BALAS BUDI
BALAS BUDI
”Tom! Ayo kita cabut!” ajak Arya
”Oke, tunggu dulu, Aku bayar dulu makanan kita” Tomi meneguk minuman terakhirnya seperti biasa dia tidak mau ada tersisa dari makanan atau minuman yang dia pesan, takut kualat katanya.
”Berapa Pak,?”tanya Tomi sambil mengeluarkan dompetnya dari saku celana belakangnya.
”Meja nomor brapa dik?”tanya bapak yang duduk dibelakang meja kasir yang sepertinya sipemilik rumah makan.
”Meja no 3 pak!”jawab Tomi
”Maaf dik, sudah dibayar wanita yang di nomor 6”jawabnya sambil menyodorkan bon lampiran yang berstempel lunas.
”Siapa wanita itu pak?” tanya Arya
”Saya tidak begitu mengenalnya, tapi dia sering makan di sini. Biasanya dalam seminggu ada sekali dia datang makan disini bersama teman-temannya”jelas bapak pemilik warung dengan lugas.
=====================
Sudah beberapa hari ini, Tomi makan di rumah makan ini. Keingintahuan tentang wanita yang membayar makanannya, membuat dia tidak ketinggalan satu haripun. Setiap hari dia menunggu dari jam 5 sore sampai jam 7 malam. Kata bapak pemilik warung, jam-jam itu wanita misterius itu datang makan di rumah makan ini. Wanita yang ditunggunya akhirnya mampir juga. Dia datang bersama 3 orang temannya, semuanya wanita. Sebelumnya Tomi tidak mengetahui wanita yang mana membayar makanannya. Bapak pemilik warung memberitahunya saat salah satu wanita meminta menu makanan. Wanita itulah yang membayar makanan Tomi. Wanita itu dipandangnya dan lama kelamaan, dia teringat sebuah peristiwa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Semasa dia masih duduk dbangku kuliah. Semasa liburan semester mereka pergi ke danau toba.
”Tolong…..tolong. Ada yang tenggelam” teriakan-teriakan beberapa wanita menggema menyadarkan pengunjung bahwa ada peristiwa penting yang perlu ditangani. Tidak ada yang berani menolong. Teriakan yang melemah menjadi tangisan.
”Byuuur…” Seseorang meluncur terjun ke air. Sesekali muncul kepermukaan. Setelah beberapa kali menyelam, kemunculannya terakhir dengan menarik tubuh seorang gadis lalu menarikna ke pinggir danau. Teman-teman sigadis ikut membantu menariknya. Salah seorang temannya memberi nafas buantan dan yang lain memompa dada sigadis.
”uhuk…uhuk”Gadis itu mulai tersadar namun nafasnya masih satu satu. Teman gadis itu berterima kasih kepada sang penyelamat sebelum pergi meninggalkan mereka. Gadis yang diselamati memandang penyelamatnya sampai menghilang dibalik lalu lalang pengunjung.
”dik, wanita itu sudah selesai makan dan meminta bonnya” bapak pemilik rumah makan mengejutkannya. Lalu Tomi menulis di selembar kertas dan memberikan kepada pemilik toko. Tomi pun membayar makanan siwanita dan teman-temannya lalu meninggalkan rumah makan itu.
Pelayan rumah makan memberi bon yang sudah dibayar dan selembar kerta kepada wanita itu. Wanita itu terkejut bahwa bonnya sudah dibayar lalu dia membuka selembar kertas itu dan membaca ”Terima kasih sudah membayar makananku minggu lalu. Hari ini aku yang membayar bonmu. Aku ikhlas menolongmu tempo hari. Sampai bertemu kembali.” Wanita itu melihat sekelilingnya, mencari pengirim surat ini. Perubahan wajahnya yang cantik terlihat, dia merasa belum bisa membalas kebaikan sang penyelamat. Bukan berarti dia telah membalas budi hanya dengan membayar makanan menyelamatkan hidupnya 10 tahun lalu. Tapi dia ingin membalas kebaikan sang penyelamat hidupnya walaupun sekecil debu.
Jakarta, 21 September 2008
SALESMAN KARTU KREDIT
SALESMAN KARTU KREDIT
”Maaf ya! Saya tidak butuh”
”Ini saya beri gratis bunga 0% selama setahun lho!”
”Sudahlah, Anda jangan mendekati saya lagi. Aku benar-benar tidak butuh” Kandar sudah mulai kesal dengan tingkah laku salesman kartu kredit itu. Kandar berusaha menghindarinya. Salesman kartu kredit itu tetap berusaha merayu Kandar dengan bermacam promosi yang diberikan. Salesman itu juga dengan gampangnya memberikan payung yang ada ditangannya apabila Kandar mau mengisi formulir yang disediakannya.
Sebulan yang lalu, pekerjaan Kandar di kantor terganggu dengan deringan suara Handphonenya. Setelah diangkat ternyata Salesman Kartu kredit menawarkan produknya. Kandar membentaknya saat itu juga. Salesman itu minta maaf dan langsung menutup teleponnya. Kandar berpikir dari mana Salesman itu tahu nomor Hpnya, sepengetahuannya dia nggak pernah memberikan no Hp ke sembarangan orang apalagi dengan Salesman kartu kredit. Rasa penasarannya terjawab disaat Salesman kartu kredit yang lain meneleponnya. Kali ini Kandar tidak membentaknya, Kandar justru menanyakan darimana Salesman itu mendapatkan nomor Hpnya. Salesman itu menjawab bahwa nomor Hp Kandar sudah tercantum didalam daftar peminjam kredit sehingga seluruh perusahaan kredit mengetahuinya. Kandar baru ingat bahwa dia pernah kredit sepeda motor tiga tahun lalu. Mungkin informasi dari perusahaan kredit sepeda motor itu no Hpnya diketahui orang lain terutama perusahaan kartu kredit.
====================
Kandar sudah tidak bekerja selama 6 bulan. Kandar keluar dari perusahaan yang dia sudah bekerja selama 8 tahun. Kandar tidak cocok dengan bos barunya itu. Kandar perlu uang untuk membayar hutang-hutangnya. Masalahnya sekarang, Kandar mempunyai kartu kredit. Bagaimana bisa! Lima bulan sebelum dia keluar, Kandar ditawarin kartu kredit tapi kali yang menawarkan spesial bukan seorang salesman tapi salesgirl. Iya, seorang wanita dapat menaklukan kekerasan hati Kandar dengan menawarkan kartu kredit. Wanita itu cantik menurut Kandar. Hanya lima belas menit Kandar takluk dibuatnya. Kandar merasa beruntung karena wanita itu sebulan kemudian menjadi pacarnya. Sayangnya, hubungan mereka hanya tiga bulan. Selama mereka pacaran, Kandar telah banyak berkorban untuk wanita ini. Berbagai macam hadiah yang diberikan untuk pacarnya. Uang gajinya habis begita saja selama seminggu. Kartu kreditpun jadi andalannya. Tidak terasa hutang bertumpuk tanpa bisa dibayarnya secara keseluruhan. Setelah Kandar keluar dari pekerjaannya, dia dicari-cari penagih hutang kartu kredit. Mau tidak mau dia harus mencari pekerjaan lainnya secepatnya.
Kini Kandar sudah bekerja. Temannya yang bekerja di sebuah bank swasta menawarkan pekerjaan untuknya. Bank tersebut membutuhkan Salesman untuk memasarkan kartu kredit. Karena desakan hutang-hutangnya sudah jatuh tempo, Kandar terpaksa menerimanya. Tidak ada perusahaan lainnya yang mau menerima Kandar karena dia hanya tamatan SMA.
”Kartu kreditnya pak!” Kandar menyodorkan formulir kartu kredit ke pengunjung Mall.
”Sudah Ada dik!” pengunjung itu menepis tangan Kandar. Tapi Kandar terus mengikutinya dari belakang seperti nasibnya yang sekarang berada dibelakang.
Jakarta, 14 September 2008
KAU MASIH SENDIRI
KAU MASIH SENDIRI
”Junaidi!” Rahmi terkejut sedikit berteriak. Dia nggak menyangka akan bertemu Junaidi di Plaza satu-satunya di kota ini. Tempat yang dulu selalu mereka kunjungi. Pertemuan ini membuat hati Rahmi berbunga-bunga. Ada sedikit yang menganggu pikirannya. Rahmi melihat seorang wanita cantik persis dibelakang Junaidi yang sdang memilah-milah baju yang akan dibelinya. Wanita itu sekali-sekali menatap kearah Junaidi.
”Assalamua’alaikum Rahmi” Sapa Junaidi dengan senyum mengembang
”Wa’alaikum salam”Rahmi menjawab dengan nada yang bergetar.
”apa kabarmu Rahmi” Tanya Junaidi singkat
”Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Gimana dengan engkau? Jawab Rahmi dan membalas bertanya.
”Kau lihat aku sekarang, Aku sehat kan! Suamimu mana?” pertanyaan Junaidi ini membuat Rahmi terkejut.
”Belum….belum. aku belum menikah! Jawab Rahmi cepat
”Bukannya kau sudah menikah?” tanya Junaidi kembali. Kali ini suara Junaidi yang bergetar. Wajahnya tampak berubah.
”Hampir! Tapi nggak jadi!” Rahmi tertunduk menahan malunya. Junaidi menatap tajam kewajah Rahmi yang semakin tertunduk mendalam. Tiga tahun yang lalu, Junaidi dan Rahmi adalah sepasang kekasih. Mereka selalu bersama-sama, seakan-akan mereka tidak akan pernah berpisah. Setelah beberapa tahun mereka pacaran, terjadi peristiwa yang tidak mereka duga. Perjodohan yang banyak terjadi dimasa lalu tetapi terjadi pada mereka. Rahmi dijodohi orang tuanya dengan anak laki-laki sahabat ayahnya. Rahmi tidak bisa menolak karena saat itu ayahnya sakit-sakitan. Perjodohan itu membuat Junaidi pergi dari kota kelahirannya pergi ke Ibukota. Sebagai karyawan di perusahaan swasta, Junaidi minta pindah. Walau pun diibukota jabatannya turun, Junaidi menerimanya asalkan tidak bertemu dengan Rahmi lagi. Perlahan-lahan, luka hatinya sembuh walaupun masih berbekas. Junaidi bertemu dengan Sheila kekasih hatinya sekarang. Bersama Sheila yang cantik, kehidupan Junaidi yang terpuruk mulai normal lagi. Junaidi melupakan Rahmi dan sudah mengihlaskan pernikahan Rahmi. Setelah tiga tahun tidak pulang kampung, Junaidi dan Sheila pulang ke kota kelahiran Junaidi. Dia pun ingin memperkenalkan Sheila kepada orangtuanya. Ingin minta persetujuan menikah dengan Sheila. Hari ini dia bertemu dengan Rahmi. Kekasih hati yang dulu. Sebelum bertemu Rahmi, hati Junaidi hanya untuk Sheila. Saat bertemu juga hatinya masih untuk Sheila. Setelah mendengar Rahmi belum menikah tiba-tiba hatinya mulai terganggu. Junaidi jadi ingin mengetahui apa yang terjadi selama dia tidak ada.
”Hai juned! Kenapa diam saja” Juanidi dikejutkan dengan tepukan tangan Sheila.
”Hey iya. Aku lupa! Sheila ini Rahmi temanku!” Junaidi memperkenalkan Sheila kepada Rahmi. Sheila mengulurkan tangannya dan Rahmi menerimanya.
”Ayo kita lanjut ngobrolnya di Food Court atas, tidak enak berbicara sambil berdiri disini!” Ajak Sheila lembut.
”Baiklah! Ayo Rahmi ikut kami” Junaidi mengandeng tangan Sheila. Rahmi tidak beranjak dari tempat dia berdiri.
”Tidak usahlah, aku ada urusan yang lain. Lain kali saja ya!”Rahmi menolak ajakan mereka.
”Aku permisi dulu, Assalamu’alaikum” Rahmi meninggalkan mereka berdua. Junaidi menatap Rahmi yang berjalan disela-sela kerumunan orang-orang.
===================
Rasa penasaran Junaidi akan cerita peristiwa yang terjadi selama dia pergi ke Jakarta. Beberapa teman di temui tapi tidak ada yang tahu peristiwa tersebut. Hanya satu nama lagi yang diingatnya yaitu Maryam sahabat Rahmi.
Tok..tok..tok. ”Assalamu’alaikum” Junaidi mengetuk pintu rumah Maryam, dia memperhatikan kedalam melalui sela-sela jendela. Dilihatnya ada yang datang. Pintu dibuka, muncul wanita seumurannya yang keluar.
”Maryam apa kabar?”tanya Junaidi
”Hai, Junaidi?” Maryam terkejut tamunya itu adalah Junaidi. Sudah lama dia tidak bertemu Junaidi. Tidak banyak yang berubah dari Junaidi. Hanya sekarang dibawah wajahnya terlihat tumbuh janggut yang terawat rapi.
”Ayo, silahkan masuk” ajak Maryam
Lama mereka terdiam, tidak ada yang keluar sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.
”Mar, aku ingin bertanya tentang Rahmi” Junaidi membuka pembicaraan.
”Aku mau tahu tentang tidak jadinya Rahmi menikah!” Maryam menatap Junaidi dengan tajam. Berat hati Maryam untuk mengungkapkan peristiwa suram sahabatnya. Suasana kembali sepi.
”Rahmi tidak jadi menikah karena calon suaminya tidak datang saat pernikahan mereka” Kata Maryam langsung menjawab kepokok pertanyaan. Junaidi terkejut mendengar jawaban Maryam yang singkat tapi padat itu.
”Calon suaminya tidak mau menikah dengan Rahmi karena dia sudah mempunyai pilihan sendiri. Calon suaminya itu tidak mau dijodohi. Akibat peristiwa tersebut Ayah Rahmi semakin parah penyakitnya. Beberapa bulan kemudian beliau meninggal dunia.”
Junaidi tertegun mendengar cerita Maryam. Junaidi menyesali begitu cepat dia mengambil keputusan untuk meninggalkan Rahmi dan kota ini. Ada rasa kasihan terhadap Rahmi. Ingin rasanya Junaidi menghibur Rahmi. Benih-benih cinta lama kembali tumbuh dihati Junaidi. Kebimbangan mulai terlihat di wajah Junaidi. Dihatinya ada dua cinta. Satu Rahmi dan satu lagi Sheila.
Jakarta, 06 September 2008
-
Terkini
- BURUH DALAM ISLAM
- BAHASA INDONESIA YANG (MULAI) DITINGGALKAN
- GEMPA MELANDA RANAH MINANG
- RANAH MINANG YANG RAMAI
- GREAT JAKARTA MUP JUARA TENIS MEJA 2009
- MENUNGGU TEMAN YANG TAK DATANG
- DIBAWAH BAYANG-BAYANG IMIGRAN GELAP
- BERTEMU PRESIDEN
- RAPAT ANGGOTA TAHUNAN KOPERASI KARYAWAN KELOMPOK GOBEL
- PEMILU YANG ANEH!?
- PERGERAKAN BURUH DI INDONESIA II
- BIKE TO LOVE
-
Taut
-
Arsip
- November 2009 (2)
- Oktober 2009 (1)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- Mei 2009 (2)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (1)
- Januari 2009 (1)
- Desember 2008 (2)
- November 2008 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
