HAJAT HIDUP BURUH TANAH DELI
HAJAT HIDUP BURUH TANAH DELI
Pada pertengahan abad 19, saat Sultan Deli mengundang pengusaha Belanda Jacob Nienhuys yang berasal dari Batavia. Kesepakatan kedua belah pihak untuk bekerjasama membuka perkebunan Tembakau dan Jacob Nienhuys mendapat hak pakai lahan seluas 2800 hektar selama 99 tahun secara gratis. Saat itu, Tanah Deli adalah negeri yang daun menjadi uang. Perkebunan ini membutuhkan tenaga Buruh yang banyak untuk mengurus segala keperluan perkebunan. Tenaga kerja dari India dan Tiongkok memenuhi lapangan pekerjaan ini. Kesuksesan Jacob Nienhuys mengundang para pengusaha Belanda lainnya untuk membuka perkebunan yang sama. Apalagi saat itu Tembakau merupakan komoditi yang paling bersinar dipasar pertanian Eropa. Kebutuhan Buruh semakin meningkat. Sehingga mereka memutuskan untuk menyalurkan tenaga kerja dari Jawa.
Pengusaha dan Penguasa semakin kaya. Buruh-buruh semakin sengsara. Upah yang didapat tidak sebanding dengan tenaga yang telah dikeluarkan. Bertahun-tahun tenaga mereka dikuras habis dan kesejahteraan dikesampingkan.
Kesengsaraan buruh menggugah para aktifis-aktifis kemanusian. Lewat tulisan-tulisan mereka, membuat pemerintah Hindia Belanda kebakaran jenggot. Tulisan mereka juga mengguncang negeri Belanda dan Eropa. Pada tahun 1860, Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan Multatuli menulis bukunya yang berjudul ”Max Havelaar” yang menceritakan kesengsaraan rakyat Hindia Belanda yang dipaksa bekerja untuk kepentingan pemerintah Belanda tanpa diberikan upah yang layak. Seorang Advokat Belanda Van den Brand, tulisannya yang berjudul ”Millioenen uit Deli” yang menceritakan nasib buruh-buruh perkebunan di Deli.
Kesengsaraan buruh-buruh perkebunan Deli juga menggungah perasaan kemanusian seorang guru yang mengajar anak-anak buruh tersebut di Perkebunan Senembah-Deli. Guru tersebut bernama Tan Malaka. Kenyataan yang dilihat diperkebunan tanah Deli menjadi beban pikirannya. Tan Malaka dengan pikirannya, menjalin hubungan dengan buruh-buruh kereta api, trem dan Perkebunan. Lewat tulisan-tulisannya di surat kabar terbitan Sumatera Tan Malaka memprovokasi para buruh untuk melakukan pemogokan. Tan Malaka berulang kali memimpin pemogokan buruh di Medan, Belawan dan Deli. Aksi mereka berhasil menaikkan upah harian buruh dari 40 sen menjadi 100 sen sehari.
Fadly Rahman
Jakarta, 28 Februari 2009
Sumber Tulisan :
- Emil, w Mulia, Berjuta-juta dari Deli, Satu hikayat Kuli kontrak, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006
- Indonesia Negeri Seribu Raja, Indonesia Book Series, Penerbit Foreseight
- Zulhasril Nasir, Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2007
-
Terkini
- BURUH DALAM ISLAM
- BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
- GEMPA MELANDA RANAH MINANG
- RANAH MINANG YANG RAMAI
- GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
- MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
- DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
- BERTEMU PRESIDEN
- RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
- PEMILU YANG ANEH!?
- PERGERAKAN BURUH DI INDONESIA II
- BIKE TO LOVE
-
Taut
-
Arsip
- November 2009 (2)
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
