bharu, Malaysia.

”Lalu naik kendaraan apa ke sana?” tanya Jayadi

”Awak bisa naik bis atau kapal penyebrangan, tak perlu kuatir ada banyak kendaraan” Supir taksi menyarankan jangan lewat bandara Changi, masih ada kekuatiran apabila penjahat-penjahat itu lolos, mereka tetap mengejar sampai ke Changi.

Apa boleh buat, saran supir taksi mereka ikuti. Proses di imigrasi Singapura  agak sedikit rumit tapi berjalan lancar. Satu masalah yang belum mereka pikirkan, menggunakan apa menyebrang ke Malaysia walaupun sudah ada Jembatan penyebrangan tapi nggak mungkin mereka berjalan kaki kesana. Memang banyak bis disini tapi semuanya bis pariwisata untuk turis kalau naik kapal penyebrangan butuh waktu lagi. Mau tidak mau mereka harus menumpang di bis pariwisata.

”Pak cik! Bus ini mau kemana?” tanya Jayadi kepada Supir Bus yang sedang menunggu.

”Ke kuala Lumpur! Ini Bus Turis bukan Bus penumpang!” belum Jayadi bertanya supir bus itu sudah menjawabnya seperti mengetahui apa yang akan ditanyakannya.

”Boleh kah kami ikut serta? Hanya sampai imgirasi Johor Bahru saja.

”Tunggu sesaat, saya tanyakan dahulu ke Turis Guide?” Supir Melayu itu kemudian berjalan ke arah Turist Guide yang sedang menunggu turis-turis bule yang sedang melewati pemeriksaan Imigrasi. Beberapa sat kemudian datang menemui Jayadi dan Dewi.

”Boleh tapi hanya sampai imigrasi Tanjung Kupang”

”Tidak apa-apa, terima kasih banyak” jawab Jayadi  dan Dewi bersamaan. Mereka pun menyalami supir bis itu dan pak Zul nama supir bis itu menyuruh mereka masuk dan duduk di dekat supir saja. Satu persatu turis bule masuk kedalam bis. Banyak diantara mereka yang melihat ke arah mereka berdua. Bis mulai berjalan menuju Malaysia, masih ada turis bule yang mempertanyakan keberadaan Jayadi dan Dewi. Bule-bule mengkhawatirkan kalau ada teroris didalam bis mereka. Akhirnya pak Zul dan Tourist Guide memutuskan, menurunkan Jayadi dan Dewi di ujung jalan jembatan. Mereka beruntungnya karena mereka turun sudah berada di tanah Malaya dan hanya berjalan kaki beberapa meter saja untuk sampai dikantor imigrasi Malaysia Tanjung Kupang Johor Bahru.

========================

Tidak begitu banyak kesulitan saat pemeriksaan di Imigrasi Tanjung Kupang. Mereka berdua tidak perlu tergesa-gesa tidak begitu banyak orang yang antri untuk masuk ke Malaysia. Tujuan selanjutnya mereka berencana ke kuala lumpur. Kesulitan kendaraan kembali melanda. Mereka harus segera  ke Bandara International kuala lumpur. Teman-teman dewi sudah dihubungi disana. Dewi sudah menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Jayadi kepada teman-temannya melalu telepon selulernya. Teman-teman Dewi sangat mengkhawatikan keadaan ini. Tidak ada bis antar kota disini atau kereta api. Ada taksi, tapi mereka tidak mempunyai uang cukup untuk sampai ke Kuala lumpur. Ada jalan lain yang mau tidak mau harus mereka lakukan. Mereka akan mencoba menumpang truk yang baru selesai mengirimkan barang ke Singapore.

”Pak cik, boleh kami menumpang truk ini?” Jayadi mencoba merayu salah seorang sopir truk yang sedang beristirahat di bawah pohon yang sekali-sekali menghisap rokoknya.

”Hendak kemana?” sopir truk bertanya balik

”Mau ke Kuala Lumpur!” jawab Jayadi sambil duduk disebelahnya.

”Boleh saja menumpang tapi truk ini tak sampai ke Kuala Lumpur!” jawabnya menjelaskan

”Hanya sampai Sungai Buleh, Selangor!, dari sana bisa melanjutkan dengan bis ke Kuala Lumpur” jelasnya lagi.

”Tidak masalah, terima kasih sekali sudah boleh menumpang” kata Jayadi

Tidak begitu lama mereka duduk-duduk dibawah pohon rindang di komplek imigrasi Tanjung Kupang. Tidak beberapa lama assisten supir atau kernet truk yang ditunggu sudah kembali dari Toilet yang kalau di Malaysia toilet dinamakan Tandas. Jayadi dan Dewi menumpang diatas bak terbuka truk. Tidak ada tempat yang cukup untuk mereka berdua di depan dekat supir yang hanya cukup untuk tiga orang saja. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan juga membosankan, tidak ada yang bisa dilihat sekeliling. Mereka hanya bisa merasakan matahari dengan sinarnya yang menyengat dan melihat langit dengan awan berbaris yang terbawa arahnya angin.

==================

”Bangkit, pak! Kita sudah tiba!” tiba-tiba ada yang mengguncang-guncangkan tubuh Jayadi. Telah berdiri kenek truk telah berada didepannya berdiri tersenyum memperhatikan Jayadi yang belum terlalu sadar dari tidurnya.

”Ada dimana kita sekarang?” tanya Jayadi sambil memperbaiki duduknya

”Dewi….bangun, kita sudah sampai!” Jaadi membangunkan Dewi yang masih tertidur dipinggir badan bak truk. Dewi terbangun dan agak terkejut melihat Jayadi dan Kenek truk yang sedang memperhatikannya.

”Kita sudah tiba di Sungai Buleh, kita rehat (istirahat) sekejap dipemberhentian.” Lalu mereka turun dari truk dan mengeluarkan tas bawaan mereka. Rasanya kurang cocok mereka membawa koper menumpang dengan truk. Karena dalam keadaan terpaksa, merekapun harus melakukannya.

”Awak berdua bisa lanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan Bis, disini banyak bis. Biasanya mereka rehat disini!” Supir truk memberi petunjuk kepada Jayadi dan Dewi, apa yang harus melakukan untuk sampai ke Kuala Lumpur. Jayadi dan Dewi berterima kasih atas tumpangannya. Dia baru mengetahui kalau nama supir tersebut bernama Rasyid asli orang Malaysia dan keneknya bernama Edi yang berasal dari Indonesia.

Tanpa disadari Jayadi dan Dewi, ada polisi patroli Malaysia yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Beberapa saat kemudian, sudah datang satu mobil sedan polisi lagi bergabung dengan polisi yang tadi mengawasi gerak gerik mereka.

”wi, barang-barang kita bawa terlalu menyulitkan kita bergerak” Jayadi mulai menggerutu

”jadi bagaimana, didalam koperku banyak perlengkapan-perlengkapan penting yang tidak mungkin ku buang” ujar Dewi. Lalu Jayadi membuka kopernya dan memasukkan sepotong pakaian kedalam tas ranselnya.

”Wi, barang-barang yang lain kita tinggal saja”

”ahhh…aku nggak mau ah!

”cobalah mengerti sedikit, kita masih harus ke Kuala lumpur. repot membawa barangmu yang banyak ini” mereka berdua memperhatikan koper yang ditangan Dewi yang memang lebih besar dari koper Jayadi.

”oke, kalau itu maumu” ujar Dewi kesal

”begitu dong sayang”

Lalu Dewi mengambil barang-barang yang mau dibawanya. Banyak juga yang mau dibawanya sehingga memerlukan koper Jayadi yang kecil. ”Lebih baik membawa koper kecilku ini, ketimbang koper besar milik Dewi” pikir Jayadi. Kemudian Jayadi menitipkan koper besar milik Dewi yang didalamnya terdapat pelengkapan miliknya dan Dewi yang mereka tinggalkan ke sebuah kedai makan disekitar situ. Lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu dan menjauh. Sementara polisi-polisi yang dari tadi mengawasi mereka mulai bergerak menuju kedai makan tersebut. Sampai disana mereka bertanya-tanya tentang koper itu. Lalu tiga polisi pun mulai berlari kearah Jaadi dan Dewi dan yang satu menjaga koper.

”Stop, Polis!” Teriak polisi. Teriakan polisi-polisi itu mengagerkan orang-orang sekitarnya, juga Jayadi dan Dewi. Melihat Polisi-polisi menuju kearah mereka sambil mencoba mengambil pistol yang ada disamping pinggang membuat Jayadi kuatir.

”Lari…..lari” Jayadi menarik tangan Dewi yang menarik kopernya dengan susah payah.

”Kalau mau selamat, lepaskan kopermu!” teriak Jayadi, Dewi langsung melepaskan kopernya. Mereka berlari sekencang-kencangnya. Tidak tahu arah tujuan. Mereka berlari melewati hutan-hutan pohon karet yang dikelilingi banyak belukar. Tidak terlihat ada jalan setapak. Mereka melewati sungai kecil. Mereka terus berlari dan tiba-tiba.

”berhenti…..!” teriakan seorang pria berdiri hanya berjarak 10 meter dihadapan Jayadi dan Dewi. Sambil berkacak pinggang dan tangan kanannya memegang sebuah parang. Satu persatu beberapa pria muncul dibalik semak belukar.

”Siapa kalian berdua?”tanyanya kepada Jayadi dan Dewi. Dari logat bicaranya, sepertinya dia bukan orang asli Malaysia dan mungkin dia adalah pemimpin pria-pria itu.

”Kami orang Indonesia! Kami turis!” Jawab Jayadi sambil memegang tangan Dewi yang bersembunyi dibalik pundaknya.

”Tunjukkan pasport kalian!” Pria yang memegang parang mulai mendekat. Dengan penasaran mulai memenuhi hasrat keinginantahuannya terhadap tamunya yang tidak diundang. Jayadi merogoh tasnya dan mengeluarkan pasportnya dan menunjukkan kepada pria tersebut.

”Ha…ha…ha, mereka saudara kita!” teriaknya sambil mengacung parangnya dan menunjukkan pasport jayadi kepada pria-pria yang lain.

”Selamat datang saudaraku….dikampung kami yang baru” satu persatu menyalami Jayadi dan Dewi.

”Ayo….mari ke gubuk kami” Pria-pria itu mengajak Jayadi dan Dewi. Dan ada perasaan lega dihati mereka setelah mengetahui bahwa pria-pria tersebut berasal dari Indonesia.

===================

Mereka berkumpul mengeliligi perapian. Ternyata cukup banyak juga orang-orang di hutan ini. Ada juga wanita dan juga anak-anak. Jayadi dan Dewi tidak menyangka ternyata didalam hutan ini ada suatu komunitas imigran dari Indonesia. Perkampungan yang mereka buat seperti perkampungan suku anak dalam di perdalaman Jambi. Rumah-rumah panggung sederhana yang hanya diikat dengan tali pisang dan beringin cukup kokoh bertahan.

Cukup lama mereka mengobrol tadi malam. Masing-masing orang bercerita tentang kampung kelahirannya. Mengenang masa kecil yang indah bersama teman-teman sepermainan. Kenangan yang terasa indah dikenang. Masa kecil memang sangat membahagiakan tapi setelah mereka dewasa, ada yang harus mereka wajib memikirkan. Ya! Mereka harus mencari penghidupan yang layak dan penghasilan yang cukup untuk diri mereka dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka ke Malaysia dengan nasib yang sama, tidak punya pekerjaan. Mereka bekerja apa saja disini tapi sayang mereka datang dengan cara tidak syah. Setiap saat lari kehutan untuk menghindari penertiban polis diraja dan rela, sukarelawan warga Malaysia yang selalu melakukan razia. Sehingga mereka membuat perkampungan sendiri serta tempat persembunyian.

”Bangun…bangun, ada razia!” teriakan orang-orang diluar sangat kerasnya sehingga orang-orang yang tertidur lelap. Jayadi yang tertidur karena kelelahan terbangun, dilihatnya Dewi sudah bangun duluan dan melompat keluar rumah panggung. Pemilik gubuk juga sudah tidak ada  didalam gubuknya.

”Ayo bang!” Dewi berteriak sambil mengambil tasnya yang terjatuh. Jayadi melompat keluar dan mereka berlari kearah orang-orang berlari. Dikejauhan terdengar gonggongan anjing dan suara pluit peringatan. Terlihat juga dari kejauahan lampu-lampu senter bergerak kesana kemari menerangi kegelapan malam yang menandakan bahwa bahaya datang mendekati para imigran.

Naas bagi mereka semua, ternyata hutan sudah dijaga dengan ketat. Sekeliling hutan sudah terkepung diberbagai penjuru. Kali ini mereka tidak bisa lolos. Satu persatu tertangkap. Rotan dan pentungan melayang ditubuh mereka. Wanita-wanita berteriak-teriak menangis histeris dan anak-anak menangis ketakutan. Jayadi dan Dewi pun mengalami nasib yang sama. Mereka berdua yang semula orang yang mempunyai pekerjaan terhormat, kali ini nasib mereka sama dengan para imigran-imigran Indonesia yang lain. Mereka dipentungi dan disakiti sebagai pendatang haram. Perjalanan mereka berakhir bersama saudara-saudara sebangsanya.

Jakarta , Juni 2009

Juli 16, 2009 Ditulis oleh fadlyrahman | CERPEN | | Belum Ada Tanggapan